
"dhinda.. " aldo berjalan ke arah dhinda dan langsung memeluknya erat.
"maaf kan papa nak! "
"lepas!!.. " ronta dhinda dengn meminta lepas, namun di abaikan oleh aldo, sungguh dia kangen sekali dngn anaknya.
"engk!.. sebelum kamu memaafkan papa"
"jangan buat aku marah y!!.? " kata² dhinda membuat clista ikut meminta aldo melepaskan nya namun di abaikan begitu saja.
"lepas!!.."
"engk!.. "
brukk..
dengn kuat dhinda mendorong aldo hingga tersungkur di ke bawah, dengn tatapan sedih aldo berkata.
"knp kamu mendorong papa nak?.. "
"ck.. aku dah blng lepaskan?.. tpi kau mengabaikan nya.. itu salah dirimu sendiri, dan mulai sekarang gk usah jumpai dhinda lagi.... apa menurut mu aku menganggap mu itu ayah ku?... oh maaf anda salah.. setelah kejadian² yg engkau buat.. aku!!.. dhinda.. tak menganggap atau berharap bisa bersama mu lagi..apa anda paham tuan aldo yg terhormat!!.."setelah kata² dhinda lontarkan dengn cepat iya menutup mobilnya dngn kuat.
sedangkan aldo menatap tak percaya dan semakin merasa bersalah dia memang pantes di benci oleh anak nya sendiri, mungkin ini balasan apa yg ia lakukan.
rifqi membantu aldo yg bener² tersungkur dan bahkan di sikunya sudah lecet akibat benturan aspal itu, clista?.. jangan di tanya dia masih tak percaya adeknya aku sengamuk ini, dia bahkan hnya menghela nafas dengn berat.
"pa!!.. maaf kan dhinda seperti itu, mungkin dia bener² marah sama papa, tolong papa maklumin y!! " aldo hanya membalas anggukan pelan dia tau diri dia juga yg salah selama ini.
"sebaiknya papa masuk!.. dan jangan lupa di obati mungkin kami langsung pergi saja, melihat dhinda dengn suasana tidak baik sekarang" ujar rifqi perhatian, walaupun dia tau klau aldo tidak peduli sama anknya tpi kini rifqi bisa jelas menangkap penyesalan dia mata itu.
"hemm, maafkan papa sekali lagi nak, dan mohon jaga anak² ku rif! "rifqi mengangguk lalu aldo memeluk clista dan rifqi sebentar lalu masuk kembali ke apartemen dengn ke adaan yg lemes dan bahkan air matanya sudah mengalir sedih.
" ayok masuk! "ucap rifqi pada clista.
" hem.. "clista.berdehem sambil mengotak atik ponsel.
__ADS_1
" jaga papa ku bay, aku tau kau ada di sekitar sini"
sontak orang sebrang hampir saja jatuh dari pohon karna tiba-tiba mendapatkan chat seperti ini.
"baik nona"
"nona sangat hebat, dengn keadaan menegangkan masih bisa mengawasi keadaan sekitar, ku kira tak ketahuan eh.. tebakan ku salah"
di dalam perjalanan satu pun tak ada yg membuka bicara bahkn senyap sekali, clista sengaja dia karna tidak mau membuat dhinda semakin marah, mungkin setelah emosi dhinda sudah mereda barulh dia akan bicara baik².
flashback off
"apakah aku salah membenci papa?!.. " dengn serak dhinda mengatakan itu, pandangan yg tak beralih sama sekali dari rembulan indah itu, bahkan hari sudah larut waktu nya istirahat namun tidak dengn dhinda masih saja termenung dengn angin dingin yg menerpa tubuhnya.
"apa itu!? " dhinda membesarkan kedua bola matanya untuk melihat dengan jelas apa yg ia lihat, bayangkan hitam.
karna penasaran dan tampa takut dhinda keluar dari asramanya dengn mengikuti bayangan hitam itu entah menuju ke mana, entah knp kali ini dia tidak takut sama sekali.
sisi lain...
"bagus.. bawa dia ke luar, dan pastikan tidak ada yg mengetahui nya"
"baik"
...************...
"ku pastikan kali ini aku akan berhasil.. hahahah!!! " tawa yg mengerikan terdengar di sebuah gudang yg hampir ambruk itu
...*************...
"knp blm tidur juga!! " kaget rifqi dia baru pulang karna tdi ada urusan di perusahaan nya membuat nya telat pulang, dia sengaja perlahan-lahan melangkah kaki nya agar tidak membangunkan clista yg mungkin sudah tidur, tpi baru saja di depan pintu sudah di sunggukkan oleh clista yg memegang leptop nya.
"blm bisa tidur us ay" sambil menciumi punggung tangan rifqi yg baru sampai, dia memang blm bisa tidur entah knp perasaan nya tak enak seperti ini.
"knp!? "
__ADS_1
"sebaiknya ay bersihkan badanya dulu, biar clista ambil baju ganti" clista menyuruh rifqi tampa menjawab pertanyaan nya suaminya itu.
rifqi pun hanya mengangguk dan mengecup kening clista sebentar lalu pergi menuju ke kamar mandi, dia pun sudah gerah dari tadi memutuskan untuk mandi, sedangkan clista menuju ruang ganti untuk mengambil pakaian tidur rifqi.
selesai mandi rifqi terlihat segar dengn tubuh yg Atlantis dan hanya di tutupi oleh handuk yg melingkar di pinggangnya.
"mana pakaian ay dek?.. "
"ay gk punya pakaian tidur? " bukan jawab malah balik tanya.
"gk punya!.. "sambil mendekati clista yg kini hanya memegangi kau oblong dan boxer saja.
" clista cuman dapet ini di lemari.. "sambil menunjukkan barang yg ia dapat.
" iya emang itu"sambil mengambil nya dan tak lupa membelai rambut cantik clista.
"kok aku baru sadar selama ini ustadz gk pernah pakek baju tidur.. ahh.. serah lh" dengn menghampas tubuhnya ke kasur dengn ke adaan telentang, pikiran clista sepertinya punya masalah, apalagi hatinya yg dari tadi tidak enak.
"dhinda!!!.. " clista tersentak langsung bangun dengn kering yg sudah mengalir di pelipis nya.
rifqi yg emng blm tidur walaupun udah malam gini pun ikut tersentak kaget dan langsung menuju ke arah clista yg terduduk di ranjang itu.
"ada apa sayang!? " dengn khwatir rifqi memeriksa clista dan memeluknya untuk menenangkan clista yg gelisah.
"hanya mimpi buruk.. " jawab clista sambil mengatur nafasnya yg tadinya memburu.
"hem.. yaudah jangan di fikirkan, yok tidur lagi" sambil membawa clista tidur dengan rifqi memeluk nya.
"us ay kok blm tidur!! " tanya dengn sudah di dekap oleh rifqi.
"ada urusan sedikit, yaudah tidur lah.. jangan di fikirkan mimpi tadi" sambil membelai rambut clista dan sesekali mengecup nya.
clista tak menjawab namun dia memejamkan kedua matanya.
"semoga ini hanya mimpi buruk saja"setelah membatin itu clista pun terlelap entah lah dia merasa nyaman bila seperti ini, tidak membuat nya gelisah seperti saat tadi.
__ADS_1
" sebenarnya apa yg kamu mimpikan sayang, knp menyebutkan nama dhinda"karna merasakan tidak mendapatkan jawaban ia pun ikut tertidur deng lelap, mungkin karna capek seharian kerja jadi membuat nya langsung tertidur apalagi tidurnya dengan memeluk clista, semakin lelap lh ia.