Gadis Cuek & Ustad Tampan

Gadis Cuek & Ustad Tampan
-88


__ADS_3

"put?.. itu bocah knp? setelah datang ke sini dia murung sampai sekarang? "


"ah.. entah lah isma aku pun tak tau engk biasanya dhinda seperti ini " putri


mendesah pelan dengn perasaan gusar melihat dhinda yg masih asik termenung di dekat jendela luar.


"benar seperti nya ada sesuatu yg terjadi!..tadi pun aku melihat dhinda seperti marah pada kak clista kan? " putri mengangguk membenarkan ucapan isma, karna dia melihat sendiri selepas sholat isya kak clista yg memanggil dhinda namun dia abaikan nya, membuat clista dengn mau tak mau memberhentikan nya.


walaupun putri dan isma tidak tau pembicaraan mereka namun terlihat bahwa dhinda sedang menahan marah dan bahkan langsung pergi dari situ dengan menyisahkan clista yg masih mematung melihat kepergiannya.


"sebaiknya kita kesana"


"aku takut nanti membuat dhinda semakin marah" ujar putri yg bener² takut dhinda mengamuk, dia tau kawan nya satu itu klau mengamuk sangat lh ngeri.


"tpi kita tidak bisa membiarkan dia seperti itu, siapa tau dhinda akan cerita tentang masalahnya"putri pasrah mengikuti isma yg menuju ke arah dhinda yg tidak jauh dari mereka.


" dhin?.. ngapain di sini?.. yok tidur... ini udh malam loh"pertanyaan putri di abaikan oleh dhinda yg kini masih fokus pada bintang² di langit.


"iya dhin.. yok kita tidur besok.. apakah kmu blk ngantuk? " lagi² ucapan isma di abaikan, bahkan dhinda seperti tidak merasakan ada orng di belakangnya.


"dhinda.. " dengn kesel isma menyentuh bahu dhinda karna merasa di abaikan, namun tangan isma langsung di tepis dengn dhinda langsung berbalik menatap mereka berdua.


"tak bisakah kalian berdua jangan ganggu ha..!!! " bentak dhinda membuat mereka kaget bukan kepalang dan hampir terjungkal ke belakang karna kaget.


"kan aku udah bilang klau dhinda ngamuk ngeri, matilah kali ini kita is.. "putri hanya bisa membatin ketakutan, bahkan ia sampai memejamkan mata nya sangking takut+ kaget.


" ehh.. busett ni anak serem amat"isma juga kaget mendengar bentakan dhinda itu.

__ADS_1


"hehe.. maaf ya dhin klau kami ganggu" cengengesan isma mencairkan suasana dan tampa aba² langsung menarik putri dengn cepat menuju kasur masing-masing, meninggalkan dhinda yg kini menatap mereka tajam, sama persis tatapannya yg clista tunjukan untuk musuh²nya.


"kan ngamuk tu bocah, gara-gara kamu tuh" bisik putri menyalahkan isma.


"eh.. enak aja, kamu tuh" isma tak Terima walaupun dia yg salah.


"udah salah gk ngaku lagi.. ck.. " desis putri kesel.


"apa kau bilang!!!.. "


"berisik..!!!. " sentak dhinda tiba tiba, membuat ke dua orng itu yg sedang berdebat pun langsung bungkam.


putri dan isma mengintip di balik selimut nya, apakah dhinda masih menatap mereka atau tidak, karna jarak dari kasur ke dhinda tak lah jauh.


"fiuh.. sebaiknya kita tidur saja, jangan ganggu dhinda, seperti dia banyak pikiran" ujar putri pelan bahkan hampir tak terdengar karna takut dhinda marah lagi.


karna tak mau mengganggu dhinda mereka memutuskan untuk tidur, lagi pula waktu sudah malam juga, mereka pun tertidur meninggalkan dhinda yg melamun dengn pandangan mengarahkan ke luar.


"knp papa jahat, mama sama papa jahat sama dhinda hiks.. "dhinda menangis dalam diam dengn terus membatin kedua orng tuanya jahat padanya.


" apakah papa baru sadar sekarang!.. setelah istri dan anak Tiri papa itu mencampakkan mu ha!!!.."dhinda ingin sekali berteriak sekuat kuatnya hanya untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya, apa lgi mengingat ke jadian tadi membuatnya semakin benci.


...flashback...


"kakak, dhinda di mobil aja ya! " pintanya dengn memelas, sungguh dia belum siap bertemu dengn ayah nya lagi setelah hari pernikahan kakaknya.


"knp?.. "

__ADS_1


"dhinda gk mau! "


"gk bisa gitu dek, kita masuk yuk sebentar saja" bujuk clista sambil mencoba menarik dhinda pelan agar keluar dari mobil.


"gk mau!!. " tolak nya mentah-mentah.


dhinda terus menerus menolak bujukan clista bahkan rifqi pun ikut angkat bicara namun lagi² dhinda menolak keras.


"clista..rifqi.. "sontak panggilan itu membuat mereka berdua berbalik, sedangkan dhinda sudah melemparkan tatapan tidak sukanya.


" dhinda.. "aldo yang baru melihat dhinda di dalam mobil pun hanya bisa memanggil nya dengn nada lirih, apalagi saat mendapatkan kan tatapan tidak suka dhinda membuat nya menjadi sesak di dadanya.


" pa!.. "aldo menatap clista yg kini sudah sehat bahkan air matanya sudah mengalir, dia bahagia.. bahkan langsung memeluk clista erat.


" maaf kan papa nak!.. selama ini jahat pada kalian "aldo mengucapkan itu dengn nada penuh penyesalan, clista mematung yg tiba-tiba di peluk sekian lama nya kini dia di peluk lagi oleh seorang ayah yg dulu tak pernah peduli dengan nya, perlahan clista membalas pelukan itu.


" hm.. nyaman" clista seperti mendapatkan kenyamanan yg dulu dia tidak pernah dapat kan dari seorang ayah.


"clista udah maafin papa! " clista sadar mempunyai dendam tidaklah baik apalagi pada ayahnya sendiri.


"Terimakasih nak.."bahkan aldo berkali-kali mencium pucuk rambut clista yg tertutup hijapnya sebagai tanda sayang nya.


rifqi tersenyum melihat istrinya akrab dengn ayahnya, tapi tidak dengn orng yg berada dalam mobil yg kini mengepalkan kedua tangan nya dengn erat dan tak lupa tatapan yg sangat jarang ia tunjukkan bahkan hampir tidak pernah, sungguh ia benci dengn orng yg berani² nya memeluk kakak tersayang nya.


beberapa saat aldo melepaskan kan pelukannya lalu memandang ke arah dhinda, sungguh aldo sesak melihat dhinda seolah melihat nya adalah musuh.


"dhinda.. "

__ADS_1


__ADS_2