
Mama Della datang disaat operasi sudah berlangsung, tergambar jelas wajah cemas itu dari rauk wajah mamanya Della.
"Kenapa kakakmu bisa pendarahan Dell?" Tanya mamanya.
Della terdiam, kakinya bahkan bergetar sekarang.
"Kok diam?" Tanya mamanya Della kemudian melirik ke arah menantunya, "Raka... Kamu becus nggak sih rawat anak mama? Kok bisa Mala pendarahan?!"
Raka juga ikut diam sambil tertunduk.
"Maafin Della mah!" Tiba-tiba Della berucap.
"Kenapa malah minta maaf? Emangnya kamu salah apa sayang?" Imbuh mamanya tak mengerti.
"Ini semua karena Della! Della yang buat kakak emosi dan stres sampai kak Mala pendarahan!"
Mendengar pengakuan Della, Raka langsung melotot, dia panik sembari memberi kode agar Della tetap diam.
Namun Della hanya meliriknya sebentar dan dengan malas memutar bola matanya seolah-olah ia berkata kalau dia bakalan jujur pada mamanya.
"Sebenarnya... "
Krekk....
__ADS_1
Pintu ruang operasi terbuka, Ketiga pasang mata seketika tertuju pada sosok dokter yang keluar dari ruangan tersebut.
"Dokter! Dok... Bagaimana kondisi anak saya?" Tanya Mama Della dengan cemas.
"Operasinya berjalan lancar, pendarahannya juga sudah berhenti, namun pasien masih belum sadarkan diri!"
"Syukurlah...!" Mereka bertiga bisa sedikit bernafas lega sekarang setelah mendengar pernyataan itu dari dokternya.
...***...
Ketiga orang itu termasuk mamanya Della masuk kedalam, beliau menggenggam erat tangan Mala sambil menangis.
"Kenapa bisa jadi kayak gini nak? Kamu juga jadi kurus banget sekarang! Lihat tangan kamu, mama udah kayak pegang tulang berulang aja! Bangun dong sayang... Buka mata kamu!" Pinta mamanya.
Air mata mamanya Della terus mengalir disamping anaknya yang kini masih tak sadarkan diri.
Sekitar 3 jam mereka menunggu, terlihat tangan Mala perlahan bergerak, "ahh Mala... Kamu udah sadar nak? Mala... Kamu dengar mana nggak?" Ucap Mamanya namun sama sekali tak mendapat respon.
"Della! Cepet kamu panggil dokternya, katakan kalau kakakmu udah sadar!" Kata mamanya Della menyuruh dengan kantang.
"Biar aku aja Mah! Della... Kamu disini aja! Biar kakak yang panggil dokternya!" Kata Raka gantle.
Saat di periksa, perlahan-lahan mata Mala terbuka. Hal pertama yang ia cari adalah bayinya, matanya langsung melebar saat ia meraba perutnya yang sudah kembali datar.
__ADS_1
"Bayi... Bayi saya mana dok? Bayi saya mana? Kenapa bisa perut saya datar padahal saya belum waktunya melahirkan?" Ucap Mala langsung panik.
Aghhh... Ahhh...
Dia bergerak terus hingga membuat area perutnya terasa sangat sakit sekarang.
"Nak tenang dulu, bayi kamu masih hidup kok! Tapi dia lahir prematur! Makanya bayi kamu di masukin ke inkubator!" Kata mamanya.
Air mata Mala menetes, "bayi aku.... " Dia terdiam sejenak kemudian menatap Della dan Raka bergantian dengan begitu sinis, "Ini semua gara-gara kalian berdua! Bayi aku lahir prematur gara-gara kalian!!!" Jeritnya tak peduli dengan area perutnya yang sakit hingga membuat jahitannya terbuka.
"Jangan bergerak terus mbak!" Tegur dokternya namun terlambat, ada darah dari pakaian Mala diarea perutnya.
Dokter segera mengecek dan melakukan
Tindakan sebelum lebih parah.
Mamanya, Della dan Raka disuruh keluar lebih dari ruangan.
"Maksud kakak kamu tadi apa Dell? Kenapa kakakmu tadi bilang kalau gara-gara kalian dia harus.... "
Della langsung bertekuk lutut didepan mamanya yang membuat mamanya itu melotot hingga tak meneruskan perkataannya.
Della menangis sesegukan, "Iya mah... Ini semua terjadi karena Della.... "
__ADS_1
"Hah? Kok bisa?"
"Della hianatin kakak Mah... Della Della selingkuh sama kak Raka dibelakang kak Mala!" Ungkap Della.