Gairah Panas Kakak Ipar

Gairah Panas Kakak Ipar
BAB 50 : Mamanya Setuju


__ADS_3

Didalam kamarnya Della lagi-lagi menangis, kali ini dia tak bisa membendung air matanya, ada perasaan menyesal karena mengatakan hal itu namun dia tak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Nggakpapa Dell... Palingan kak Mala marahnya cuman sebentar!" Katanya pada diri sendiri.


Dalam keadaan terpuruk seperti itu, Della mengambil koper dari atas lemari. Tak peduli air matanya yang terus mengalir tanpa henti ia mengeluarkan semua pakaiannya.


Cepat-cepat ia packing kemudian rebahan lagi dengan mata yang sudah perih dan sembab.


Della hampir lupa untuk menelfon mamanya, dia barulah ingat ketika termenung kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak disamping bantal.


Jujur saja, Della takut menelfon mamanya dia takut mendapat respon seperti yang Mala tadi katakan.


"Apapun respon mama aku harus terima!"


Tekadnya.


Della benar-benar menelfonnya sambil memalingkan wajah ketika panggilan itu sudah berdering, rauk wajah cemasnya begitu jelas bahkan bibir Della terlihat sedikit bergetar.


"Haloo nak!" Pada akhirnya mama Della menerima panggilan tersebut.


"Iya mah, mama apa kabar?" Tanya Della mulai dengan pertanyaan umum dulu.


"Baik, tumben kamu nelfon? Kamu sama kakakmu nggak kenapa-napa kan?"

__ADS_1


"Kita disini baik-baik aja kok mah!"


"Ohh gitu, tapi kok kalian ini ganti-gantian nelfon mama sih? Tadi pagi kakakmu, sekarang kamu! Ehh tapi katanya kakakmu hamil Ya Dell... Ahh akhirnya mama bakalan gendong cucu hihi... "


Ungkap mama Della terdengar begitu antusias.


"Iya mah! Mah... Della mau ngomong sesuatu tapi mama harus janji nggak boleh marah!"


"Ehm? Emang kamu mau bicara sih Dell?"


"Mama janji dulu.... "


"Iya mama janji!"


"Hah? Buat apa? Emang kamu nggak betah tinggal bareng kakak kamu? Atau kamu ada masalah sama kakakmu?" Terka mama Della.


"Semua baik-baik aja mah, cuman Della fikir lebih baik Della ngekost aja, Della juga udah dapat kosan bagus kok mah! Dan juga Della udah packing semua pakaian Della!"


"Kok tiba-tiba gini sih Dell... Bukannya dari awal mama sama kamu udah sepakat? Dell... Ngekost itu butuh banyak biaya! Kita udah hidup susah lohh Dell... Masa sih kamu nggak mikirin itu semua!"


Della langsung terdiam mendengar itu semua, air mata yang mulanya kering kini mengalir lagi, "Mahh please... Kali ini biarin Della lakuin apa yang Della mau yah... Della mohon mahhh.... " Ucapnya sambil menangis.


"Please mahh.... Please.... Soal biayanya Della janji nggak bakal nyusahin kalian kok! Jadi Della mohon biarin Della ngekost mah... Della udah nggak mau lagi kayak gini aaaa.... Della juga capek mahh! Hati Della sakit!" Lanjutnya merintih sejadi-jadinya, dari awal Della tak mau bercerita tentang kondisinya tapi anak mana yang tahan untuk tidak bercerita pada ibunya?.

__ADS_1


Mungkin Della bisa menahannya jika itu adalah Mala tapi beda lagi kalau itu adalah mamanya.


"Kenapa Dell? Cerita sama mama! Kamu sakit hati karena apa? Putus cinta?" Tanya mamanya dengan suara pelan.


"Enggak mah! Della cuman capek! Jadi please ya mahh kali ini aja biarin Della! Kalau Della udah nggak sanggup tinggal sendiri Della bakal balik lagi kesini!" Pintanya memohon.


"Iya... Ya udah! Terserah kamu aja, tapi kamu jangan nangis kayak gini dong nak, mama jadi nggak tau mau ngapain! Mama jauh dari kalian jadi mama nggak paham! Udah yahh... Kamu ngekost aja!" Kata mamanya akhirnya setuju


"Makasih mama! Della sayang sama mama! Libur nanti Della janji mau pulang kampung! Soalnya Della rindu banget!" Ucapnya berubah manja.


"Iya nak! Terus kapan kamu pindah?"


"Besok mah! Jadwal kuliahku sore, jadi aku bisa pindah pas paginya!" Jawabnya cepat.


"Terus kakakmu gimana?"


"Kakak marah mah! Tapi nanti juga bakal bagus lagi! Ohh iyamah aku mau lanjut packing, nanti kita bicara lagi!"


"Iya sayang..."


Panggilan pun berakhir, ada perasaan sedikit lega setelah mendengar persetujuan dari mamanya.


Della sampai menghela nafas panjang sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


"Oke... Ini yang terbaik! Aku pasti bisa, semoga setelah pindah! Perasaanku juga lebih baik!" Gumamnya penuh Harap.


__ADS_2