Gairah Panas Kakak Ipar

Gairah Panas Kakak Ipar
BAB 88 : Pintu Diketuk Elisa


__ADS_3

Melihat wanita itu sejak tadi melamun, Mala seperti merasa Elisa sedang banyak beban fikiran, "Mbak kenapa? Lagi ada masalah ya?"


Elisa tersadar, "Hm? Enggak kok mbak! Saya nggakpapa! Suaminya udah mau kesini ya? Kalau gitu aku pamit mau check up ke dokter kandungan dulu ya mbak! Kalau masih sempat setelah periksa aku mampir kesini lagi!"


"Iya, makasih banget ya!"


Elisa keluar setelah membalasnya dengan senyuman, wanita itu menghela nafas berat saat baru saja menutup pintu.


"Kok suara suaminya mirip suara Raka sih? Apa firasat ku aja?" batin Elisa.


...***...


Raka kini sudah sampai dirumah sakit, dia langsung menuju ke kamar Mala dengan rasa cemas tersirat jelas dari wajahnya.


Clekkk...


Raka membuka pintu, lalu duduk samping istrinya, Mala dengan malas memandangi Raka.


Ia terus membuang muka saat mengingat kembali alamat tujuannya sebelum datang kerumah sakit ini.


"Sayang... Kamu kok bisa masuk rumah sakit sih? Gimana ceritanya?"


"Tadi aku pendarahan!"


"Apa!! Kok bisa? Terus gimana sekarang? Udah baikan? Bayi kita gimana? Baik-baik aja kan?"


"Aku malas bicara sama kamu! Kalau mau tau kamu bisa bertanya kedokternya langsung!"


"Lohh kok sikap kamu gini lagi sih sayang.... Please deh, aku nggak mau kita bertengkar disini, ini tuh rumah sakit! Lagian aku tanyanya baik-baik kok!"


Mala langsung memberinya tatapan sinis, "Kata dokter aku terlalu capek! Aku terlalu stress makanya aku pendarahan, terus kamu mau tau ini semua gara-gara siapa? Gara-gara kamu!!!" Katanya.


"Kok gara-gara aku lagi sih? Aku salah apa sama kamu??"


Mala langsung geram padanya, rasanya ia ingin melayangkan tamparan pada muka tebal Raka.

__ADS_1


Dia seperti ingin mengungkap semuanya tapi ini bukanlah waktu yang tepat bagi dia.


Alhasil Mala hanya bisa bungkam, dia memalingkan lagi wajahnya dari Raka sambil menahan emosi, jangan sampai ia stress.


"Kamu udah kasih tau Della kalau kamu masuk rumah sakit?" Tanya Raka.


"Enggak!"


"Kenapa?"


Mala tak membalasnya.


"Ya udah biar aku yang telfon dia!"


Raka langsung keluar dari ruangan tersebut, Mala yang menyaksikan itu, rasanya ia ingin langsung mencabut jarum infusnya dan menusukkkan pada Raka, "Bisa-bisanya dia keluar cuman karena mau telfonan sama Della! Apa seprivasi itu? Atau dia mau manggil-manggil sayang makanya dia keluar?" geramnya.


Setelah selesai berbicara Raka masuk lagi, " Kata nya dia masuk kesini, kalau gitu aku pergi jemput Della dulu ya sayang... Boleh ya!!"


"Harus kamu ya yang jemput dia? Nggak bisa naik ojek aja kesini?"


"Ya bisa sih, tapi sayang.... "


"Kok kamu mikirnya gitu sih? Masa Kamu cemburu sama adik kamu sendiri?"


"Cemburu kamu bilang? Hah! Buat apa? Aku cuman nanya kamu lebih mentingin Della dari pada aku? Kamu nggak mikir aku sama siapa disini kalau kamu yang pergi jemput dia?"


Seketika Raka langsung terdiam, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya udah! Aku telfon dia lagi. Terus suruh dia naik ojek aja kesini!"


Dia hendak keluar dari ruangan itu lagi, tapi Mala langsung berkata, "kamu mau kemana lagi?"


"Mau keluar nelfon Della sayang.... " Ucap Raka dengan suara pasrah.


"Kenapa harus diluar? Kenapa nggak disini aja? Atau ada yang kamu sembunyiin dar aku makanya kalau nelfon Della harus diluar begitu?"

__ADS_1


"Enggak gitu loh sayang! Okee aku bakal telfon Della disini di samping kamu, biar kamu juga dengar!!"


Dengan kasar Raka menggeser layar ponselnya, dia menekan kuat kontak Della lalu memnghubunginya.


"Halo Dell... Kakak nggak bisa jemput kamu yah! Karena nggak ada yang temenin kakakmu disini! Kamu naik ojek aja!" Kata Raka dengan terburu-buru seperti di kejar anjing gila.


"Lohh kok gitu sih kak! Tadi katanya mau jemput aku.... "


"Kamu berkabar aja kalau udah ada didepan rumah sakit!"


Raka bahkan mengalihkan pembicaraan agar Della tak bicara sembarangan, segera ia menutup panggilan itu juga.


Dia menoleh pada Mala, ternyata Mala menatapnya dengan tajam, "Udah kan!" Katanya.


"Buru-buru amat bicaranya!"


"Ya kamu maunya aku bicarain apa lagi sama adik kamu! Tapi kok bisa sih kamu cemburu sama Della! Padahal dia adik kandung kamu lohh!"


"Kamu tuli apa gimana sih? Kamu nggak denger tadi aku ngomong apa? Apa perlu aku ulangin lagi?"


"Aku dengar kok! Tapi aku nggak mungkin ngomong kayak gitu kalau sikap kamu nggak kayak berlebihan kayak gini!"


"Sikap aku emang kayak gini, kamu aja yang kurang peka!"


"Kamu selalu aja menyudutkan aku! Seolah-olah aku yang selalu salah!"


"Lahh emang kamu! Siapa lagi!" Ketusnya menjawab.


"Aku makin nggak ngerti sama kamu!"


"Aku nggak perlu di ngertiin!" Jawabnya lagi.


"Terserah!"


Keduanya tak lagi saling bicara, Raka duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


Tok...tok...tok....


Tiba-tiba pintu di ketut, Raka sontak menoleh matanya langsung melebar saat melihat wajah Elisa dari kaca transparan di pintu itu.


__ADS_2