
Della seperti kehilangan semangatnya saat tiba di kamsr kosnya, dia ingin mandi tapi melihat jam ternyata sudah jam 07.42.
"Sudah telat!" Gumamnya dengan sangat lemas.
Ia menjatuhkan diri diatas kasur dengan tangan telentang.
Tiba-tiba langsung menangis dengan sangat keras, sambil bergumam "Kenapa kak Mala jadi kayak gitu? Biasanya dia nyuruh aku sarapan dulu, biasanya lembut, nggak kasar kayak tadi huhu... Apa kakak udah tau? Tapi nggak mungkin!"
Dia tetap menyangkal apa yang ada difikirannya sampai-sampai Della bengong sembari menatap langit-langit kamarnya.
Pada saat yang sama Mala juga tidak membangunkan Raka, beberapa kali ia masuk kedalam kamar hanya untuk mengecek apakah dia sudah bangun atau belum tanpa ada niatan untuk membangunkannya.
Mala masih emosi, hingga dia berangkat bekerja dan meninggalkan Raka sendirian dirumah itu.
Salah satu alasan Mala tak ingin dia bangun karena Mala tak ingin memperlihatkan matanya yang membengkak.
Pada akhirnya Raka terbangun di jam 10. Dia sangat amat terkejut mendapati dirinya yang terbangun kesiangan.
Dengan perasaan sangat kacau ia mengacak rambutnya sambil mengumpat, "Si*lan! Kok Mala nggak bangunin aku sih? Ini udah jam 10... kalau aku pergi bekerja bisa-bisa aku dapat omelan dari boss! Ash.... Wanita itu!!"
__ADS_1
Dia mengambil ponsel, kemudian menelfon Mala, awalnya panggilan itu tak digubris olehnya apalagi selama bekerja dia tidak dibiarkan memainkan ponsel.
Kecuali dia diam-diam melakukannya.
Seperti kali ini, saat merasa ponselnya bergetar dari dalam saku, Mala langsung meminta izin buat ke toilet sebelumnya dia sudah memprediksi kalau Raka pasti akan menelfonnya.
Dalam toilet itu sudah ada 2 panggilan tak terjawab dan masih ada panggilan masuknya lagi, segera Mala menerimanya dengan tersenyum miring terlebih dahulu.
"Haloo kenapa sayang? Baru bangun ya? " Tanya Mala.
"Kok kamu nggak bangunin aku sih?"
"Ya harusnya sampai aku bangun lah sayang, kalau gini kan aku nggak bisa berangkat kerja!"
"Tadinya aku mau bangunin kamu sampai bangun. tapi kayaknya kamu kecapean banget deh semalam! Jadinya aku nggak tega sayang... Malahan aku penasaran, apa yang semalam kamu lakuin sampai kecapean ya? Ehh maksudnya sampai begadang!" Sindirnya.
"Kamu ngomong apasih?"
"Aku tau kamu dengar apa yang aku omongin! Atau apa perlu aku ulangin lagi?" Tegas Mala dengan dingin menjawabnya.
__ADS_1
"Enggak maksud aku tuh.... " Raka seketika tak tau harus menjawab apa, "aku nggak bisa tidur makanya aku begadang, kan gara-gara kamu juga yang marah-marah nggak jelas makanya aku kayak gitu!"
"Ohh jadi kamu nyalahin aku sekarang?!"
"Ya iyalah, emang mau nyalahin siapa lagi? Aku nggak bakalan begadang andaikan kamu nggak kayak semalam!!"
"Ohh aku kirain karena ada hal lain makanya kamu begadang!"
"Udah cukup kamu nuduh-nuduh aku sembarangan! Emang kamu nggak capek ya Overthinking nggak jelas kayak gitu?"
Mala langsung diam sejenak, dia menatap pintu toilet sembari menghela nafas, "overthinking itu urusanku, aku juga nggak bakal ngelakuin itu kalau aku nggak merasa ada yang berubah dari kamu! Udah yah... Aku malas berdebat aku mau lanjut kerja. Terserah kamu mau lakuin apa!" Katanya langsung mengakhiri panggilan tersebut.
Argh....
Raka dengan penuh emosi langsung melempar ponselnya diatas kasur, dia kembali mengacak rambutnyaa frustasi.
"Bisa-bisanya dia kayak gitu ke aku! Apa dia lupa kalau aku ini suaminya? Awas aja, aku bakalan kayak gimana kalau dia pulang nanti!"
Wajahnya memerah karena emosi, tangannya terkepal dengan begitu kencang bahkan urat di lehernya terlihat begitu jelas.
__ADS_1