
Elisa yang merasa kecewa dengan kelalaiannya sendiri lantas duduk di kursi tunggu sembari meratapi nasibnya setelah keluar dari ruang inap Mala.
Air matanya terjatuh, dia tak menyangka hubungan satu malamnya dengan Raka membuat dia hamil.
"Apa aku aborsi aja? Tapi aku nggak sanggup harus membunuh janinku sendiri! Terus aku harus gimana? Masa iya aku harus melahirkan tanpa suami? Gimana marah dan malunya orangtuaku nanti huhuh!"
Saat tengah sibuk dengan fikirannya sendiri, Elisa mendonggak dan seketika matanya melebar saat melihat Raka dan Della berjalan tak jauh dari hadapannya.
"Raka?! Cowok ba*ingan itu!!" Geramnya sembari mengepalkan kedua tangan.
Segera dengan cepat ia berdiri untuk menghampiri mereka, namun baru 3 langkah ia seketika berhenti, "Enggak! Aku nggak boleh gegabah! Aku harus tau dulu tujuan dia datang kesini!"
Alhasil Elisa mengikutinya dari belakang, dan tanpa sengaja ia melihat sesuatu yang lebih mengejutkan lagi.
"Lahh kok.... "
Dia kaget saat melihat Raka mengelus rambut Della, dia juga merangkul adik iparnya itu tapi kemudian Della tampak melepaskan rangkulan Raka, dan pada akhirnya dia hanya jalan bergandengan tangan.
__ADS_1
"Della beneran adik iparnya atau gimana sih? Kayak orang yang punya hubungan spesial aja!"
Terka Elisa yang melongo sembari berjalan.
Hingga mereka berdua terhenti di depan pintu kamar Mala barulah gandengan tangan itu terlepas lalu masuk secara bergiliran.
Sementara itu, Elisa membekap mulutnya yang menganga karena kaget, "Kenapa mereka masuk keruangannya mbak Mala? Apa jangan-jangan...."
Ia mempercepat langkahnya untuk melihat apa
yang terjadi, menjawab pertanyaan yang muncul Diotaknya hanya akan membuat Elisa semakin penasaran saja.
Raka tampak duduk di kursi samping ranjang Mala sambil mengelus rambut istrinya itu, Della juga terlihat khawatir pada kakaknya.
Semua itu sangat jelas dilihat oleh mata kepala Elisa sendiri.
"Jadi mbak Mala itu istrinya Raka? Dan Della adiknya mbak Mala? Terus yang aku tolong itu berarti istri sah dari pacarku? Orang yang udah berhari-hari aku cari ternyata.... "
__ADS_1
Dia tak menyangka dengan sebuah moment yang bisa di bilang sangat 'kebetulan'. Tapi apa daya, semua sudah terjadi.
"Jadi waktu dia jujur kalau udah nikah itu emang benar? Tapi kenapa pas setelah berhubungan baru kasih tau aku sih? Terus berarti pas malam itu mbak Mala juga udah hamil dong?!! Dia benar-benar pria brengs*k, bajing*an, maniak s*x! Jelas-jelas istrinya udah hamil besar tapi masih berani rayu aku! Enggak! Aku nggak boleh biarin ini terjadi lagi! Kasihan mbak Mala, dia harus tau kebenaran soal sifat suami bejatnya itu!" Gerutu Elisa yang sudah tak tahan lagi.
Dia memegang gagang pintu, bersiap untuk membuka pintunya, namun seketika muncul pertanyaan dalam benaknya.
"Tapi gimana kalau mbak Mala marah dan tuduh aku yang merayu suaminya? Apalagi sekarang dia udah tau soal kehamilanku? Ya ampun aku harus gimana sekarang?"
Dia berubah takut, apalagi melihat kondisi Mala yang saat ini juga tidak memungkinkan untuk mengetahui semuanya.
"Apa pas mbak Mala keluar aja dari rumah sakit terus aku kasih tau dia? Atau nggak usah kasih tau dia? Tapi aku juga butuh pertanggung jawaban dari Raka!!"
Elisa jadi bingung bagaimana ia ingin bertindak.
Dia memutar badannya, berjalan pergi meninggalkan ruangan Mala sambil menangis, "Aku nggak tega sama mbak Mala, mbak Mala kelihatannya orang yang baik! Aku nggak sanggup kalau harus menghancurkan rumah tangganya!"
Batinnya terasa sesak, dia seperti merasakan rasa sakit yang dirasakan Mala, bukan dia yang diselingkuhi tapi rasanya sangat sakit, lantas bagaimana dengan rasa sakit yang diderita oleh Mala?
__ADS_1
Elisa pergi menuju parkiran, dia menangis tersedu-sedu didalam mobilnya, "Arghh... Sial! Ini semua gara-gara Raka yang nggak cukup sama satu lubang!! Kenapa sih dia buta banget nggak bisa lihat kalau istrinya udah cantik! Baik lagi kenapa nggak setia? Kenapa harus rayu aku sampai hamil kayak gini?" Gerutunya.
Dia memukul setir mobilnya, "Kenapa juga aku bodoh sampai harus melayani nafsu bejatnya! Huhuh.... Aku nggak tau harus gimana.... " Lirih Elisa sambil menangis sejadi-jadinya.