
Setelah Elisa pulang, Mala keluar dari kamarnya, dia berjalan menuju dapur dan melihat mamanya sedang sibuk berkutat dengan pisau dapur.
Dia sekilas tersenyum tipis berjalan kesana dan memeluk mamanya dari belakang, "Mama masak apa hari ini?" Tanyanya dengan suara parau.
"Ehm.... Mama mau masak makanan kesukaan kamu! Ini udah hampir selesai sayang, kamu tunggu bentar yah!" Ucap mamanya.
"Iya, makasih ya mah!" Balas Mala.
Ia melepaskan pelukan itu kemudian kembali kekamar untuk rebahan lagi, Mamanya sangat prihatin melihat Mala. Hati ibu mana yang tidak sakit jika melihat anaknya seperti itu?.
Saat makanan tersebut sudah siap untuk di hidangkan, Mala dipanggil oleh mamanya didalam kamar, ternyata Mala tertidur awalnya mamanya itu tidak curiga namun setelah Mala dibangunkan beberapa kali namun tak mendapat jawaban sedikitpun mamanya langsung panik dan menyingkap selimut yang menutupi tubuh Mala.
Betapa kagetnya beliau saat melihat ada beberapa butir obat yang digenggam Mala ditangan kanannya.
"Ahh Ya ampun Mala! Apa yang kamu lakukan?" Jerit mamanya seraya mengecek obat tersebut yang ternyata adalah obat tidur.
Dengan tangan bergetar takut, mamanya segera menelfon ambulance agar Mala cepat diberi penanganan.
Saat tiba dirumah sakit Mala akhirnya dirawat lagi, kata dokter obat yang Mala minum kemungkinan ada 3 butir, mamanya menangis mendengar itu.
"Mama tau kamu nggak sanggup tanggung semua ini, tapi nggak gini juga caranya nak! Harusnya kamu cerita sama mama, bukannya kamu pendam semuanya!"
Beliau hanya bisa mengelus wajah Mala yang masih belum sadarkan diri, "Mala bangun dong! Jangan bikin mama tambah takut! Kamu kan tau mama ada penyakit darah tinggi, gimana kalau tensi mama naik? Kamu nggak mau kan mama sakit? Jadi tolong bangun nak!" Gumam mamanya.
Pada saat yang sama, Della tengah sibuk memasukkan semua pakaiannya kedalam koper dengan mata yang masih bengkak.
Dia berniat untuk pergi keluar kota, rasanya tak sanggup lagi bertemu ibu serta kakaknya, apalagi sebelumnya ia sudah tau kalau anak Mala meninggal dunia.
__ADS_1
Della sebenarnya pergi kepemakaman anaknya Mala namun dia hanya melihatnya dari jarak jauh sebab dia tak mau Mala serta mamanya melihat Della.
Dia takut, sungguh! kali ini Della benar-benar merasa seperti pengecut.
"Ini emang salah aku! Aku menghancurkan semuanya, harusnya aku yang pergi dari dunia ini bukan anaknya kak Mala! Aku sangat bodoh! Argh.... " Ia menjerit mengakhiri kalimatnya.
Dia kemudian menggenggam ponselnya melihat kontak kakaknya dilayar ponsel yang kini dengan ragu Della tekan.
Dia ingin sekali menelfon, tapi rasa takutnya lebih besar sekarang. Alhasil Della hanya mengirim pesan suara.
Mula-mula Della menarik nafas dalam-dalam, "Kak! Ini aku Della... Aku tau aku salah, aku juga tau kak Mala nggak bakalan mau maafin aku, jadi sekarang aku bakalan pergi sejauh mungkin biar kakak nggak lihat aku lagi! Aku menyesal kak! Aku nggak tau lagi harus gimana kedepannya, hidupku rasanya udah nggak ada tujuan lagi! Aku nitip salam sama mama ya! Aku juga minta maaf sama mama! Aku pergi ya kak! Jaga kesehatan kakak dan semoga kakak sama mama bahagia!" Tutur Della sambil menangis tersedu-sedu.
Pesan suara itu terkirim, Della menatapnya datar hingga beberapa menit kemudian tampak pesan suara itu tercentang biru, seketika tangan dan sekujur tubuh Della bergetar, ia benar-benar sangat takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dert... Dert... Dert....
"Ke-kenapa kak Mala nelfon? Apa dia mau ngomelin aku? Apa aku harus angkat atau nggak usah aku angkat? Aku... Aku takut!"
Della malah menjauhkan ponsel itu darinya hingga suara dering itu berakhir
Dert... Dert... Dert... Dert...
Ponselnya kembali berdering, kali ini Della dengan cepat menerima panggilan masuk tersebut.
"Ha-halooo kak.... "
"Ini mama, Kamu dimana? datang kerumah sakit sekarang! Kakakmu nggak sadarkan diri!"
__ADS_1
Seketika Della melotot mendengarnya.
"Kak Mala nggak sadarin diri? Kak Mala kenapa mah?"
"Nggak usah nanya! Kamu datang aja!" Jawab mamanya dingin kemudian panggilan itu langsung di putus oleh mamanya.
Della menyeka air matanya kemudian bergegas kerumah sakit setelah mendapat sharelock dari mamanya.
"Yah... Nggakpapa Dell... Kalau masih bisa diperbaiki, kenapa kamu harus pergi? Kamu harus bisa menghadapi dan menyelesaikannya!" Ucap Della pada dirinya sendiri.
Setibanya dia dirumah sakit, Della langsung memeluk mamanya sambil menangis, dia mengungkat semua keluh kesahnya walaupun mamanya tidak terlalu menggubris apa yang Della katakan.
"Aku minta maaf mah! Please maafin Della yah!" Kalimat itu terus keluar dari mulutnya tapi tetap saja mamanya masih bersikap dingin.
"Kamu harusnya minta maaf sama kakakmu bukan ke mama! Kamu lihat sendiri kan? Kakakmu belum sadar gara-gara dia minum obat tidur!"
Della kaget mendengarnya, "ini salah aku! Aku bakalan perbaiki semuanya mah! Aku janji!" Kata Della sambil memegang tangan Mala.
...TAMAT!!! ...
...****************...
...****************...
"Manusia memang sangat mudah membuat kesalahan, namun selagi masih bisa diperbaiki, kenapa tidak mencobanya lebih dulu? Berani berbuat harus berani menyelesaikannya!"
"Kadang mulut dan tindakan tanpa sadar melukai hati seseorang, mungkin bagi kita itu hal sepele tapi bagi orang yang mendengarnya bisa saja ia menjadi boomerang bagi hidupnya!"
__ADS_1