
Langit pagi hari begitu cerah, tampaknya hari ini akan menjadi hari yang panjang dan panas, Della melihat kopernya dan beberapa tas berjejer dibelakang pintu.
Mata sembabnya tak bisa tertutupi, dia tak pernah mandi, hanya saja setelah cuci muka dia lalu bersiap-siap.
Tak hanya itu Della menelfon Daniel untuk membantunya membawa barang-barang kekos-kosan yang akan ia tempati.
Saat membuka pintu kamar, Mala dan Raka yang telah bersiap-siap ingin pergi bekerja dikejutkan oleh Della yang menarik keluar kopernya.
"Dell... Itu koper buat apaan? Kamu mau kemana?" Tanya Raka.
"Kamu serius mau pindah? Della... Kamu sebenarnya kenapa sih? Kakak jadi nggak ngerti lagi sama jalan fikiran kamu!" Ucap Mala.
"Tadi malam kan Della udah bilang kak!" Sekanya.
"Tapi kamu nggak bilang bakalan pindah hari ini Dell.... "
Della sejenak terdiam, lalu berkata, "Yang jelas aku udah bilang kan kak!"
__ADS_1
"Kamu benar-benar udah berubah banget lohh Dell... Semenjak kamu udah aktif kuliah kamu udah bukan Della yang kakak kenal, apa ini pengaruh dari teman-teman kamu, iya? Kamu jadi keras kepala banget sekarang!" Ungkap Mala.
"Ini mutlak keputusan aku sendiri kak! Dan aku juga udah ngasih tau mama, mama setuju kok kalau aku ngekost!"
"Kamu pasti bohong!"
"Ngapain juga Della bohong kak? Nggak ada untungnya buat aku! Kalau kakak juga nggak percaya kakak bisa telfon mama!"
Pipp... pipp... Pipp....
Saat suasana menegang tiba-tiba suara klakson mobil terdengar dari depan rumah, "Kayaknya teman aku udah datang!" Ucap Della.
"Aku bakalan tanggung resikonya kak! Kak Raka cukup jagain kak Mala dan calon debay! Terus kak Mala juga nggak usah banyak fikiran karena itu nggak bagus buat perkembangan janin kakak!" Katanya pada pasangan suami istri itu.
Melihat Della yang terus menarik kopernya hingga melewati pintu membuat Mala mengepalkan kedua tangannya, dia lalu berjalan cepat kearah kamarnya. Tangis Mala pecah saat ia memikirkan adiknya itu, namun dia berusaha untuk tidak bersuara, biarkan saja tangisnya itu hanya akan menambah kesesakan hatinya.
Della mondar-mandir mengeluarkan semua barangnya kearah mobil yang Daniel bawa.
__ADS_1
Setelah semua barang sudah keluar Della hendak pergi ke kamar Mala namun sayangnya kamar tersebut terkunci dari dalam.
Tok... Tok... Tok....
"Kak! Kak Mala, aku pamit pergi ya kak! Kak Mala jaga kesehatan yah.... " Katanya sambil terus mengetuk pintu.
Dia kemudian pergi dan melihat Raka duduk di sofa ruang tamu sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
"Kakak tanya sekali lagi kamu yakin Dell? Kamu nggak ingat kejadian sebelumnya ya?" Tiba-tjba Raka mengungkitnya lagi, membuat luka yang hampir sembuh itu tergores kembali akan ucapan yang diingatkan oleh kakak iparnya sendiri.
Della berusaha tetap tenang, "Nggak ada hubungannya aku mau ngekost sama kejadian sebelumnya kak! Aku mau pergi sekarang yah... Please jagain kakakku kak! Jangan buat kak Mala nangis atau sakit hati yah.... " Pintanya.
"Dell... Sebelumnya kamu hampir di perkosa sama orang yang baru kamu kenal lohh... Kayaknya kamu emang usah lupa, perkosa lohh Dell... Ini bukan kejadian biasa lohh... Terus kamu mau ngekost sendiri gimana kalau ada Arya kedua?"
Della menghentakkan kakinya mulai geram, "Kak udah dong Please.... Kenapa kak Raka kayak sengaja ingatin aku soal trauma ku lagi kak? Aku udah nggak mau ingat-ingat itu, jadi tolong... Tolong banget kak Raka nggak usah bahas-bahas itu terus!" Tegasnya.
"Kakak cuman khawatir sama kamu Dell.... "
__ADS_1
"Aku bisa jaga diriku sendiri kak! Kak Raka cuman harus fokus ke kak Mala karena sebentar lagi kak Raka bakal jadi seorang ayah!"
Raka mendengus, ekspresinya mulai susah ditebak tapi yang pasti sepertinya dia tengah memikirkan sesuatu.