
Tanpa Della sadari sebelumnya, detak jantung yang awalnya masih normal kini berdebar-debar membuatnya merasa panas dingin.
"Ini apaan lagi sih maksudnya? Kenapa kak Raka selalu aja mau buat aku salah paham sama kata-katanya?" batin Della.
"Makasih banget kakak udah sayang banget sama Della, tapi please dong kak, jangan buat Della salah paham sama kata-kata kakak barusan!" Lanjutnya langsung berkata jujur.
"Kalau boleh jujur sebenarnya kakak sayang sama kamu melebihi adik ipar Dell!" Ungkapnya.
Kedua bola kata Della melebar, saat menyadari pegangan tangan Raka mulai melonggar barulah ia menarik tangannya keras-keras lalu menjaga jarak darinya.
"Enggak, ini salah kak! Kakak nggak boleh ngomong kayak gitu, kakak itu suami dari kakakku lohh! Masa kakak ngomong begini ke aku sih?"
"Emang salah ya Dell kalau kakak jujur soal perasaan kakak ke kamu? Kakak udah lama memendam perasaan kakak sama kamu Dell tapi kakak takut kamu.... "
"Terus ngapain kakak bilang sekarang? Della nggak bisa kak! Aku menghormati kakak sebagai kakak ipar aku, jadi maaf aku kayaknya nggak bisa membalas perasaan kakak!"
__ADS_1
Mendapat penolakan secara langsung tak membuat Raka marah tapi malah tersenyum miring, dia tampak aneh.
"Hm... Kamu yakin Dell?"
Della sejenak terdiam, beberapa kali matanya berkedip-kedip sambil ia memikirkan sesuatu, "Kak Raka lagi bercanda kan? Ini prank kan? Ya udahlah... Bilang aja prank... Ngapain juga aku percaya sama ucapan kak Raka tadi!" Ia sebenarnya mulai tidak nyaman.
"Ini bukan Prank Dell... Ini asli, perasaan kakak ke kamu juga asli. Kakak minta maaf karena kakak nggak bisa kontrol diri kakak sendiri untuk mencintai dua wanita sekaligus tapi kakak udah nggak tahan buat ngasih tau kamu Dell!" Ungkapnya.
Della menggelengkan kepalanya, "enggak... Ini nggak betul kak! Ini nggak boleh terjadi, harusnya kak Raka nggak boleh bilang kayak gini ke aku! Enggak kak!"
Huhu....
"Dell... Dell... Kamu nangis? Maaf kakak nggak bermaksud.... "
Belum sempat Raka menyelesaikan ucapannya Della langsung mendorongnya, "Jangan deket-deket aku lagi kak! Dan ini... Maaf, Della nggak bisa terima!" Dengan keras ia menarik gelang itu hingga putus lalu melemparnya ke Raka.
__ADS_1
"Dell... Kamu kok gini sih? Emangnya kamu nggak sayang sama kakak? Kamu nggak pernah gitu nyaman sama kakak?"
"Aku nyaman kak, nyaman banget malah. Tapi rasa nyamanku cuman sebatas kakak ipar, karena apa? Karena kak Raka pernah bilang sebelumnya kalau kak Raka mau gantiin posisi papa aku!" Tegas Della.
Wajah Raka langsung berubah datar saat itu juga, ia melangkah selangkah lebih dekat kearahnya tapi Della malah mundur.
"Dell... Kakak emang bilang kayak gitu, tapi bukannya Seorang ayah pasti menyayangi anaknya? Nahh awalnya kakak mau begitu! Tapi kakak nggak sadar kalau perasaan kakak udah nggak wajar lagi sama kamu!"
"Udah kak! Stop... Della udah nggak mau dengerin cerita kakak lagi! Aku minta maaf tapi aku benar-benar nggak bisa balas perasaan kakak! Karena aku sayang sama kak Mala dan aku nggak mau nyakitin perasaan kakakku!" Lirih Della.
"Kamu kok tega sih sama aku Dell?" Kata Raka dengan wajah sedihnya, "Setelah apa yang terjadi sebelumnya, dan kakak rela-rela sembunyiin semuanya dari kakak kamu, terus ini balasan kamu ke aku?"
Mendengar hal tersebut mulut Della terbuka sedikit, "Jadi selama ini kak Raka bukan ikhlas bantuin aku, iya?"
"Kakak ikhlas kok, cuman kakak nggak bisa aja terima kalau kamu kayak gini! Padahal kakak cuman minta satu hal sama kamu Dell... Jangan pikirin cowok lain selain kakak tapi kamu malah.... " Ucap Raka mengulangi kalimat sebelumnya.
__ADS_1
Kali ini Della lagi-lagi terdiam, jantungnya dari tadi berdebar kencang, kupingnya juga terasa memanas.