Gairah Panas Kakak Ipar

Gairah Panas Kakak Ipar
BAB 52 : Harapan Daniel


__ADS_3

Della sebenarnya menggerakkan gigi karena emosi, tapi dia harus menahan diri jangan sampai ada masalah baru lagi.


"Dell... Barangnya masih ada?" Tiba-tiba Daniel muncul disaat suasana menegangkan antara Raka dan Della.


"Ohh udah semuanya kok!" Katanya, "aku pergi ya kak!" Sekali lagi ia pamit pada Raka.


Saat mendengar suara mobil melaju, Tangis Mala yang mengurung dirinya didalam kamar seketika pecah hingga Raka mendengarnya.


Segera ia masuk kedalam kamar, rupanya Mala baru saja mengintip adiknya yang pergi dari celah gorden jendela kamarnya.


"Huhu... Sayang, Della benar-benar pergi, kenapa dia nggak mau tinggal sama kita lagi? Emang kita salah apa sama dia?"


Raka langsung memeluk Mala, sambil mengusap air matanya Raka juga mengelus kepala istrinya itu agar tenang, "Udah dong sayang... Della kan udah dewasa, doa udah bisa buat keputusan untuk dirinya sendiri!"


"Tapi aku khawatir!" Sekanya.


"Bukan kamu aja, Aku juga khawatir sayang... Tapi mau gimana lagi? Della udah nggak bisa di nasehatin lagi!"


Tangis Mala semakin menjadi-jadi, dia bingung harus bagaimana lagi sedangkan Della sudah pergi.


"Udah nangisnya yah... Kamu tenang aja, kita nanti kalau ada kesempatan bisa berkunjung kekosannya Della gimana? Sekalian kita beli rujak, kan semalam kamu bilangnya mau makan rujak kan?"


Mala mengangguk, "oke... Kita nanti berkunjung ke kostnya Della yah!"

__ADS_1


"Nahh gitu dong sayang! Terus gimana? Hari ini kamu mau masuk kerja atau gimana?"


"Masuk! Aku nggak mau sendirian dirumah, lagian kalau aku nggak masuk lagi nanti gajiku di potong! Kan kita harus umpulin uang buat persalinan nanti!" Tutur Mala.


"Iya sayang... Oke, sekarang kamu nggak boleh terlalu mikirin hal-hal yang nggak penting dulu, tapi tetap berfikiran yang positif biar anak kita juga baik-baik aja di perut kamu!" Ucap Raka lalu mengelus lembut permukaan perut Della yang masih datar.


...***...


Di sisi lain, Della juga menangis di sepanjang jalan, sampai-sampai Daniel merasa kasihan padanya.


Sambil menyetir Daniel beberapa kali memberikan tissue pada Della untuk menyeka air matanya.


"Dell udah dong! Kalau kamu nggak mau pindah lah ngapain pindah? Kamu nangis gini malah aku yang kayak merasa bersalah gitu lohh.... "


"Ya... Makanya kamu cerita ke aku! Siapatau aku bisa kasih saran sama kamu gitu!"


"Aku-aku nggak bisa cerita! Karena aku sendiri nggak tau mau cerita apa!" Ujar Della dengan tersedu-sedu.


Daniel melongo, "Ha? Ya udah... Kalau kamu belum siap buat cerita ke aku ya udah! Tapi please jangan nangis terus dong! Kita udah hampir sampai nih!" Katanya.


Della menarik nafas dalam-dalam, dia bercermin sembari mengusap air matanya.


Saat mereka tiba, Della memutar wajahnya ke samping, "Nill... Lihat aku dulu!"

__ADS_1


Daniel menoleh dan rupanya Della begitu dekat hingga Daniel agak kaget, "A-apasih? Kenapa?"


"Tatap mata aku?" Pinta Della.


Daniel belum berani, dia pura-pura sibuk dengan ponselnya, "Buat apa sih Dell... Aku mau balas chat dulu nih!"


"Lihat aku dulu! Balas chat apaan! Lahh wa mu nggak ada notif sama sekali kok!"


"Iihh sok tau... Ada nih chat 3 hari yang lalu belum ku balas!"


Della berdecih, hingga akhirnya ia memegangi kepala Daniel lalu memutarnya agar dia menetap matanya, "Lihat aku! Mataku masih merah nggak?"


Daniel yang syok dengan perlakuan Della langsung diam seribu bahasa, antara kaget dan salting ia sampai tak tau harus berkata apa.


"Woii kok diam?" Tanya Della dengan polosnya sambil berkedip-kedip.


Daniel melepaskan tangan Della yang menempel di wajahnya, "Itu ada cermin nona! Tuan putri! Nggak harus tanya ke aku juga kan?" Candanya agar Della tak tau jika Daniel sebenarnya salah tingkah karena baru saja bertatapan mata dengannya.


"Cermin bukan manusia, aku butuhnya pendapat manusia tau, gimana? Mataku merah apa enggak? Aku nggak mau nanti ada yang lihat mataku sembab! Malu ihh... "


"Menurutku nggak terlalu sih!" Jawab Daniel tapi tak berani menatap Della lama-lama, "Terus gimana dong?" Tanyanya.


"Lah... Siapa suruh kamu nangis terus tadi? Lagian kita bukannya mau berkunjung kerumah mertuamu Dell... Ngapain malu? Kamu kayak gembel aja udah pasti cantik kok di mataku!" Gombalnya.

__ADS_1


Daniel berusaha untuk mengajaknya bercanda dengan memberinya sedikit gombalan siapatau Della bisa tersenyum walaupun hanya sebentar, dan melupakan kesedihannya, begitu harapan Daniel.


__ADS_2