
Daniel terdiam, dia berdiri dengan kedua tangan terkepal, tersirat emosi dari wajahnya saat mendengar suara Della bicara dengan seorang pria lewat telfon.
Bukan obrolan biasa tapi terkadang Della melanturkan kata-kata vulg*r yang membuat Daniel sangat kaget.
"Della bicara sama siapa? Apa itu benar kakak iparnya? Apa mereka udah ngelakuin sesuatu yang nggak pantas?" Tebak Daniel.
Daniel benar-benar penasaran tapi suara laki-laki itu samar-samar bahkan Daniel sendiri tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
Tok... Tok... Tok....
Saat ia mendengar panggilan mereka sudah berakhir, barulah Daniel memberanikan diri mengetuk pintu kamarnya.
Awalnya tak mendapat respon apapun, tapi kemudian Della muncul membukakan pintu dengan wajah kesalnya, "Apa? Mau bicara omong kosong lagi?"
Daniel mendesah, rupanya dia masih marah, "Ya ampun, cuman gara-gara itu kamu marah sama aku Del? Kan aku cuman ngomong faktanya doang loh... Kok kamu tiba-tiba jadi baperan gitu sih!"
"Nggak ya! Aku nggak suka di gituin! Walaupun kita berteman tapi aku bakal tetap marah kalau kayak gitu!"
"Iya-iya, aku minta maaf Dell! Sekarang aku boleh masuk duduk nggak? Capek tau dari tadi lari-lari cariin kamu ehh ternyata kamu pulang ke kesini!"
"Emang aku nyuruh kamu buat nyari aku? Enggak kan?" Ucap Della dengan angkuh.
"Ya juga sih! Tapi aku takut kamu kenapa-kenapa makanya aku.... "
"Ya udah! Masuk!"
__ADS_1
Akhirnya Daniel tersenyum, Della memang awalnya marah tapi sepertinya dia luluh ketika mendengar permintaan maafnya.
Saat keduanya duduk dengan jarak yang akan berjauhan, sekejap Daniel memandang Della yang mulai sibuk kembali dengan ponselnya.
"Dell.... " panggil Daniel.
"Hm.... " Jawab Della tanpa menatapnya.
"Kamu udah ngerjain tugas statistika nggak?" Tanya Daniel membuat Della langsung mendonggak memandangnya.
"Tugas? Emang ada?"
"Aku nggak mungkin bilang kayak gitu kalau emang nggak ada tugas Dell... Jangan bilang kamu lupa ya?"
"Ohh santai aja! Kamu boleh lihat punyaku kok!" Kata Daniel sambil menaikkan kedua alisnya bersamaan.
"Ugh... Kamu emang temanku yang paling baik sedunia, pokoknya ketua tingkatku yang paling the best dehh!" Puji Della membuat Daniel tersipu malu.
"Lama-lama aku bisa meleleh disini gara-gara kata-katamu loh Dell.... "
"Ahh bisa aja kamu, tapi kayaknya nggak usah deh, karena aku mungkin nggak masuk kuliah sebentar sore!" Ucap Della
"Lohh kenapa? Emang kamu sakit?"
"Enggak! Aku baik-baik aja kok, aku cuman mau tidur sebentar sambil nungguin kak Raka jemput aku!"
__ADS_1
"Hah? Emang kakak iparmu itu pulang kantor jam berapa?"
"Mungkin sekitar jam 5 atau enggak ya jam 6!"
"Jadi kamu mau nungguin sampai jam segitu? Ya ampun Dell.... Kalau gitu kamu mending masuk kuliah dulu lah, kan kalau kayak gitu caranya nanti kamu ketinggalan materi terus nggak ngumpulin tugas juga! Kamu lupa ya kamu tuh sekretaris di kelas kita loh!" Tutur Daniel mengingatkan.
Della menghela nafas panjang, "iya Daniel, aku nggak lupa! Cuman aku tuh ngantuk mau tidur juga!"
"Kan kamu bisa tidur cepat sebentar malam!" Sekanya.
"Nggak bisa!"
"Nggak bisa apanya?! Alasan kamu doang kan? Ahh udahlah kamu harus masuk sebentar!"
"Please dehh niel... Jangan buat aku kesal lagi, ya terserah akulah mau masuk atau enggak! Emang kenapa? Kan bukan nilai kamu juga yang bakalan bermasalah!"
Ekspresi Daniel seketika berubah saat itu juga, "Iya yah... Aku kan bukan siapa-siapa kamu! Maaf ya Dell aku sok ngatur, padahal kita nggak punya hubungan apa-apa selain cuman teman kelas! Aku tau aku berlebihan tau jujur, aku fikir ini juga demi kebaikan kamu!" Ucap Daniel dengan nada kecewa.
Della langsung terdiam.
"Ohh iya, aku uda mau balik ke kampus! Have fun ya makam malamnya sama kakak kamu sebentar malam! Aku pamit!"
Daniel berdiri, tanpa melirik kebelakang lagi ia melangkah lurus melewati pintu kosan Della.
"Apa aku keterlaluan ya?" Ia barulah merasa bersalah saat Daniel sudah tidak ada disana. Della termenung sembari memikirkannya.
__ADS_1