Gairah Panas Kakak Ipar

Gairah Panas Kakak Ipar
BAB 105 : Sudah Tau


__ADS_3

Pada akhirnya Raka membuka pintu, dia melihat Mala dengan tatapan kosong menatap jendela.


"Sayang... Aku... Aku mau bicara boleh nggak?" Tanya Raka sembari berjalan mendekat namun sekali lagi dia tak di gubris.


Raka melihat nasi di samping Mala tak berkurang sedikit pun, Raka jadi tambah merasa bersalah sekarang.


Dia tertegun, lidahnya tiba-tiba keluh untuk sekedar berucap.


Raka yang bingung mau memulai dari mana langsung bertekuk lutut dihadapan istrinya, "aku minta maaf sama kamu Mal... Aku tau perbuatan aku nggak bisa di maafin tapi tolongg... Kali ini aja kamu mau maafin aku yah.... "


"Pergi!" Seketika Mala bersuara, tanpa melepaskan tatapan kosongnya dari jendela.


"Aku... Aku bakalan pergi, tapi kamu maafin aku dulu!"


Saat itulah Mala menatap kedua manik mata Raka, tatapan itu benar-benar penuh dengan rasa kebencian, "Pergi!! Aku nggak mau ketemu kamu lagi! Jadi tolong jangan pernah datang lagi kesini atau kekehidupan aku!" Ucapnya dengan nada serak, tapi Mala masih berhasil mengontrol emosinya.


Tanpa Raka sadari Air matanya terjatuh kelantai, "Oke... Aku bakal pergi! Aku cuman mau bilang Kamu perempuan yang sangat baik Mala... Semoga kamu dapat laki-laki yang lebih baik dari aku! Terimakasih sudah mencintaiku sebelumnya! Aku benar-benar menyesal sudah menyia-nyiakan orang tulus kayak kamu! Aku pamit yah.... "


Saat Raka keluar dari kamar tersebut, tangis Mala pecah lagi, perasaannya hancur lebur, ia hanya bisa menekan rasa sakit didadanya.


...***...


Sepanjang malam tadi Mala tak bisa tidur, entah berapa jam ia terduduk sambil melamun didalam kamarnya sampai-sampai membuat mamanya itu khawatir.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok....


Terdengar pintu diketuk, Mamanya bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang, "iya... Cari siapa ya?"


"Saya Elisa Bu! Temannya Mbak Mala, saya dengar anaknya meninggal jadi saya datang kemari, mbak Mala ada kan bu? Sama mau bicara sama mbak Mala!" Ucap Elisa.


"Iya ada! Mari masuk!"


Elisa dibawa masuk kedalam kamar Mala, Elisa langsung merasa iba melihat wanita itu.


"Mbak Mala.... "


Dia seketika memeluk Mala sambil menangis, "Aku turut prihatin atas kondisi mbak Mala yahh... Pokoknya mbak Mala harus kuat dan sabar hadapin semuanya!"


Mala terlihat masih linglung, bahkan ia baru tersadar saat isak tangis Elisa terdengar.


Sepertinya Mala juga sudah capek, dia tak lagi meneteskan air mata.


Malahan sekarang dia membalas pelukan Elisa sambil mengelus pundak wanita itu, "Kamu juga harus kuat yah!" Katanya.


Tiba-tiba Elisa melepaskan pelukan mereka dan menatap Mala baik-baik, "Mbak aku mau ngomong sesuatu! Aku tau ini bukan saat yang tepat, tapi mbak Mala harus tau yang sebenarnya!"


"Aku udah tau apa yang mau kamu omongin kok!" Ucap Mala.

__ADS_1


"Ha?" Elisa terperangah.


"Kamu mau ngomong soal ayah biologis dari bayi yang kamu kandung kan? Aku udah tau Sa... Itu anak dari Raka kan?" Ungkapnya.


Elisa terkejut bukan main.


"Kenapa mbak Mala bisa tau? Terus sejak kapan mbak tau soal ini?"


"Sebenarnya aku mau pasang alat penyadap di hape Raka, tapi aku selalu gagal! Terus aku pasang ke hapenya Della, dan aku tau kebenaran itu saat kalian bicarain soal ayah janin yang ada dalam kandungan kamu!"


"Tapi kenapa mbak Mala nggak marah sama aku? Kenapa mbak Mala diam aja kalau udah tau dari awal?"


"Percuma! Buat apa juga! Lagian pas kamu ceritain semuanya ke aku! Kan kamu juga kena tipu kan? Udahlah... Semua udah berlalu, aku juga udah ikhlas!"


"Enggak mbak! Nggak gitu caranya!"


"Terus gimana? Aku juga nggak tau mau gimana lagi! Dan jalan satu-satunya yang bisa aku ambil itu ya cerai sama Raka! Terus kamu bisa minta pertanggungjawaban dari dia!"


Elisa menggeleng kuat, dia mulai berfikir kalau Mala sepertinya berbeda dari sebelumnya, entah apa yang terjadi tapi sepertinya mentalnya memang sedang tidak baik-baik saja.


"Mbak! Aku udah mutusin buat lahirin bayi yang aku kandung, tapi aku nggak bakalan terima Raka, karena aku udah tau sifatnya! Aku nggakpapa hidup jadi single parent!" Tutur Elisa.


"Kamu salah Elisa! Seorang anak itu butuh sosok ayah!"

__ADS_1


"Aku bisa jadi ibu sekalian jadi sosok ayah bagi anakku mbak! Aku jamin itu! Jadi sekarang mbak Mala tenangin dulu fikirannya! Aku yakin kok suatu hari nanti mbak Mala bakalan bahagia!" Kata Elisa.


Bibir Mala berkatup, ia mendengar ucapan Elisa tapi seperti hanya terlintas saja dalam benaknya.


__ADS_2