
Della tak bisa tenang ia terus memikirkannya, dia merasa sangat bersalah sampai bahkan rebahan pun rasanya tidak nyaman seperti ada yang mengganjal hatinya.
Saat membuka whatsappnya dia malah kesal lagi karena melihat Daniel online tapi sama sekali lagi mengiriminya pesan.
"Apa dia benar-benar kecewa karena tadi ya? Tumben banget dia nggak ngechat aku! Biasanya juga kalau sampai kampus, kemana-mana dia selalu chat aku!"
Dia berdecak meletakkan ponselnya disamping kanan bantal, memang sedikit perubahan dari orang akan meninggalkan rasa tidak nyaman pada diri sendiri.
Apalagi Della sepertinya tak paham akan perasaan Daniel.
Alhasil dia hanya terus merebahkan diri diatas kasur sembari menunggu jadwal kuliahnya.
"Ahh bodoamatlahh... Nggak bisa tidur juga mending aku ke kampus aja!" Gerutunya pada diri sendiri.
...***...
Tiba di kampus lebih awal Della mengecek ruangan yang akan di pakai oleh kelasnya tapi ternyata masih kosong, Della seperti tak punya siapa-siapa.
Dia ingin mengirim pesan pada Daniel tapi gengsinya bahkan lebih tinggi sekarang ini, karenanya Della menunggu seorang diri diruangan kosong itu.
Hingga beberapa menit kemudian, barulah muncul Daniel dan beberapa teman kelasnya yang lain.
Dia menatap Daniel tapi cowok itu sama sekali tak Meliriknya bahkan sepertinya dia memang menghindari Della.
__ADS_1
"Ehh tumben jadi penghuni kelas?" Ledek sapah satu teman kelasnya.
"Ehm... Lagi mager aja mau jalan-jalan jadi mending di sini aja!" Jawab Della.
Sementara itu Daniel duduk di pojok belakang, sedangkan Della duduk di kursi kedua dari depan.
Itu benar-benar tidak nyaman, biasanya selalu nempel seperti gula-gula karet yang bahkan kemana-mana selalu berdua, duduk pun selalu bersebelahan tapi sekarang sudah tidak begitu lagi.
Beberapa kali Della melirik kebelakang tapi Daniel tak menggubris, malah Daniel seperti sibuk memainkan ponselnya dengan muka datar.
Ketika jadwal kuliahnya juga sudah selesai Daniel sama sekali tidak menyapanya, tapi sebelum dosennya datang, Daniel mengirimkan file tugasnya yang sudah selesai.
Dia benar-benar sangat baik dengan menepati janjinya.
Daniel langsung keluar dari kelas setelah dosennya juga keluar, dia berjalan dengan cepat. Della berlari keluar menyusulnya.
Untung saja sebelum Daniel masuk lift, Della langsung menarik tangannya.
Dia memegang tangannya sambil mengantur nafas.
"Kenapa?" Tanya datar Daniel.
Della langsung merasa canggung, "ehm... Itu soal tugas tadi, makasih!"
__ADS_1
"Sama-sama! Ohh iya maaf bisa kamu lepasin tangan aku? Aku mau pulang!" Kata Daniel dengan wajah tanpa ekspresi.
Della langsung melepas tangannya, "Kok buru-buru amat!?"
"Terserah aku!" Ucal dingin Daniel.
"Kamu kenapa sih? Masih marah sama aku?"
"Enggak! Ngapain juga aku marah? Buang-buang waktu!"
"Terus kenapa kamu nggak ngomong apa-apa tadi pas kamu datang? Padahal tadi jelas-jelas yang lain nyapa aku tapi kamu nggak!"
"Emang harus ya nyapa kamu tiap hari, tiap saat, begitu?
"Ya nggak gitu juga, tapi kan bagusnya begitu Niel, biasanya juga gitu kan! Kok sekarang kamu malah ngomong kayak gini sih?"
"Cihh! Ahh udahlah Dell... Aku capek mau pulang!"
"Tapi Niel, aku masih mau ngo.... "
Dert... Derttt... Dert...
Ponselnya bergetar, Della melihat layar ponselnya dan mendapat Nama Raka disana.
__ADS_1
Daniel menatapnya dengan perasaan marah, dia kemudian langsung berbalik dan berjalan cepat menuju tangga sebab liftnya belum terbuka lagi.
"Ehh.... Daniel... Jangan pergi dulu! Aku belum selesai ngomong!" Melihat Daniel pergi, dia kembali menyusulnya tanpa menjawab panggilan masuk dari Raka.