Gairah Panas Kakak Ipar

Gairah Panas Kakak Ipar
BAB 85 : Percaya Lagi


__ADS_3

Kamar Della sudah sangat berantakan seperti baru saja terjadi gempa bumi, banyak kertas berhamburan, bantal ada didekat pintu, bahkan sprei kasurnya robek ia gunting-gunting.


Semua itu ia lakukan sebab emosi pada Raka dan hanya bisa dia luapkan dengan barang-barang yang ada di kamarnya.


Kini ia sudah capek, matanya memerah karena dari tadi menangis bahkan sampai sekarang air matanya tak berhenti mengalir.


Tatapannya sering kali kosong, namun fikirannya kemana-mana, ia terus mencoba menyangkal semua pernyataan Elisa tadi namun tetap saja fikiran negatif dalam benaknya terus bermunculan.


"Enggak! Pokoknya aku nggak bakalan percaya kecuali aku mendengarnya langsung dari kak Raka!!" Gumamnya sambil mengusap air mata.


Ia terus melirik jam yang ada di layar ponselnya, waktu terasa berjalan begitu lama saat menunggu kedatangan Raka, tak sabar rasanya ia mendapat jawab pasti dari kakak iparnya itu.


Bahkan ia sudah mengirim banyak pesan teks pada Raka tapi tak kunjung mendapatkan balasan.


Della tambah emosi karena hal itu.


Pada saat yang sama, Raka yang saat ini disibukkan dengan pekerjaan malah tidak bisa fokus sama sekali sebab pertanyaan yang Della ajukan tadi.


Bahkan ia lupa jadwal meeting karena pertanyaan Della yang terus mengganggunya.


Hingga jam pulang kantor akhirnya tiba, Raka dengan cepat menyusun kembali berkas yang berhamburan diatas mejanya, dia buru-buru menuju parkiran.


"Ahh sial... Kenapa Della harus tanya soal itu pas aku lagi kerja sih? Ganggu konsentrasi aja! Atau jangan-jangan wanita sialan itu ketempat Della, makanya Della nanya kayak gitu? " Gumam Raka sebelum menyalakan mesin motor.

__ADS_1


Dalam perjalanan ke kosnya Della, dia melaju dengan kecepatan tinggi bahkan melewati semua mobil yang ada di hadapannya tanpa peduli dengan nyawanya sendiri.


Sementara ponselnya terus berdering di dalam jaket yang ia pakai, sudah bisa ia tebak kalau itu pasti panggilan masuk dari Della namun Raka mengabaikan panggilan itu.


Tiba-tiba di kos Della, Raka melihat keadaan kos-kosan Della yang sepi, dia lalu mengetuk pintunya 3 kali tapi tak ada jawaban.


Raka mencobs membuka dan ternyata pintu itu tidak di kunci sama sekali.


"Apa ini, apa yang terjadi Dell?" Betapa terkejutnya Raka saat baru saja selangkah memasuki kamar Della dan kaget melihat kondisi kamarnya.


Mata Della tampak sayu, dia kemudian memutar bola matanya setelah saling pandang dengan Raka.


"Kamu kenapa sih Dell?"


"Kan kakak udah bilang lagi sibuk! Masa kamu nggak ngerti sih?"


"Tinggal jawab Ya atau enggak apa susahnya sih kak?"


Raka mendekati Della yang duduk menyenderkan dirinya di tembok, dia ikut duduk di hadapan Della sambil menempelkan tangan di kepalanya lalu mengelusnya dengan sangat lembut.


"Kamu tenang dulu, baru bicara! Kakak capek lohh Del... Sebenarnya kakak mau sering-sering kesini karena rindu sama kamu tapi kamu lihat sendiri kan kakakmu sekarang kayak gimana, kakakmu itu berubah drastis semenjak hamil jadi kakak nggak bisa ngapa-ngapain!"


"Please jangan mengalihkan pembicaraan kak! Bukan itu jawaban yang aku minta!"

__ADS_1


Raka langsung terdiam, dia menarik nafas dalam-dalan lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Memangnya kamu mengharap jawaban yang kayak gimana dari kakak? Emang kamu percaya, kamu punya bukti? Atau gimana?"


"Ada wanita seksi yang datang kesini ngaku-ngaku simpanan kakak! Makannya aku butuh jawaba pasti!"


"Wanita apa? Kakak nggak punya siapa-siapa kok!"


"Bohong.... "


"Kamu nggak percaya?"


"Aku butuh bukti kak! Kalau omongan doang aku mana bisa percaya! siapa tau kan sebelum aku masih ada cewek lain lagi!"


Raka kembali terdiam lalu menjawab, "Enggak kok! Kakak nggak mungkin lakuin itu! Selain kamu kakak nggak punya cewek lain lagi! Karena kakak udah dapat tempat ternyaman yaitu kamu sayang!" Ungkap Raka.


Seketika Della langsung tersenyum tipis dipanggil sayang olehnya.


"Kakak nggak bohong kan?"


"Iya... "


Della terlihat mempercayainya, mereka lalu berpelukan dalam pelukan yang erat itu Della menangis seolah-olah dialah yang paling tersakiti.

__ADS_1


__ADS_2