
Di saat yang sama, Mala sepertinya mulai jengkel dengan Raka. Sejak tadi ia sudah masak makanan sangat banyak tapi Raka tak kunjung datang.
Malah sekarang bukannya langsung makan, Raka malah langsung mandi membuat Mala bertambah jengkel.
Ketika suaminya selesai dan duduk berhadapan dengannya di meja makan, Dia menatap istrinya yang cemberut sambil tersenyum.
"Kenapa lagi sih sayang?" Tanya Raka.
"Kamu belum jawa pertanyaan aku, kok kamu lama banget di kosannya Della, bukannya aku cuman nyuruh kamu bawa beras kesana ya? Harusnya nggak sampai berjam-jam juga kan?gara-gara kamu lama makanannya udah dingin nih, pasti udah nggak enak lagi!" Ujar Mala mengomel.
"Iya-iya maaf sayang, tadi aku kayak capek banget makanya rebahan sebentar di kosannya Della, tapi ehh aku malah ketiduran!"
"Aku nggak percaya!"
"Kok kamu semenjak hamil tuh sensitif banget sih sayang? Emang kamu fikirnya aku ngapain? Kamu jangan aneh-aneh dehh fikirin aja soal calon bayi kita!" Ujarnya.
"Aku nggak mikir yang aneh-aneh... "
"Ya terus apa? Soal makanan ini? Ya udah kita makan aja! Kok ribet banget sih, kamu ngomel kayak tadi tuh malah buat nafsu makanku hilang tau!"
Mala langsung terdiam, wajahnya sedikit tertunduk, dia sadar semenjak hamil memang dia selalu sensitif pada Raka, bahkan bau pakaian suaminya selalu membuat Mala curiga.
Dia seketika berdiri, lalu berjalan pergi. Untung saja Raka menahan tangannya, "Kamu mau kemana? Nggak makan?"
"Malass, makan aja sendiri!" Ketus Mala kemudian melepas paksa tangan Raka.
__ADS_1
Dia melangkah menuju kamarnya, mengambil ponsel kemudian menelfon Della.
Perasaannya tak karuan saat panggilan itu tak kunjung tersambung, dia tak mau salah paham makanya ingin memperjelas semuanya.
"Halo kak, ada apa kakak nelfon?" Panggilan itu akhirnya terhubung.
Mala seperti takut itu bicara, "Ehm.. Itu Dell... Kakak mau nanya sesuatu, boleh nggak?"
"Boleh dong! Emangnya kakak mau nanya apa?"
"Kakak mau tau, kakakmu tadi lakuin apa aja di kosan kamu?"
Seketika Della langsung ketar-ketir diberi pertanyaan tersebut.
"Kenapa kakak nanyanya kayak gitu?"
"Kakak cuman penasaran aja!"
Della terdiam sejenak, lalu berkata, "Emang kak Raka nggak ngasih tau kakak ya?" Dia malah balik tanya.
"Enggak! Dia nggak ngomong apa-apa!" Tukas Mala kali ini berbohong pada adiknya.
"Masa sih kak?"
Mala meneguk salivanya dengan susah payah, dia ingin segera mengetahuinya.
__ADS_1
"Iya! Emang dia ngapain aja sih kok bisa lama Dell?" Tanyanya sekali dengan tidak sabaran.
"Ehm... Kita ngobrol aja sih kak sampai lupa waktu!"
"Ngobrol aja? Nggak ada yang lain gitu?"
"Nggak ada!"
Wajah Mala langsung berubah saat mendengar jawaban berbeda dari adik serta suaminya.
"Kamu serius kan Dell?"
"Iyyya... Della serius kak! Emangnya ada apasih kak? Kok kakak kayak panik gitu?"
"Enggak! Kakak nggak kenapa-kenapa, ohh iya... Kamu harus rajin makan yah... Makanya kakak ngirim beras kekamu karena kakak lihat berat badan kamu turun!" Dia dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan.
"Ehm... Iya kak! Makasih beras sama cemilannya ya kak, lain kali aku bakal datang kesitu!"
"Iya, kamu jaga diri juga disitu, udah dulu ya Dell kakak mau ngerjain sesuatu!"
"Iya kak!"
Panggilan pun berakhir, wajah cemas Mala masih terlihat jelas, dia menggenggam kuat ponselnya, "Kenapa jawaban mereka beda? Apa ada yang mereka sembunyiin dari aku? Tapi apa?"
Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, tapi setiap kali ia ingin menerka hasilnya sama saja, malah kepalanya terasa sakit ketika ia mencoba terus memikirkan jawaban dari pertanyaannya.
__ADS_1