
Sprai terlihat begitu sangat kusut, pakaian mereka berdua berserakan, bahkan beberapa lembar tissue terlihat disamping kasurnya.
Mereka tampak sangat lelah dengan aktivitas panas itu disaat matahari masih menampakkan sinar terangnya.
Deru nafasnya belum kembali normal, sesekali Raka melirik Della yang kini terbaring membelakanginya.
Dia mencoba menarik Della agar adik iparnya itu menghadap kearahnya, sambil memegang lengan Della, Raka berkata, "Kamu mikirin itu lagi Del? Ngapain sih? Mau berapa kali kakak bilang nggak usah di fikirin, kakak kamu nggak bakalan tau kok! Ini rahasia kita berdua! Jadi sudah pasti aman Dell.... "
Della tak menggubris, dia tetap pada posisi yang sama, "Kakak nggak pake pengaman kan?" Katanya.
Raka langsung melotot, seketika melepas tangannya dari lengan Della, "Ya ampun Dell kakak lupa!"
"Gimana kalau aku nanti hamil kak?"
"Ehm... Kamu tenang aja! Kakak nggak pernah keluarin didalam kok!"
Della langsung terduduk sambil menutupi dadanya dengan bantal, "Tetap aja aku takut! Aku nggak mau hamil dulu, aku mau fokus sama kuliahku terus kalau aku sampai hamil, kak Mala sama keluarga besar kita bakalan tau! Aku takut!" Ucap Della menatap Raka dengan tatapan panik.
Raka terlihat begitu santai, awalnya saja ia panik tapi sekarang sepertinya dia baik-baik saja, "Kamu nggak bakal hamil Dell... Kakak bisa jamin 100%"
"Kak Raka emang gampang banget ngomong kayak gitu karena kak Raka cuman mau nikmatnya aja! Iya kan?"
__ADS_1
"Lohhh kenapa kamu bilang kayak gitu? Kakak tuh sayang banget sama kamu! Sama kayak kakak sayang sama kakak kamu!"
"Terserah kak Raka aja!" Judesnya.
"Ya udah biar kamu lebih tenang, sebentar kakak beliin obat kontrasepsi di apotik dehh.... " Ujarnya.
Raka beringsut meninggalkan kasur, Ia membersihkan miliknya dengan tissue kemudian kembali memakain pakaiannya.
"Nah sekarang kakak keapotik dulu, kamu tunggu disini, jangan ke mana-mana!" Katanya.
Lagi-lagi Della tak menjawab, Dia langsung pergi keluar dari kamar, sementara Della kembali merebahkan diri sambil melihat tubuhnya di bawah selimut yang tanpa busana.
"Ahh kenapa aku jadi gobl*k sih? Kenapa aku jadi ketagihan mau di sentuh kak Raka terus?" Tanyanya pada diri sendiri.
Ditengah gumamnya itu seseorang mengetuk pintu kamarnya, buru-buru Della berdiri sambil melilit tubuhnya dengan selimut.
"Siapa yang datang sih? Apa kak Raka? Ahh nggak mungkin!"
Dia semakin panik karena pintu tak terkunci sama sekali, takutnya orang yang mengetuk langsung membuka pintu dan melihat kondisi kamarnya yang sangat amat berantakan.
Della dengan pelan mengunci pintunya lebih dulu kemudian mengintip dari celah jendela.
__ADS_1
"Ahh ya ampun Daniel? Gawat... Ngapain dia datang? Ya ampun kamarku.... " Gumamnya lagi saat berbalik badan dan melihat saksi bisu pertempuran panasnya dengan kakak iparnya tadi.
"Dell... Bukain pintunya dong!" Daniel sudah memanggilnya dari luar.
"Iya-iya tunggu bentar Niel... " Katanya berteriak dengan sangat keras.
Dengan sangat cepat Della memakai pakaiannya, merapikan rambut kemudian merapikan kasur serta memungut semua tissue yang bertebaran lalu melemparnya kedalam tempat sampah.
Setelah semua beres, barulah Della membuka pintu, dengan cengingisan agar ketua tingkatnya itu tidak curiga.
"Hay.... " Sapanya canggung.
Daniel mengerutkan alisnya, "Kamu kenapa sih? Lagi sibuk ya sampai aku nungguinnya lama banget loh.... "
"Ehm... Itu kamarku berantakan banget tadi, ya malu lah nanti kamu lihatnya, terus bilang kalau aku nih gadis jorok nggak bisa ngerawat diri, aku nggak maulah!"
"Nggak mungkinlah Dell..."
"Hehe siapatau kan, ya udah masuk!"
Daniel berjalan perlahan masuk kedalam kamar Della, semua tampak baik-baik saja, tapi mata Daniel tak sengajak melirik kearah tempat sampah yang penuh dengan tissue, dia merasa heran dengan hal itu.
__ADS_1
"Kamu baik-baik aja kan Dell?" Tanya Daniel membuat Della seketika gelisah.