
Daniel sepertinya sengaja membuat Della mengejarnya, terbukti dia terus menuruni anak tangga padahal ada lift.
Ponsel Della juga terus bergetar, panggilan masuk dari Raka sudah 2 kali diabaikannya.
Hingga mereka berada di parkiran barulah Della memegang tas Daniel erat-erat, "Please jangan pergi dulu! Ya ampun kamu kok giniin aku sih!"
"Lepasin Dell... Emangnya kamu mau ngomong apalagi sih?" Ucap Daniel yang kini sudah duduk di jok motornya lengkap dengan memakai helm.
"Aku nggak suka di cuekin!" Ungkap Della seolah menekan rasa malunya.
Daniel melongo, "Hah?"
"I-iya... Aku nggak mau dicuekin, rasanya nggak nyaman!" Ucapnya gagap dengan sedikit menekuk wajahnya.
Daniel terdiam sekejap melirik wajah Della, "Coba deh kamu fikirin omongan aku sebelumnya? Emangnya aku ngomong kayak gitu demi kebaikan siapa? Demi kebaikan kamu juga kan? Jujur aku kecewa banget sama respon kamu tadi Dell.... "
"Aku minta maaf!"
"Nggak tau aku, udah berapa kali kamu kayak gini! Semua orang punya batas kesabaran loh Dell... Jangan sampai suatu hati nanti kamu menyesal!"
Della termenung, "Iya... Aku nggak bakal kayak gitu lagi! Tapi kamu jangan kayak tadi! Aku nggak suka!"
"Bilangnya nggak kayak gitu lagi ujung-ujungnya pasti kayak gitu lagi!"
"Enggak kok! Kamu harus percaya!"
__ADS_1
"Ehm! Ya udah naik, aku bonceng kamu pulang!"
Della akhirnya tersenyum, dia dengan gembira duduk di belakang Daniel, lelaki itu juga akhirnya tersenyum lebar di balik kaca helmnya.
Sampai di kos, Daniel menatap Della lalu berkata, "kan kakak iparmu datangnya jam 5, ehh aku boleh istirahat di kosanmu kan Dell? Sampai kakak iparmu datang, lagian aku kesepian di kosan nggak punya teman buat ngobrol!"
"Makanya cari pacar, biar bisa nemenin kamu ngobrol tiap saat!"
"Yahh mau gimana, orang yang disuka malah udah punya pacar kok!"
"Emang iya? Siapa? Apa aku kenal sama orangnya?"
"Nggak usah kepo!" Elak Daniel.
"Kuliah dimana? Dikampus kita? Cantik nggak? Lebih cantik mana aku apa dia? Ahh pasti dia kan? Ohh iya namanya siapa?" Tanya Della sekaligus.
Della menatapnya sinis, "jawab dulu!"
"Nanti aja!"
Della cemberut, pada akhirnya dia tetap memberikan kunci kamar pada Daniel.
Dalam kamar itu, Daniel yang merasa sangat gerah lantas membuka 2 kancing atas kemejanya, Della memperhatikan itu bahkan ia tertegun saat kedua matanya tak sengaja melihat jakun Daniel yang naik turun.
"Daniel...." Panggilnya.
__ADS_1
"Emm? Kenapa?"
"Ngapain buka kancing baju? Nanti ada tetangga kosku yang datang, terus lihat kamu kayak gitu, pasti mereka bakalan salah paham!"
"Ha? Emangnya kamu punya kenalan disini? Lagian aku kepanasan Dell... Aku juga nggak bakal ngapa-ngapain kamu kok!"
"Ya iya... Tapi Kan itu ada kipas!" Ucap Della menunjuk ke arah kipas dengan perasaan waswas.
"Iyadeh... Nanti aku kancing! Tapi kamu kok tiba-tiba kayak orang tegang gitu Dell, kamu nggakpapa kan?"
Della menggelengkan kepalanya dengan kuat, "nggak!"
Drrt... Dert... Dert....
Ponselnya bergetar lagi, dengan cepat Della melihat layarnya, "Ahh kak Raka! Ya ampun aku lupa!" Gumamnya.
"Siapa yang nelfon Dell?" Tanya Daniel.
"Kakak iparku! Kamu nggak boleh bersuara yah!" Ucapnya langsung di balas jempol oleh Daniel.
Della lalu menerima panggilan tersebut, "Halo kak!"
"Kenapa baru diangkat sekarang?!!" Suara Raka langsung meninggi, "Emangnya kamu ngapain sampai panggilan kakak diabaikan kayak tadi? Kamu lagi sama cowok lain kan? Makanya kayak gitu!" Tuduh Raka.
Mulut Della menganga, sangat tidak terduga sampai ia harus mendengar Raka akan berkata seperti itu.
__ADS_1
"Jujur aja! Atau jangan-jangan kamu lagi sama Daniel, iya kan?" Tebak Raka lagi dengan Marah.