
Mala bahkan tak menyiapkan makanan diatas meja, sepertinya ia sengaja melakukan itu. Raka yang kini duduk dengan lemas dikursi meja makan tak tau harus bagaimana sekarang
Perutnya sudah berbunyi beberapa kali, dia sudah mengecek kulkas tapi yang ada hanyalah sayur mentah.
Alhasil hanya segelas air putih yang ia teguk, "Ahh sial... Apa orang hamil semuanya jadi malas begini? Udah sensitif, malas masak, terus apalagi nanti?" Gerutunya.
Raka memijit pelipisnya dia merasa sedikit pusing sekarang, hingga dia melihat ada mie instan lalu memasaknya.
Sedikit mengganjal perut walaupun rasanya tidak nyaman tapi daripada ia mati kelaparan kan?
Dia terus berdesis, ingin mengumpat tapi kepalanya berdenyut jadinya ia kembali kekamar lalu rebahan.
"Apa aku kurang darah karena keseringan begadang? Ahh sepertinya aku harus periksa kesehatan!" Lanjutnya bergumam.
Dert... Dert... Dert...
Ponselnya bergetar dengan begitu malas Raka meraih ponselnya dan melihat nomor tanpa nama di layarnya.
Di berdecak sekali lalu menerima panggilan tersebut.
"Halo... Apalagi sih? Kenapa kamu nelfon-nelfon terus?"
"Aku mau kita ketemu!!" Jawab orang yang menelfon Raka yang terdengar seperti perempuan.
__ADS_1
"Ketemu? Buat apa? Nggak ada yang mau kita omongin juga! Udah yah... Jangan nelfon-nelfon terus nanti istriku curiga!"
"Pokoknya aku mau ketemu kak!" Desak wanita itu dari telfon.
"Enggak! Aku nggak bisa! Sekarang aku lagi pusing, lagi banyak masalah... Kamu jangan nambah masalah baru dehh! Okee! Nanti aja kita ketemunya!"
Tuttt....
Raka mengakhiri panggilan tersebut kemudian meletakkan kembali ponselnya dengan kasar, "Wanita sial*n!" Umpatnya.
...***...
Mala pulang dari tempat kerjanya agak telat dari biasanya, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 08.01.
"Kok kamu pulangnya telat? Kamu pasti sengaja kan?" Tanya Raka.
Mala memutar bola matanya dengan malas, dia berjalan mengabaikan Raka.
"Kenapa nggak dijawab? Kamu emang sengaja kan?" Tanya Raka lagi sambil meninggikan suara.
Tiba-tiba Mala berhenti melangkah lalu menatap Raka dengan wajah memelas, "bisa nggak sih, biarin aku duduk dulu sebentar terus kamu nanya kayak gitu? Aku capek loh... Baru aja sampai rumah, dan juga kamu kira dalam keadaan hamil begini bergerak itu mudah? Enggak!!!" Tuturnya.
Raka langsung tertegun mendengarnya.
__ADS_1
"Oke! Kalau gitu duduk aja dulu terus jawab pertanyaan aku! Nggak usah ngegas dong sayang!" Nada bicaranya langsung berubah lembut.
Mala duduk, dia mengatur nafasnya, "Kamu pasti haus kan? Ya udah... Aku ambilin air minum buat kamu!" Ujar Raka berdiri dengan cepat berlari kearah dapur mengambil segelas air.
"Minum dulu sayang!" Katanya memberikan air itu.
Tenggorokan mala memang benar-benar kering, Raka tersenyum semringah melihat istrinya itu meneguk habis air yang ia bawa.
Setelah merasa lebih baik dari sebelumnya, Mala kembali memandang suaminya itu, "Kenapa kamu nanya kayak gitu tadi? Kamu fikir aku ketempat lain setelah pulang kerja?"
"Ya nggak gitu sayang... Kan aku cuman mau dengar alasan kamu, nggak ada maksud buat nuduh kamu nggak jelas kok!"
Mala kembali terdiam sejenak dengan pandangan mengintimidasi pada suaminya, "Aku nggak kayak kamu!"
"Kamu ngomong nggak jelas lagi nih... Jadi maksud kamu aku ketempat lain pas pulang kerja gitu? Ya ampun sayang... Aku mau kemana? Buat nongki sama teman aja aku pasti laporin kekamu dulu kan? Lagian semenjak nikah kan kamu tau sendiri aku udah jarang keluar!"
"Mana aku tau!" Jawab singkat Mala dengan ketus.
"Udahlah, banyak fikiran nggak baik buat kesehatan sama calon bayi kita! Atau Kamu mau terjadi apa-apa sama anak kita? Pasti enggak kan?!" Tukasnya mengalihkan pembicaraan.
Mala mengepalkan kedua tangannya tanpa sepengetahuan Raka, dia begitu geram akan sikap suaminya.
"Kenapa laki-laki baj*ngan didepanku ini sangat bermuka tebal? Semua sindiran ku aja nggak dia pekain! Apa karena hasratnya sama perempuan buat dia jadi b*go?" Umpat Mala.
__ADS_1