
Mala yang kini bersiap-siap untuk kembali kerumahnya dengan perasaan malas karena akan melihat wajah Raka lagi.
Dia membuka kunci ponselnya untuk memesan ojek online, tapi tanpa sengaja melirik aplikasi pelacak yang ada diantara aplikasinya.
Yahh aplikasi itu ia gunakan untuk melacak keberadaan suaminya, Aplikasi yang sudah 4 hari terhubung ke ponsel Raka, Mala yang penasaran selalu mengeceknya begitu pula sekarang.
Dia melirik kini kanan untuk memastikan tak ada yang melihatnya, saat dirasa aman barulah ia membuka aplikasi itu.
Hingga matanya melebar, ada nafas berat terhembus dari mulutnya, "Ke tempat Della lagi tapi nggak bilang-bilang ke aku? Benar-benar orang menjijikkan! Aku udah nggak tahan lagi sekarang, makin lama mereka makin menjadi-jadi!" Gumamnya geram sambil mengepalkan tangan.
Mala yang emosi lantas dengan cepat memesan ojek online dengan alamat tujuan kosannya Della.
Dia buru-buru keluar lalu berdiri didepan pintu tempat kerjanya untuk menunggu ojek yang ia pesan.
Dalam perjalanan kesana, semua emosi dan kata-kata yang akan ia lontarkan sudah ada dalam benaknya tinggal ia lampiaskan pada Raka dan Della saat ia sudah menangkap keduanya.
"Ahh Ugh.... Oghh.... " Mala meringis saat
berhenti di lampu merah, ia merasakan sakit pada perutnya.
__ADS_1
Rasanya benar-benar sakit hingga dia menepuk pundak ojek tersebut, "Pak bisa ke rumah sakit aja nggak pak! Perut saya sakit!"
"Waduhh nggak bisa bu!" Jawab tukang ojek tersebut.
"Ayo dong pak, nanti saya tambahin ongkosnya!"
"Oke... dehhh kita ke rumah sakit terdekat aja yah!"
Akhirnya mereka memutar arah, Mala yang mencoba menahan sakit luar biasa diarea perutnya kini bahkan berkeringat dingin.
Sampai di rumah sakit, saat ia sudah membayar ongkos ojek itu, Mala kaget ketika ia berjalan menuju pintu rumah sakit tersebut, ia melihat ke arah kakinya, ada darah!
Darah itu terus mengalir membuatnya semakin panik, "Ahhh sakit!!!"
"Mbak... Kenapa?"
Tiba-tiba muncul seorang wanita yang tak lain wanita itu adalah Elisa, mereka berdua berpapasan didepan pintu dan menyadari rauk wajah Mala yang berkeringat pucat pasi sambil memegangi perutnya.
"Tolong bawa saya ke dokter kandungan mbak!" Katanya, hingga saat itu pula mata Mala terpejam dan akhirnya tak sadarkan diri.
__ADS_1
Elisa langsung panik dan buru-buru memanggil bantuan untuk mengangkat tubuh Mala menuju ruang pemeriksaan.
"Duhh gimana ini, baru juga mau periksa diri tapi bantuin orang lain periksa! Walinya juga nggak ada lagi!" Gumam Elisa panik didepan ruang pemeriksaan.
Tas Mala ada di tangannya, tapi tak sopan rasanya jika ia membuka tas itu dan memeriksa isinya.
Hingga dokter yang memeriksa Mala keluar dari ruangan, dia menemui Elisa, "Mbak keluarganya pasien?" Tanya Dokter.
"Ehh bukan dok! Saya nggak kenal sama orang itu! Cuman kebetulan saya lewat dan bantuin aja!" Jawab Elisa.
"Ohh begitu ya!"
"Iya dok! Gimana keadaan orang itu dok?"
"Pasien masih belum sadarkan diri tapi pendarahannya sudah berhenti! Mungkin beberapa menit lagi dia akan siuman!"
"Iya dok! Saya tungguin aja pasiennya sampai sadar! Makasih sebelumnya dok!"
Dokter itu pergi, Elisa masuk kedalam ruang pemeriksaan dan menemui Mala yang masih terbaring lemah diatas ranjang pasien sambil tangannya terpasang jarum infus.
__ADS_1
Dia duduk di kursi dekat ranjang itu sembari meletakkan tas Mala disamping tangannya, sesekali ia melirik perut Mala, rasanya ia ingin menyentuh dan merabanya.
"Kok bisa wanita hamil sebesar ini datang sendirian kerumah sakit, terus pendarahan! dimana suaminya? Benar-benar suami yang nggak bertanggung jawab, kayak Raka aja!" Umpat Elis disamping Mala.