Gairah Panas Kakak Ipar

Gairah Panas Kakak Ipar
BAB 55 : Aksi Raka


__ADS_3

Dalam keadaan pintu yang tertutup hingga tak ada tetangga kamar yang melihatnya, disiang bolong itu Raka memeluk Della.


Della yang ingin melepaskan pelukannya namun entah kenapa merasa tak berdaya.


Seakan tangan dan kakinya mati rasa, ada yang aneh. Della tau betul apa yang terjadi dengan tubuhnya.


"Kak... Lepasin Della! Della... Kepanasan!"


Cup...


Bukannya mengiyakan ucapan Della Raka malah meluncurkan sebuah kecupan di leher gadis itu.


Nafasnya Tiba-tiba tidak normal, "Hufh... Kak! Kak Raka aku kepanasan kak! Lepasin aku tolong!" Dia berusaha melepaskan diri dengan memukul pelan tangan Raka yang melingkar di perutnya tapi Raka malah terus mengecup leher Della bahkan kini terlihat bekas memerah disana.


"Dell... Kamu tau nggak, kakak bener-bener kangen banget sama kamu! Dan akhirnya kita diberi kesempatan lagi sayang!" Bisik Raka.


Nafas Della semakin menggebu-gebu, hingga kakinya begitu lemas dan hampir saja terjatuh, untung saja Raka menahannya.


Dia lalu di bawa keatas kasur, Raka merebahkan Della yang mulai menggeliat kesana kemari.


Tapi Raka kemudian berdiri ia berlari kearah pintu kemudian mengunci pintunya, tak lupa ia menutup jendela dengan gorden agar tak ada yang mengintip.


Saat ia kembali tanpa di duga ekspresi Della begitu membuat Raka terangs*ng, bagaimana tidak, matanya merem melek dengan rambut acak-acakan. Dalam hati Raka berkata inilah saatnya dia menikmati apa yang sebelumnya tertunda.


"Kak apa yang sebenarnya kak Raka masukin ke minuman itu? Apa itu obat perangs*ng? Kenapa kakak lakuin ini ke aku? Ini benar-benar nggak nyaman kak! Kakak jahat! Hikss.... "

__ADS_1


Dia meneteskan air mata, tapi sudah terlambat Raka hanya tersenyum miring mendengarnya.


"Maaf aja Dell... Lagian kamu sih nolak terus! Ya mending kakak kayak gini kan?" Katanya.


"Ahh... Tolong! Della nggak nyaman banget!"


"Kamu mau kakak bantuin nggak?" Dia masih terlihat santai saat menawarkan diri padahal perbuatannya begitu keji.


Della terus menangis, tapi itu benar-benar sangat tidak nyaman, seolah ia haus akan sentuhan, rasa gatal di area sensitifnya begitu tak tertahankan.


"Kok nggak jawab sih Dell? Mau atau enggak nih? Kalau enggak ya kakak bakal pergi sekarang!"


Sambil sesekali memenjamkan mata, Della menggertakkan giginya, "Tolong Della kak!" Pintanya dengan berat hati.


Raka tertawa puas mendengarnya, "Sekali lagi dong! Kakak nggak bisa dengar apa yang kamu bilang barusan!"


"Hahah... Oke, tapi kamu harus buka bajumu sendiri!" Ujar Raka benar-benar sangat tak terduga.


Dia juga merekam aksinya itu, dengan sangat jelas wajah Della dari dalam Rekaman ponselnya.


Saat gadis itu sudah tak tertutupi sehelai benangpun, Raka juga ikut melepas pakaiannya, dia tak mau membuang banyak waktu lagi.


Segera ia menindih tubuh Della, mengecup dada, leher lalu kewajahnya.


Della yang juga sudah tak tahan lantas memeluk erat Raka lalu mencengkram kuat punggungnya.

__ADS_1


"Kak Della takut!" Lirihnya.


"Kakak bakalan pelan-pelan Kok Dell.... "


Ternyata Raka sudah mempersiapkan semuanya termasuk alat pengaman, Saat pertama kali melihat punya Raka, Della sudah tidak kaget lagi apalagi ini kedua kalinya ia melihat punya kakak iparnya itu.


"Kamu harus pegang punya kakak dulu Dell...." Ucapnya begitu int*m sebelum ia memasang alat pengamannya.


Tangan Della bergetar dia dibantu Raka untuk terduduk karena sudah terlalu lemas, agak sedikit jijik tapi Raka ternyata menarik tangannya lalu memaksa Della untuk memegang miliknya.


"Itu aset kakak lohh... Kamu harus pelan-pelan, manjain dia ya sayang!" Katanya sambil tersenyum mesum.


Raka mengajarinya, Hingga ia mencapai kenikmatan hanya karena sentuhan Della yang seperti itu.


Ughh.... Raka mendes*h, itu benar-benar nikmat!


Setelah itu Raka melanjutkankan aksi bejatnya, dengan penuh gairah ia kembali menindih tubuh Della, menuntun miliknya untuk menerobos area sensitif gadis itu.


Aghh... Della merintih kesakitan saat ia merasa ada yang robek didalam sana, air matanya sampai menetes, itu benar-benar sakit bercampur perih.


Della mencekram lagi punggung Raka, "Sssakit kakk! Aghh... Ughh... "


"Ohh... Nanti juga bakalan nikmat Dell!" Ucap Raka.


Dia memperlambat aksinya, hingga keduanya

__ADS_1


mencapai tingkat menikmatan bersama.


Rasa tak nyaman yang Della rasakan tadi juga sudah menghilang, kini hanya capek bercampur rasa takut yang ia rasakan.


__ADS_2