Gairah Panas Kakak Ipar

Gairah Panas Kakak Ipar
BAB 76 : Tidak Kuat


__ADS_3

Raka terdiam dan hanya menatap kosong kearah Della, "Kak Raka udah mau udahan apa lanjut nih?" Tanyanya sekali lagi.


Raka langsung terduduk sambil membersihkan tubuhnya dengan beberapa lembar tissue, "mending kamu siap-siap Dell... Kakakmu udah nungguin dirumah!" Ucapnya.


Della sedikit kecewa mendengarnya, tapi dengan perasaan sedikit kesal itu dia ikut membersihkan area sensitifnya lalu bersiap-siap sambil mengerucutkan bibir.


...***...


Tiba dirumah, Della melihat Mala sudah sibuk berkutat dengan alat dapur, dia melihat kakaknya itu sudah kelelahan, "Ehm... Aku mau ngerjain yang mana kak?" Tanyanya.


Mala dengan keringat diwajahnya itu melirik kearah adiknya sambil berkata, "gantiin kakak potong-potong sayur ini aja Dell... Kakak mau mandi dulu! Kakak gerah banget soalnya!" Ucap Mala dengan suara memelas.


"Okee kak! Kakak mandi aja dulu!"


"Hm! Ohh iya kakakmu mana?"


"Katanya mau kebengkel dulu, ban depan motornya bocor kak!"


"Ohh!"


Setelah itu Mala ke kamar lebih dulu, tapi disetiap langkahnya ia sesekali melirik Della, "Bau parfume Raka kok sampai ke Della ya? Apa karena mereka boncengan di motor tadi?"


Mala yang begitu sensitif semakin mencurigai adiknya sendiri mungkin karena hamil jadi hidungnya juga ikut sensitif.

__ADS_1


Bahkan saat keluar dari kamar dengan hanya memakai handuk, Mala juga masih sering melirik Della yang fokus memotong-motong sayur.


"Enggak! Aku nggak boleh berlebihan dulu! Dia adikku! Jadi aku nggak boleh curigaan begini sama dia!" fikir Mala sambil menggelengkan kepala beberapa kali agar fikiran negatifnya itu menghilang.


Setelah mandi, Mala kaget mendapati suaminya sudah ada duduk bersebelahan dengan Della di kursi meja makan.


Raka membantu Della memotong sayuran sambil tertawa terbahak-bahak, tawa mereka barulah terhenti ketika menyadari tatapan Mala yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sayang, kamu udah mandi?" Tanya Raka.


"Kalau kamu lihatnya aku kayak gini emangnya aku belum mandi?" Jawabnya dengan dingin pada Raka.


"Ehm.. Iya juga sih!"


Mala hanya menatapnya dengan malas kemudian bergegas menuju kamar, "Kok aku jadi jealous ya lihat mereka dekat-dekat kayak gitu? Apa aku cemburu sama adik sendiri? Ahh mungkin karena pengaruh hamil kali ya?" gumamnya saat baru saja menutup pintu kamar.


Raka tiba-tiba datang, Mala memutar bola matanya dengan malas, "Sayang, kamu kenapa sih? Kok tadi kamu kasar banget sama aku? Kan Della lihat... Nanti dia fikirnya kita lagi bertengkar gimana?"


"Kasar gimana? Tadi aku nggak merasa kasar sama kamu kok! Kamu aja kali yang berlebihan!"


Raka mendengus, "Mala... Tolong dong! Aku baru aja sampai rumah, please jangan ngajak ribut! Della juga masih ada di luar, emangnya kamu nggak malu kalau sampai dia dengar kita lagi bertengkar kayak gini?"


"Apasih? Kan kamu yang berlebihan!"

__ADS_1


"Ahh udahlah... Malas banget aku ribut sama kamu!"


Raka keluar lagi dari kamar, dia dengan emosi yang meluap-luap berjalan menuju ruang tamu.


Dia duduk menyendiri disana sambil memperbaiki perasaannya. Tak lama kemudian Della datang, dia mencolek lengan Raka yang lagi murung.


"Ada apa sih kak?" Tanya dengan berbisik.


"Nggak ada apa-apa, kamu lanjutin aja kerjaan kamu!"


"Udah selesai kok kak tinggal di masak!"


"Ohh, kakak nggak mau di ganggu dulu ya Dell... Kamu kerjain apa kek gitu, yang penting jangan disini, nanti kakakmu lihat!"


Della kesal lagi karena ucapan Raka dia merajuk kembali berjalan menuju dapur.


Sampai ketika Mala dan Della berdekatan, Mala melirik-lirik area leher Della, dia menyipitkan kedua matanya.


"Dell... Kok itu di leher kamu ada kayak merah-merah gitu! Itu apa?"


Della seketika terkejut, "Ha? Masa sih kak?"


"Iya! Coba deh... Kamu pergi bercermin!"

__ADS_1


Dengan cepat Della bergegas berlari ke kamarnya.


Mala menekan dadanya, dia merasa makin curiga sekarang. Nafasnya tiba-tiba begitu sesak, serasa sangat sulit bernafas, dia seperti tidak kuat menghadapi fikirannya sendiri.


__ADS_2