
Tangan Della seperti tak kuat memegang ponselnya, bahkan sekarang dia sudah bisa menerka apa yang baru saja terjadi.
Mala dan Raka sama-sama tidak pergi bekerja dan juga pintu di kunci dari dalam, memangnya kenapa harus di kunci disiang bolong begini? Takut kecolongan tikus?.
Della menarik nafas dalam-dalam lalu berkata, "Kak tolong buka pintunya, Della ada di luar nihh.... "
Tutt...
Raka langsung memutus panggilan tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Della berdecih, "Ck... Harus banget ya disiang bolong begini?" Gerutunya.
Krekk....
Pintu terbuka, mata Della langsung menyoroti wajah Raka yang masih belum keringat, bertelanjang dada dengan hanya memakai celana sedengkul.
"Maaf ya Dell... Tadi ada.... "
Wajah Della langsung datar, "Della tau kok kak! Udah... Kakak lanjutin aja, Della mau langsung istirahat aja!" Dia lagi-lagi menyela ucapan Raka dengan malas berjalan melewatinya menuju kamar.
Raka mendengus melihat gadis itu, tapi kemudian dia tersenyum tipis.
Della mengunci pintu kamarnya, tanpa mengganti pakaian yang ia kenakan, dia merebahkan diri diatas kasur sambil menghela nafas panjang.
"Kok jadi gini sih?" Gumamnya.
__ADS_1
Ada sedikit rasa sakit didadanya dan itu sungguh tak nyaman.
Della tak paham apa maksud rasa sakit tersebut, bahkan rasanya ia malas mau mengerjakan sesuatu, untuk makan saja dia juga malas melakukannya.
Tok... Tok... Tok....
Pintu kamar diketuk
"Dell... Ini kakak! Kamu nggak makan dulu?" Ternyata itu Mala.
"Enggak! Della udah kenyang!" Jawabnya, sangat malas rasanya ia berjalan menuju pintu, makanya Della hanya berteriak diatas kasurnya saja.
"Ohh ya udah! Kamu lanjut aja istirahatnya!" Kata Mala.
Della tak menggubris lagi, dia hanya memeluk gulingnya saja dengan badmood.
Hari-hari terus berlanjut hingga 2 pekan berlalu begitu saja, dan Perasaan Della tetap saja jengkel pada Raka tanpa sebab yang Della sendiri juga tak paham.
Pagi ini dia melihat Mala tersenyum-senyum sambil memakan sarapannya, Della merasa aneh karena sikap kakaknya itu.
Raka yang duduk disamping Mala juga tidak menyadari gelagat aneh istrinya.
"Kak Mala kenapa senyam-senyum terus dari tadi?" Tanya Della.
"Coba tebak!" Kata Mala sambil melirik Della dan Raka bergantian.
__ADS_1
"Tebak apaan?" Raka menyeka.
"Aku punya info penting buat kalian! Tapi kalian jangan kaget ya!" Ucap Mala.
"Apasih kak?" Della mengerutkan keningnya dengan amat penasaran.
Mala terlihat mengeluarkan sesuatu dari kantong piyamanya, ternyata sebuah testpack bergaris dua, bahkan garisnya sangat jelas.
"Aku positif!" Ungkap Mala dengan sangat antusias, "Sayang, bentar lagi kamu jadi ayah!" Ucapnya pada Raka, "Dell... Bentar lagu kamu bakal punya keponakankan!"
Raka tampak kaget, mulutnya sedikit menganga, "ini... Ini serius kan sayang?" Ia mengambil tespeck tersebut dan memastikannya lagi.
"Heem... Lihat aja! Itu beneran dong!" Jawab Mala.
"Ya ampun, aaaa makasih sayang! Bentar lagi kita jadi mama papa!"
Pasangan itu berpelukan didepan Della yang sejak tadi terlihat biasa saja menanggapi informasi dari kakaknya itu.
"Selamat atas kehamilannya ya kak! Semoga debay sama kakak sehat-sehat terus sampe persalinan nanti!" Ucap Della.
"Makasih ya Dell.... "
Della langsung buru-buru menghabiskan sarapannya, dengan cepat pula ia meneguk air dalam gelas yang ada didepannya.
"Aku mau mandi dulu ya kak! Hari ini Della mau masuk pagi soalnya!"
__ADS_1
Dia mengangkat piringnya ke westafel lalu pergi berjalan kearah kamarnya untuk mengambil handuk.
Dia benar-benar tidak sebahagia pasangan itu, untuk menyambut keponakan? Kenapa rasanya Della tak bersemangat untuk melakukannya? Dia lagi-lagi lesu setelah memikirkan itu padahal ini masih pagi.