Gairah Panas Kakak Ipar

Gairah Panas Kakak Ipar
BAB 99 : Masuk Rumah Sakit Lagi


__ADS_3

Kini dirumah itu hanya ada Della dan Mala. Della yang masih bertekuk lutut dan Mala yang berkeringat dingin menahan amarah serta rasa sakit diarea perutnya.


Della masih menangis sesegukan dihadapan kakaknya, dia tak tau harus berkata apa lagi sekarang.


Terlihat Mala menahan tangisnya, tanpa melirik Della dia pun berdiri dengan lemah, "Kak!" Panggil Della membuat Mala terhenti dari langkahnya.


"Kak Maafin aku!" Ucapnya lirih.


"Pulanglah Dell... Kakak capek! Kakak udah nggak mau lihat kamu lagi!" Kata Mala dengan wajah memelas.


"Enggak! Aku nggak mau pulang sebelum kakak maafin aku!"


"Terserah kamu Dell! Kakak capek!"


Mala terlihat sangat lemah sekarang, dia berjalan menuju kamarnya, Tiba-tiba pandangannya berubah buram, seperti benda di sekelilingnya berputar-putar, beberapa kali ia menggeleng namun sama saja hingga kakinya tak bisa menopang tubuhnya lagi.


Brugh...


Mala akhirnya ambruk didepan pintu, dia merintih kesakitan.


Della yang melihat itu langsung kaget dan berdiri lalu berlari menghampiri tubuh kakaknya, "Kakak! Kakak kenapa?" Tanya Della.

__ADS_1


Mala tak menjawab, dia hanya merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Kak! Kakak bisa dengar aku nggak? Kak! Kak Mala!" Panggilnya terus-menerus tapi kedua mata Mala perlahan-lahan mulai terpejam.


"Kak! ya ampun Kak Mala pendarahan lagi!!" Paniknya.


Ada banyak darah yang mengalir dari area bawah kakaknya, dia ketakutan saat melihat itu.


Lama tak mendapat respon dari Mala, Della memutuskan menelfon ke rumah sakit, tangannya bahkan masih bergetar sambil menekan nomor panggilan darurat.


"Kak Mala! Please jangan buat Della takut dong kak! Kakak nggak boleh tidur! Please!" Kata Della dengan air mata yang tak bisa berhenti mengalir.


Terlambat, mata Mala sudah terpejam. Della yang masih dalam kondisi panik mau tak mau menelfon Raka, sebab tak punya pilihan lain.


Mala dibawa kerumah sakit dengan ambulance dia di temani Raka dan Della.


Raka menggenggam erat tangan Mala, pria itu meneteskan air mata.


Baru kali ini Della melihatnya menangis, entah itu hanya sandiwara atau air mata ketulusannya, namun tak dapat di pungkiri Della benar-benar mulai membenci pria yang ada di hadapannya itu karena dialah penyebab dari semua ini.


"Sayang... Bangun dong! Please... Maafin aku! Bangun dong!" Lirih Raka.

__ADS_1


"Ini semua karena kak Raka!" Ucap Della menyalahkan.


"Nggak usah di ungkit lagi, bisa nggak? Kondisi kakakmu udah kayak gini kamu malah bahas itu lagi?!"


"Mau nggak mau ini bakal di ungkit terus kok!"


"Diam ya Dell... Mending kamu nggak usah ngomong lagi!"


"Terserah aku lah... Mulut-mulut aku kok! Lagian aku benar-benar nggak nyangka, kok bisa-bisanya kak Raka malah lemparin semua kesalahan itu sama aku?!" Kata Della yang didengar oleh dua orang perawat yang bersama mereka.


Dia benar-benar tak peduli, bahkan Della memang sengaja memperdengarkannya tanpa malu.


Raka terdiam, dia hanya busa menggertakkan giginya dengan geram sambil menahan diri.


Tiba dirumah sakit, Mala langsung di bawa keruang ICU baru kemarin rasanya ia keluar dari tempat yang berbau obat-obatan itu tapi kini dia masuk lagi, dengan jarum yang tertancap di punggung tangannya.


Kondisi Mala benar-benar serius kali ini, darah tak bisa berhenti mengalir, Raka semakin panik begitu pula Della.


Mereka berdua hanya bisa menunggu didepan ruang ICU.


Raka kali ini ketakutan, dia takut terjadi apa-apa dengan Mala dan calon bayinya, apalagi saat melihat banyaknya darah tadi, dia sampai bergidik ngeri.

__ADS_1


"Kak Raka baru rasain takut ya? Terus gimana pas kak Raka tidur sama aku dan kak Elisa? Nggak mikirin konsekuensinya bakal kek gini kan? Ahh lupa, kan Kak Raka cuman tau nikmatnya aja kan?" Sindir Della yang merasa muak dengan Raka yang mondar-mandir didepan ICU.


__ADS_2