Gairah Panas Kakak Ipar

Gairah Panas Kakak Ipar
BAB 104 : Hening


__ADS_3

Della masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Daniel.


Rasanya semua sama saja, bahkan sekarang untuk percaya lagi sama orang itu rasanya sangat sulit. Untuk sekarang dia tak bisa membedakan mana manusia yang benar-benar tulus padanya.


"Aku tetap nggak bisa Daniel... Kamu cari aja perempuan lain diluar sana!" Ucapnya sembari berjalan menuju pintu.


"Aku udah coba cari Dell... Tapi nggak ada yang kayak kamu!"


Della berbalik dan berkata, "Disaat keadaanku lagi kayak gini, kamu fikir aku bisa nerima kamu? Aku nggak bisa bahagia disaat kakakku menderita karena ulahku Niel... Aku nggak bisa! Aku emang pantasnya menderita aja!"


Della menangis sesegukan, Daniel yang merasa iba lantas menghampirinya dan langsung memeluk Della, "Enggak! Kamu nggak boleh kayak gitu Dell... Semua orang pantas bahagia!"


Tangis Della semakin keras dalam pelukan Daniel, "Kalau mau nangis, nangis aja Dell... Lampiasin semuanya sampai kamu capek!"


Daniel mengelus punggung gadis itu, air matanya tak terbendung lagi bahkan nafasnya terengah-engah sekarang.


...***...


Pada saat yang sama, Raka mondar-mandir didepan ruang rawat Mala. Rauk wajahnya cemas, dia ingin masuk kedalam namun mertuanya selalu menghalangi.


Bahkan ia dilarang menjenguk bayinya, alhasil Raka hanya pasrah menerima itu semua.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berlarian menuju ruangan bayi, suara langkah itu membuat Raka panik dan menyusul ke arah ruang rawat bayi.


Dia planga-plongo kebingungan dan yang membuatnya terkejut adalah bayinya. Ternyata bayinyalah yang dalam kondisi darurat.


Raka terkejut sembari masuk kedalam ruangan itu, terlihat para dokter memberi pertolongan, "Dok! Dok... Anak saya kenapa? Anak saya kenapa dok?"


Dokternya tak menjawab.


"Sus... Anak saya kenapa?" Tanyanya lagi pada seorang perawat yang berdiri di dekat dokternya.


"Tenang dulu pak! Detak jantung debaynya tadi berhenti berdetak pak!"


Tuuuuuutttt.... Suara itu, suara yang seketika membuat tubuh Raka langsung melemas sembari melihat monitor samping anaknya.


Dia meraih tangan mungil anaknya lalu dipegang dengan pelan, ia mengelusnya sambil meneteskan air mata.


"Dok! Anak saya nggakpapa kan? Kenapa tangan anak saya dingin dok? Kenapa?" Tanyanya dengan suara bergetar.


Dokter itu menghela nafas kemudian menatap Raka, "Mohon maaf pak! Anak bapak tidak bisa diselamatkan lagi, saya ikut berduka cita!"


Dokter itu kemudian keluar.

__ADS_1


"Enggak! Nggak mungkin!"


Tak lama setelahnya, Mala datang dengan mertua Raka, tampak wanita itu benar-benar terpukul dengan ujiannya yang bertubi-tubi.


Dengan langkah pelan sambil menahan sakit di punggung tangannya yang masih tertancap jarum infus, Mala tak kuasa menahan tangisnya.


Dia hampir ambruk disamping jasad anaknya, untung saja masih ada mamanya yang mampu menopang tubuh lemasnya itu.


Mereka bertiga menangis tersedu-sedu atas kepergian bayi Mala, rasanya sangat tidak adil sebab Mala kehilangan semuanya.


...***...


Esok hari setelah jasad bayinya di semayamkan, Mala mengurung diri didalam kamar, bahkan ia tak mau makan nasi sesuap pun meski mamanya memaksa.


Sementara Raka masih berada di kuburan anaknya, dia menangis dan menyesal atas apa yang terjadi sebelumnya.


"Nak! Maafin papa ya! Ini semua emang salah papa! Maaf yah!" Lirihnya sembari mengelus nisan anaknya.


Dia kemudian pulang kerumah, rasanya rumah itu sangat sunyi, yah... Dia tau rumahnya memang selalu begini tapi hari ini rasanya sangat berbeda, hening.... Sekalii.


Dia berhenti didepan pintu kamar Mala, begitu berat Raka ingin membukanya, "Sayang... Aku boleh masuk nggak? Aku mau bicara sama kamu!" Ucap Raka dengan tangan bertaut.

__ADS_1


Tak ada jawaban sama sekali dari orang yang ada didalam kamar itu.


__ADS_2