Guardian Flower

Guardian Flower
Perasaan Aneh


__ADS_3

Suara instruksi salah satu dosen panitia hanya di balas anggukan lelah oleh mereka. Para anak muda itu mendudukkan diri di rerumputan, tangannya sibuk mencari botol minum dan makanan ringan untuk mengisi perut mereka saat ini.


Liara pun terlihat kelelahan, gadis itu meneguk air mineral yang dibawanya. Pandangannya lurus ke depan, menatap air terjun yang dapat dia lihat secara jelas.


"Aduh, cepetan dong Lee. Aku udah aus nih, kalo sampai aku mati kehausan emangnya kamu mau tanggung jawab? kamu mau bilang apa sama Papi nanti?!"


Atensi Liara teralihkan dari pemandangan indah di depannya, kedua matanya melihat pada Hyena yang sibuk sendiri dan terlihat sangat kesal. Bahkan orang orang yang mengikuti camping menoleh dan menatap pada geng Hyena.


"Aduh, ganteng ganteng mau aja di babuin sama Hyena. Emang bayarannya semahal apa sih sampai dia mau di perlakuin kayak gitu?"


"Lo kayak gak tau Hyena aja. Selain angkuh sok kaya dia juga sok jadi tuan putri, apa apa minta di layanin. Gak beruntung banget ya cowok itu, coba aja dia mau jadi cowok gue- uh udah gue sayang sayang elus elus gak bakalan gue bentak bentak, apa lagi di permaluin kayak gitu- ih eman eman!" sambung gadis berjaket pink yang tidak jauh dari Liara.


Kasak kusuk mulai terdengar, entah kenapa kedua telinga Liara panas mendengarnya. Gadis itu kembali meneguk air mineralnya, dan menghela napas panjang saat orang orang membicarakan Hyena dan pria yang menjadi pengawalnya.


"Dia memang bodoh. Dari dulu memang bodoh, kenapa mau digituin? bukannya dia bisa nolak. Apa gara gara bapaknya Hyena bayar dia mahal jadi mau aja harga dirinya di injak? dasar bodoh!" gumamnya rendah.


Ekor matanya terus saja melirik diam diam pada pria yang terlihat tidak berekspresi itu. Pria yang pernah menjadi ajudan sekaligus teman dimasa kecilnya itu walaupun usia mereka terpaut cukup jauh, terlihat menjauh dari Hyena dan gengnya.

__ADS_1


Satu tangannya membawa air mineral, lalu mendudukkan diri di bebatuan yang ada didekat sebuah pohon dan segera meneguk air itu hingga habis.


Lionel terlihat lelah dan kehausan, semua gerak geriknya tidak luput dari pandangan Liara. Dan entah kenapa hati Liara merasakan sesuatu yang tidak biasa saat melihatnya.


Sakit dan sesak.


Gadis berjaket hitam itu bangkit. Istirahat yang dia lakukan sudah lebih dari cukup, dan sekarang Liara akan memilih untuk mencari kayu bakar kedalam hutan dari pada membuat tenda.


"Ara, kamu mau kemana?" gadis berkacamata tebal itu menghentikan langkah Liara, menatap penuh rasa penasaran pada temannya.


"Tapi Ra-,"


Belum sempat mencegah, Liara sudah terlebih dahulu pergi dan berjalan cepat memasuki hutan bersama beberapa mahasiswa serta siswi lainnya. Kepergian Liara tidak luput dari pandangan Lionel, pria itu meremas botol air mineralnya, mengumpat kecil kala melihat Liara semakin menjauh darinya.


Lionel bangkit, dia hendak menyusul gadis itu tapi suara gadis yang lain kembali menginstruksikannya untuk tetap di tempat.


"Lee, bantu kami buat tenda!"

__ADS_1


Lionel semakin meremas botol yang ada ditangannya. Ekor matanya terus saja melirik pada Liara yang berjalan semakin jauh, tapi sayangnya dia tidak bisa menyusul gadis itu untuk memastikan kalau sang Bunga akan baik baik saja.


'Gadis bangkai sialan!' gumamnya.



...PUTRI BUNGA LAGI NYARI KAYU BAKAR😂😂...



**BANG SIMBA KETAR KETIR


DOBEL UP, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA JUGA YAAAAAAAAA😘😘😘


LOPE LOPE KALIAN SEMUA


SEE YOU TOMORROW MUUUAACHH😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2