Guardian Flower

Guardian Flower
Bukan Kucing Tapi Singa


__ADS_3

Kedua mata Lionel masih saja tertuju pada pintu balkon, tangan kanannya yang sudah bersiap merogoh sesuatu dari balik hoodie hitam yang dia gunakan kembali terurung.


Tangan berotot itu terkepal, jakunnya naik turun terlihat tidak stabil. Lionel merasa kesal, entah kenapa baru sekarang dia sulit untuk menemukan orang dibalik pesan singkat dan teror ini.


Pria bertato ular itu termenung sejenak, helaan napasnya pun kembali terdengar. Lionel sibuk dengan pemikirannya sendiri hingga tidak menyadari pergerakan dari tempat tidur.


"AAAKKHHH KAMU SIAPA?!"


Teriakan itu berhasil membuat Lionel tersadar, pria itu berbalik- tudung hoodie masih menutupi kepala serta wajahnya, membuat gadis yang tidak dia sangka akan terbangun meringkuk semakin menjauh.


Tidak, gadis itu tidak meringkuk karena ketakutan, tapi dia merogoh sesuatu dari balik selimutnya.


Sebuah belati


Satu alis Lionel terangkat, dahinya pun mengerut kala melihat gadis kecil yang pernah dia asuh dengan berani menodongkan benda tajam ke arahnya tanpa takut.


"SIAPA KAMU?! JAWAB, ATAU AKU LEMPAR BELATI INI KE KEPALA-,"

__ADS_1


"Turunkan senjata tajam itu, My Princess. Kau bisa melukai ku kalau sampai tangan mu terpeleset." Lionel menanggapinya dengan santai. Pria itu berjalan mendekat pada Liara sembari melepaskan tudung hoodienya.


Kedua matanya menatap lekat netra Liara yang tadinya penuh kewaspadaan kini berangsur tenang. Entah kenapa Liara tidak segarang tadi setelah melihat siapa orang di balik tudung itu, padahal Lionel juga kan bukan orang yang menghuni rumah ini- pria itu adalah seorang penyusup.


"Ngapain kamu di kamar aku?" geram Liara tertahan.


Gadis itu menoleh kesana kemari, hingga kedua matanya tertuju pada balkon kamar.


"Kamu manjat? apa jebol pintu depan?" tanyanya lagi dengan gemas.


Dia bangkit, selimut yang membungkus tubuhnya tercampakan begitu saja. Kedua kaki telanjangnya menapaki ubin dingin, untungnya saat ini Liara memakai piyama walaupun bercelana pendek di atas lutut, tapi setidaknya aman karena biasanya dia hanya memakai tanktop dan hotpant separuh paha.


Liara yang tengah memperhatikan area balkon kembali menoleh, kedua matanya menatap tajam pria yang tengah santai mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.


"Tidur? kamu pikir aku bisa tidur kalau ada cowok yang bukan muhrim aku di kamar. Kamu pikir aku cewek apa-,"


"PRINCESS, KAMU GAK APA APA? KENAPA TADI TERIAK? BUKA PINTUNYA GRANDPA MAU MASUK!"

__ADS_1


Kedua mata Liara melotot, suaranya tercekat kala mendengar gedoran serta teriakan dari luar pintu kamar. Itu suara Grandpa Gentala, pria tua itu pasti belum tidur dan kenapa bisa mendengar suaranya tadi? bukankah kamar ini kedap suara?


"EMM- AKU ENGGAK APA APA GRANDPA. TADI MAU PIPIS LIAT KECOAK DI KAMAR MANDI, SEKARANG MAU BOBO LAGI!"


Liara tidak berani untuk membuka pintu, dia hanya membalas teriakan Grandpa nya dengan keras. Liara yakin Gentala dapat mendengarnya dengan jelas dan tidak akan memintanya untuk membuka pintu.


"Yakin? kamu gak mimpi buruk atau liat sesuatu yang-,"


"Enggak Grandpa, Ara gak apa apa. Udah Grandpa tidur aja, Grandma pasti udah nunggu."


Liara menggigit kukunya karena gugup, kedua matanya menatap secara bergantian antara pintu dan Lionel yang masih duduk dengan tenang diatas tempat tidurnya.


Mantan ajudan sialan! bisa bisanya dia bersikap seolah ini adalah kamar pribadinya. Bagaimana kalau Gentala tahu didalam kamar cucunya ada seorang pria dewasa?


"Ya sudah, kamu tidur lagi. Kalau ada apa apa teriak aja, jangan lupa kunci balkonnya. Kamu sering lupa kalo ngunci, takutnya ada kucing garong masuk!"


__ADS_1


NGECE TUH AKI AKI, KUCING GARONG KATANYA


__ADS_2