
Liara semakin terlelap, dengkuran halusnya terdengar- bahkan dadanya sudah naik turun dengan teratur menandakan Sang Princess sudah memasuki alam mimpi.
Lionel yang masih terjaga hanya menatap lekat dari sofa, pria itu tidak bergerak sedikit pun dari sana selepas Liara memerintahkannya untuk diam. Tapi sekarang pria bertato ular itu perlahan bangkit, pandangannya masih tertuju pada Liara dan mendekat ke arah tempat tidur.
Dengan pelan dia mendudukkan diri di sisi Liara, satu tangannya terulur menyentuh wajah tenang Sang Princess. Gadis ini semakin terlihat sempurna bahkan ketika sedang memejamkan kedua matanya, sudut bibir Lionel terangkat- entah mengapa dia malah tersenyum sendiri kala mengingat hal yang pernah diungkapkannya tadi.
"Aku tidak menyangka akan seberani itu mengungkapkannya kepadamu Princess. Apa menurutmu aku pantas mendapatkan balasannya? atau biarlah hanya aku yang memiliki rasa takut kehilangan mu sedangkan kau-,"
"Simba,"
Ucapan Lionel terhenti kala mendengar gumaman Liara, dahi gadis itu mengernyit dalam- tapi tidak lama karena setelah itu dia kembali tenang dan berbalik memunggungi Lionel.
Kekehan kecil pria itu terdengar, Lionel bangkit- dia sedikit menjauh dari tempat tidur namun kedua matanya masih menatap lekat Liara yang sudah kembali terlelap sembari memeluk bantal gulingnya. Helaan napas kasar Lionel terdengar, pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain- namun entah kenapa kedua kakinya malah mendekat kembali pada Liara dan merendahkan tubuhnya.
"Tidurlah, jangan bangun sebelum aku kembali oke!" bisik Lionel.
Cup!
__ADS_1
Setan tidak dapat menahan lebih lama belenggu yang Liara pegang, tali yang mengikatnya terlepas karena Sang Princess sudah terlelap hingga pada akhirnya Lionel berhasil mencuri satu kecupan di pelipis Liara sebelum dia benar benar menjauh lalu keluar dari kamarnya. Pria itu berencana untuk keluar, dia akan membeli sesuatu untuk Liara. Lionel tahu, pasti Sang Princess akan kelaparan saat terbangun nanti.
Ekor mata Lionel mengarah ke satu titik, tatapannya menajam- dia terlihat memastikan sesuatu sebelum meninggalkan unit apartemen sederhananya.
Di tempat lain, Delila terlihat kebingungan mencari Kakak Sepupunya. Gadis remaja itu berjalan cepat menuju parkiran, dia harus memastikan kalau mobil Liara masih ada disana. Tapi kalau tidak ada berarti Sang Kakak benar benar meninggalkan kampus.
"Ngomongnya mau ke toilet, lah ini di tunggu sampe abis tiga mangkok bakso kagak nong- WOY SIAPA LO?! LO APAIN MOBIL KAKAK GUE?!"
Delila berteriak heboh kala kedua matanya yang jeli melihat mobil kesayangan Liara tengah di derek. Gadis itu berlari cepat, kedua sorot matanya menampilkan kecurigaan yang sangat dalam.
"Kalian ngapain bawa mobil Kakak gue? mau nyol-,"
Ingin menampilkan kesan imut, tapi ternyata di mata Delila malah terlihat amit amit.
"Siapa yang nyuruh kalian buat bawa mobil i-,"
"Lo bisa baca sendiri pesannya! disana ada nama Dahliara, cewek itu yang minta kita bawa nih mobil. Tapi kalo lo ngotot dan nuduh kita nyolong mending kita batalin!" sela pria yang ada didalam mobil derek.
__ADS_1
Delila yang hanya bisa mendengar suaranya saja tiba tiba memiringkan sedikit kepalanya, entah kenapa dia penasaran dengan pria yang ada didalam mobil. Ucapannya terdengar sarkastik dan kasar, tapi suaranya ngebass bagaikan genderang perang.
"Loh kagak bisa gitu dong Ron! kita udah jauh jauh kesini, masa dibatalin gitu aja. Aahh rugi bensin nih, mana bensin mahal lagi lo kira kita jalan kesini pake aer kencing!" rekannya terus saja mengoceh, dia tidak menerima kalau sang teman membatalkan tugas mereka.
"Eehh jangan dibatalin! ya udah kalian bawa aja sana. Nanti biar gue yang ngasih tau Kak Ara," cetus Delila dengan nada suara yang lebih lembut. Kedua matanya terus saja terarah pada pria yang masih bersembunyi di balik mobil derek.
'Aaiihhh kekepoannya meronta ronta, moga suara sama rupa kagak nipu dah!'
"Noh lo denger Baron, si neng geulis udah gak masalahin lagi. Hehe kalo gitu kita otw dulu ya, moga aja bisa ketemu lagi. Aduh cantik bener dah, gue betah kalo lama lama disini, moga aja banyak mobil yang mogok!" cetusnya lagi dengan nada candaan.
Namun sayang Delila tidak menanggapinya, gadis itu masih terfokus pada mobil derek, lebih tepatnya pada sang sopir yang sayangnya tidak terlihat dengan jelas hingga mobil itu keluar dari area kampus.
Tapi setelah si sopir derek itu pergi, Delila malah teringat sesuatu yang membuat senyumannya mengembang.
"Baron? namanya Baron? serem sih, tapi- au ah kagak jelas juga tuh muka!" cebiknya lagi penuh kekesalan.
__ADS_1
**BANG SIMBA LAGI NAEK POON
HAYOLOH DELILA JANGAN NAKAL ENTAR LO DI JADIIN BAHAN GAME SAMA PAK DAVYN😂😂😂**