
Liara terus saja berpegangan pada lengan pria yang ada di depannya. Ekor matanya terus saja memindai ruangan yang dilewatinya bersama Lionel, keduanya belum menemukan apa pun disana- hingga saat masuk keruangan lain langkah Lionel terhenti dan itu juga membuat Liara menabrak punggung telanjang mantan ajudannya.
Tulang hidungnya berdenyut, gadis itu memejamkan kedua matanya- Liara meringis namun tidak mengeluarkan suaranya.
"Tunggu disini, jangan kemana mana"' tegasnya.
Liara yang masih merasakan denyutan di hidungnya tidak bisa membantah, padahal dia ingin sekali mengatakan tidak mau.
Lionel berjalan pelan menuju jendela kaca yang ada diruang tamu apartemennya, dia dapat melihat kaca besar yang tebal itu pecah berserakan. Pria itu berjongkok memungut sesuatu yang ada diantara serakan kaca, sesuatu yang sudah membuat apartemennya berantakan.
"Kacanya pecah?"
Lionel menghela napas kasar saat mendengar suara dari arah belakangnya, pria itu bangkit dan menggenggam erat benda yang dia temukan disana. Dia berbalik, menghadap Liara yang masih mematung namun kedua matanya menatap ke arah jendala yang sudah hancur.
"Itu kenapa bisa pecah?" Liara kembali bertanya, bahkan dengan santai dia melangkah mendekat ke arah pecahan kaca, namun langkahnya terhenti saat lengannya di tarik seseorang.
"Mau kemana? kau tidak melihat kalau disana banyak pecahan kaca!"
Liara memberengut, gadis itu memilin jari jemarinya. Liara menunduk saat melihat tatapan tajam padanya, wajah kaku yang Lionel tunjukan membuatnya sedikit takut.
"Mukanya jangan gitu ih." rengeknya.
Sang gadis mengusap kasar wajah Lionel, dia tidak suka melihat wajah datar dan kaku itu. Liara lebih suka melihat wajah tenang dan jahil Lionel, dia tidak suka dengan ekspresi serius yang pria itu tunjukan sekarang.
__ADS_1
"Kau tidak mendengarkan ku, Princess," cetusnya masih dengan ekspresi kaku.
Liara tidak menyahut, gadis itu malah bergeser mendekat pada Lionel. Tangannya terulur, jari telunjuknya menekan lengan berotot sang mantan ajudan berulang kali.
"Aku kan cuma mau lihat. Jangan marah ya ya ya," kedua mata Liara berkedip manja, berusaha membujuk pria yang masih menatap datar padanya.
Liara berusaha menampilkan senyumannya, walaupun terkesan terpaksa namun dia berusaha membuat pria bertato ular itu kembali normal. Karena Liara yakin kalau saat ini Lionel masih dalam mode Singanya, gadis itu menghela napas pelan- ternyata Singa Tua ini cukup mengerikan saat marah.
"Ayo aku akan mengantarmu pulang!"
Lionel mengusap pucuk kepala Liara lalu berbalik dan berjalan menuju kearah kamarnya. Sementara Liara masih mematung di tempatnya, gadis itu tersenyum kecut- entah kenapa dia merasa tidak ingin keluar dari tempat ini. Liara masih ingin berada di apartemen Lionel, dia belum ingin pulang- bagaimana cara mengatakannya?
"Pakai jaketnya!" Lionel kembali sembari membawa jaket hoodie untuk Liara pakai.
Pria berambut pirang dan sedikit gondrong itu sudah memakai kaos hitam, lengkap dengan jaket jeans berwarna lusuh melekat ditubuh kekarnya.
Gadis itu terlihat ragu, bahkan enggan untuk memakai benda yang di berikan oleh Lionel. Liara lebih memilih untuk meletakan jaket hoodie yang di berikan Lionel diatas kursi, dia mendekat pada mantan ajudannya. Kedua matanya menatap lekat, perlahan namun pasti Sang Princess melingkarkan kedua tangannya di tubuh Lionel.
Liara membenamkan wajahnya di dada Lionel, tangannya mencengkram erat kaos sang mantan ajudan. Sang Bunga Albarack terlihat enggan untuk menjauh dan keluar dari tempat ini.
Entah kenapa Liara pun tidak tahu.
"Aku masih mau disini," lirihnya.
__ADS_1
Dekapannya semakin erat, bahkan kedua tangannya sudah melingkar sempurna di pinggang Lionel. Liara terlihat tidak ragu melakukannya, sementara Lionel pria itu masih terdiam- tapi tidak lama pria itu membalas pelukan Liara tidak kalah erat.
Lionel melingkarkan kedua tangannya di tubuh Liara sembari memberikan kecupan ringan di pucuk kepala Sang Princess.
"Hari ini kau harus pulang. Tuan Gentala pasti akan mengkhawatirkan mu kalau sampai cucunya tidak pulang. Aku akan melihat mu dari jauh, jangan lupa kunci balkon sebelum kau tidur. Jangan ceroboh! karena mata ku hanya ada dua tidak bisa selalu melihat mu setiap saat."
Lionel terus saja mengoceh, memberi peringatan dan petuah pada gadis ceroboh yang selalu membangkang ucapannya.
"Nunggunya di balkon aja, jangan diluar," gumamnya.
Lionel menggeleng, dia meregangkan pelukannya dan menangkub wajah Liara menggunakan kedua tangan besar bertatonya.
"Tidak bisa, kalau pun bisa aku tidak akan melakukannya."
Dahi Liara mengernyit, " Kenapa?" tanyanya kesal.
"Ini bukan Dubai Princess, kalau aku ketahuan berada di kamar seorang gadis tanpa alasan dan tugas, apa yang akan Kakek mu lakukan pada ku nanti?" Lionel menaikan satu alisnya, menatap lekat pada Liara yang juga tengah berpikir.
"Menikahkan kita." cetusnya ringan.
HAYOLOOHH MAU NGAPAIN 🏃🏃🏃
__ADS_1
SOSORR BANG 🏃🏃