Guardian Flower

Guardian Flower
Bebas


__ADS_3

Lionel berjalan masuk ke sebuah rumah mewah milik orang yang menyewa jasanya selama dia berada di Indonesia.


Kedua matanya fokus, tidak melewatkan sedikit pun setiap seluk beluk tempat yang dia pijak sekarang. Ingatan Lionel cukup kuat untuk merekam semua hal yang baru saja dia lihat.


"Tuan Besar sudah menunggumu, masuk lah!"


Seorang pria berpakian khas sopir membukakan pintu utama untuk Lionel. Pria yang usianya tidak lagi muda itu mengikuti langkah Lionel tanpa bersuara. Namun saat pria bertato yang ada di hadapannya terlihat menghentikan langkahnya, dia segera mendahului. Karena pria itu yakin kalau pemuda yang ada dihadapannyan ini tidak tahu dimana Sang Tuan Besar berada.


Tanpa banyak bertanya Lionel kembali melangkah, mengikuti jejak kaki pria tua yang membawanya kehalaman belakang.


"Lee sudah datang, Tuan."


Pria yang tengah bermain golf mini itu menoleh, satu alisnya terangkat kala melihat bawahannya membawa pria yang sudah mengajukan resign padanya.


"Duduklah Lee. Aku akan segera selesai," cetusnya ringan.


Lionel yang masih berdiri di tempatnya tidak menggubris, dia tetap berdiri sembari menatap datar pada orang yang semakin membuang waktunya percuma.


"Aku kesini hanya ingin membayar pinalti sesuai dengan apa yang ada di perjanjian kita. Kau bisa mendapatkannya sekarang, Tuan Hendro."

__ADS_1


Lionel mengeluarkan satu buah kotak kecil beludru berwarna hitam lalu membukanya lebar.


"Apa ini cukup?" tanyanya.


Hendro yang masih sibuk memegang tongkat golfnya terlihat menoleh, satu alisnya terangkat kala melihat kilauan indah yang berasal dari benda dihadapannya.


"Berlian murni, aku tidak menyangka kalau Mr.Lee memiliki benda yang hanya ada di meja Kasino." Hendro mendekat, tangan pria itu terulur, kedua matanya terpesona melihat kilauan mahal yang ada didepannya saat ini.


"Baiklah, kau sudah terbebas. Japra akan mengambil perjanjian itu dan menyerahkannya padamu. Sekarang apa yang akan kau lakukan setelah terbebas dari tugas mu?" lanjutnya.


Hendro terus saja mengoceh tanpa berniat menatap pada mantan ajudan anaknya. Pria itu lebih senang menatap kilauan indah di depan kedua matanya.


"Tidak ada! kalau begitu aku permisi. Katakan pada bawahan mu kalau aku menunggunya diluar!"


Dia keluar dari rumah mewah itu tanpa ingin menoleh lagi kebelakang. Bahkan saat ekor matanya melihat seorang gadis yang pernah dia kawal selama beberapa hari, Lionel tidak menggubris- dia berjalan tegap meninggalkan semua yang dulu menjadi bebannya, termasuk sang gadis.


"PAAAA! KENAPA LEE PERGI GITU AJA? DIA MASIH JADI PENGAWAL AKU KAN?"


Hendro yang masih menatap berlian itu terdengar menghela napas. Pria itu segera menyembunyikan benda berharga itu di balik kantung celananya.

__ADS_1


"Nanti Pap carikan pengawal yang baru," cetusnya santai.


"TAPI PA-,"


"Sssttt- udah, putri Papa gak boleh marah marah nanti filernya putus."


Hendro menepuk salah satu pipi putrinya dan berjalan masuk, dia tidak peduli dengan wajah kesal Hyena yang saat ini ingin memakan orang hidup hidup.


Kedua kakinya menghentak, bahkan dengan tidak berperasaan gadis itu melemparkan sepatunya ke arah aquarium kecil yang tak berdosa hingga pecah.


"Gue yakin ini semua gara gara gadis kembang itu. Dia siapa sih sebenarnya? apa dia benar benar anak sultan Dubai, kayak yang gue denger di perkemahan," gumamnya.


Jujur Hyena masih tidak percaya kalau Liara adalah seorang putri Dubai, kalau memang semua itu fakta bisa jadi posisi mahasiswi konglomerat dan famous di kampus beralih pada orang lain, tidak menutup kemungkinan pada Liara. Apa lagi kalau berita itu memang fakta yang ada.


Tidak, Hyena tidak akan bisa menerimanya apa pun yang terjadi. Tidak ada upik abu yang menjelma jadi tuan putri di dunia nyata ini.


"Gue harus cari tau!" tekadnya.


__ADS_1


**SI SINGA AKHIRNYA BEBAS


SEE YOU MUUUAACHHH😘😘**


__ADS_2