
Didalam kelas Liara terus saja melamun, gadis itu terlihat begitu tidak bersemangat. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada satu satunya orang yang tidak memberinya kabar selama satu minggu ini.
'Simba,' bisiknya dalam hati.
Entah sudah berapa kali helaan napas keluar dari bibirnya. Kedua matanya terus saja terarah pada jendela kaca, pandangannya kosong terlihat mati tapi tetap hidup.
Dimana pria itu sekarang? kenapa dia tiba tiba menghilang? apa yang sudah terjadi, kenapa Simba lenyap begitu saja setelah mengacaukan perasaannya? apakah pria itu sengaja melakukannya, setelah dirinya terbawa perasaan dia pergi begitu saja tanpa pamit?
Apa ini sudah di rencanakan sebelumnya? kalau memang begitu kenapa pria itu jahat sekali.
Liara terus saja berkelana dengan pemikirannya sendiri. Gadis itu memejamkan kedua matanya, menarik napas sedalam mungkin- mencoba menenangkan hati serta otaknya yang sudah gundah gulana, hingga tanpa sadar Liara hampir saja mematahkan pensil yang ada di genggamannya.
"Dahliara!"
Liara tersentak saat namanya di panggil, kedua mata gadis itu mengerjap cepat. Berdehem sebentar sebelum dia bangkit dan berjalan kedepan.
Di saat Liara tengah gundah gulana dan kesal, di area bandara seorang pria tengah berjalan cepat. Satu jam perjalanan yang dia lewati terasa amat lama, hari ini dia akan menyudahi acara kucing kucingannya. Dia sudah tidak tahan, rasanya sekarang ingin sekali menghilang agar segera sampai di tempat tujuan.
Satu minggu terkurung di apartemen teman gilanya membuat Lionel ikutan gila. Setiap pagi siang sore malam kedua mata sucinya harus melihat banyak adegan mesum yang di buat Lay dengan istrinya.
Sepasang suami istri itu tidak peduli dengan kehadirannya, padahal mereka berdua lah yang menyuruhnya datang ke sana.
Memang sialan!
Lionel tidak henti hentinya menyupah serapahi temannya itu. Bahkan saat dia sudah menaiki taksi pun rasa kesalnya enggan hilang. Setelah memberitahukan alamat yang ingin dia tuju, Lionel menyempatkan diri untuk memejamkan kedua matanya sejenak.
Dia harus merileks kan pikirannya sebelum bertemu dengan gadis yang mengganggunya setiap saat.
__ADS_1
🦁
🦁
🦁
Liara memijat pangkal hidungnya saat keluar dari ruang kelas, wajahnya terlihat sayu dan kusut. Dosen mengomelinya habis habisan saat dia ketahuan tidak memperhatikan penjelasaannya tadi. Terlebih saat sang dosen memintanya mengulang dirinya hanya mampu tersenyum sembari memelas.
Dan akibatnya Liara harus mendapatkan tugas tambahan. Bukan hanya beban otak yang dia dapatkan, tapi juga rasa malu di depan mahasiswa dan mahasiswi lainnya tadi.
"Liara!"
Gadis itu kembali menghela napas kala kedua telinganya kembali mendengar panggilan dari belakang tubuhnya.
Dengan malas dia berbalik, Liara terlihat berusaha menarik kedua sudut bibirnya agar tersenyum dan tidak terlihat menyedihkan. Tapi saat dia berbalik sempurna, kedua matanya sedikit membola kala melihat siapa yang memanggilnya.
Liara masih terlihat tenang saat pria bertubuh jangkung itu semakin mendekat ke arahnya. Tatanan rambutnya yang rapih, juga penampilannya yang terlihat tidak seperti para mahasiswa kebanyakan, membuat pria ini cocok menyandang predikat itu.
Jangan lupa kepintaran otaknya yang sudah tidak di ragukan lagi oleh para dosen dan petinggi kampus.
"Ada undangan untuk kamu dan adik sepupu kamu. Itu undangan syukuran atas kemenangan kampus kita di ajang olimpiade. Mau datang atau pun enggak terserah yang jelas pihak kampus sudah mengundang." pria itu memberikan dua lembar kartu undangan pada Liara.
Bahkan disaat Liara tidak kunjung meraihnya, pria yang bernama Gading itu memberikannya dengan paksa.
Interaksi keduanya terlihat sangat dekat di mata orang orang yang melihat dari kejauhan. Mereka terpokus pada pegangan tangan keduanya, terlihat sangat dekat padahal kenyataan yang sebenarnya adalah itu adegan pemaksaan.
Tidak hanya warga kampus yang melihat, tapi juga seorang pria berambut ikal dengan sedikit pirang dan di kucir rapih yang terus menatap tajam ke arah keduanya.
__ADS_1
"Oke, aku bakalan usahain datang," ucap Liara.
Gadis itu kembali tersenyum dan memasukan dua undangan itu kedalam tasnya. Sementara Gading mengangguk pelan, pria itu sedikit kikuk melihat senyuman gadis yang jarang berinteraksi dengan warga kampus lainnya.
Dia saja baru dua kali ini berinteraksi dengan gadis yang bernama Dahliara, waktu di perkemahan saat Liara terkilir dan sekarang.
"Kalau gitu aku ke ruang dosen dulu. Jangan lupa datang oke!" Gading segera beralu setelah merasa suasana makin kikuk.
Dia berlari kecil sembari menggaruk kepala bagian belakangnya, jelas terlihat sekali kalau Gading memang tengah salah tingkah dan itu tidak lepas dari kedua mata pria berjaket hitam yang sejak tadi melihat gerak geriknya.
Dan kini tatapan itu beralih pada gadis yang masih menatap punggung Gading. Hanya menatap tidak melakukan apa pun, tapi entah kenapa dirinya tidak suka melihatnya.
Perlahan kedua kaki kokohnya berjalan mendekat pada Liara, matanya menatap tajam penuh perhitungan, terlebih saat melihat sang gadis semakin menipiskan bibirnya setelah melihat punggung lebar itu menghilang di balik tembok.
"Sudah puas melihatnya, Princess?" tuturnya dengan suara tertahan.
Liara yang tadinya terus saja menatap ke arah lain, reflek menoleh dengan cepat. Kedua matanya membola, namun dengan pintar dia berusaha menyembunyikan rasa keterkejutannya.
Kedua alisnya menukik, dahinya berkerut, terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras.
"Maaf, kamu siapa ya? saya gak kenal tuh!" sahutnya dengan wajah judes dan sangat tidak bersahabat sama sekali.
Bahkan Liara segera melangkahkan kedua kakinya tanpa ingin menatap pria yang satu minggu ini sudah membuatnya hidup segan mati tak mau.
'Rasakan balasannya yang lebih pedih, Simba!'
__ADS_1
BANG SIMBA TELAT UP GARA GARA MATI LAMPU GAK ADA SINYAL BLAS DARI KEMAREN, DARI SIANG KEMAREN BELOM HIDUP SAMPE PAGI INI 😭😭😭 INI AJA NYARI KE PUNCAK BUKIT BIAR DAPET SINYAL YALOH YALOH YALOH 😭😭😭