
"Huuuaaaaa Papaaaaa!"
Baron menutup kedua matanya saat telinganya kembali mendengar pekikan seorang gadis, yang tengah di tangani oleh dokter.
Akibat kelalaiannya gadis itu mengalami cidera di lutut. Salah satu lututnya membentur dashboard dan harus di gips untuk beberapa waktu. Padahal Baron sendiri tidak mengalami cidera apa pun, tapi entah mengapa gadis cerewet dan tengil itu malah terluka.
Menambah masalah saja!
Pria itu terlihat bingung sendiri, disini dia lah korbannya kenapa sekarang malah jadi tersangka. Kalau gadis itu tidak memaksanya dan membuatnya terlihat jahat di mata orang lain.
Dan sekarang Baron kembali terlihat bersalah, kali ini sedikit fatal karena sudah menyebabkan gadis perawan orang lain terluka karena ketidakfokusannya.
"Dimana anak saya?!"
Seorang pria paruh baya terlihat khawatir dan tergesa mendekat ke arah pintu ruang rawat, napasnya terengah- dibelakangnya ada seorang wanita juga terlihat tergesa dengan wajah tak kalah khawatir.
Baron yang tidak tahu dan sama sekali tidak mengenal dua orang wanita serta pria itu, hanya terdiam- dia bahkan sedikit bergeser untuk memberi ruang.
Tapi suara panggilan dari dalam ruang tindakan membuatnya kembali sigap.
"Keluarga pasien!" seorang perawat wanita keluar, kedua matanya mencari seseorang yang tadi datang membawa sang pasien.
"Mana anak saya, Sus?! tadi dia nelpon saya lewat nomor rumah sakit ini. Sekarang gimana keadaan anak saya? kenapa dia bisa sampai di gips?"
Pria paruh baya itu kembali bersuara, kedua matanya menatap tajam pada sang perawat yang belum siap untuk menjawab pertanyaan beruntun itu. Sementara Baron yang tadinya siap untuk membuka mulutnya terlihat kembali mengatup, pria itu menatap pada pria dan wanita yang saat ini dia yakini sebagai kedua orang tua sang gadis.
Sial! kenapa gadis itu malah menghubungi kedua orang tuanya? apa gadis itu ingin melihatnya di maki didepan banyak orang?
Baron perlahan mundur, dia bersiap untuk pergi dari sana- menghindar adalah hal yang paling benar saat ini. Tapi sayang seribu sayang, belum sempat dia berbalik Sang Perawat terlebih dahulu memanggilnya.
__ADS_1
"Eh Mas! Mas yang tadi bawa pasien kesini kan? pasien terus menanyakan Mas nya, ayo masuk! Ibu dan Bapak juga sudah bisa mengunjungi pasien."
Baron mengumpat dalam hati, pria itu mendesis pelan dan berusaha untuk menganggukkan kepalanya. Sementara pria paruh baya yang tidak jauh darinya itu terlihat menatap lekat, tapi dia tidak sempat menyapa atau pun menegur Baron, karena wanita yang ada disisinya segera membawanya masuk.
Sedangkan Baron perlahan mengkuti dari belakang, kabur pun saat ini bukan hal yang terbaik karena mereka sudah melihat wajahnya tadi.
Dengan berat hati Baron kembali melangkah, dia terlihat ragu untuk masuk kedalam. Terlebih saat kedua telinganya kembali mendengar tangisan gadis yang celaka olehnya.
Semoga saja gadis itu tidak cedera parah.
"Kaki aku patah, aku gak bisa jalan," gadis itu semakin histeris.
Dia memeluk pria paruh baya yang tengah menenangkannya. Sementara wanita yang masih terlihat cantik di dekat sang gadis, hanya mengusap pucuk kepalanya sembari terus saja mengucapkan kata kata penenang.
"Kenapa kamu bisa kayak gini?"
"Delila jawab Papa! kenapa kamu bisa kayak-,"
"Permisi, maaf Bu Pak. Apa saya boleh bicara seben-,"
"Kamu siapa?"
Baron mengatupkan bibirnya saat ucapannya di sela. Pria berambut sedikit panjang dan juga berantakan itu terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Saya-,"
"Ah- saya tahu kamu pasti orang yang sudah membuat anak saya cacat seperti ini. Dia tidak bisa berjalan, pastinya akan kesulitan saat melakukan apa pun nanti. Bahkan mungkin berak pun dia tidak akan bisa sendiri dan kamu yang sudah membuat anak saya ca-,"
"Papa! Lila gak cacat ih. Kaki Lila cuma digips nanti juga bisa sem-,"
__ADS_1
"Diam kamu! jangan banyak ngomong. Kalau banyak ngomong kaki kamu yang di gips itu bisa bergeser dari tempatnya!"
Mulut Delila mengatup, dia menatap kesal pada pria paruh baya yang sayangnya adalah Papa kandungnya sendiri, Davyn Prayoga- putra bungsu dari pengusaha gamer ternama yaitu Gentala Adam Prayoga.
"Tapi saya-," Baron berusaha membela diri, namun lagi lagi kata kata yang dia ucapkan harus tertelan kembali. Pria itu berdecak dalam hati saat melihat lirikan maut yang Davyn layangkan.
"Apa?! kamu mau ngomong apa hai anak muda. Jangan kira setelah apa yang sudah kamu lakukan pada putri semata wayang saya, kamu bakalan bebas. No nehi nehi! kamu harus tetap tanggung jawab. Lihat, betapa menderitanya dia, putriku yang malang tidak bisa berbuat apa pun sekarang karena kakinya ca-,"
"Oke, saya akan bertanggung jawab. Tapi tolong jangan katakan lagi kalau putri anda cacat Pak. Dia hanya di gips dan masih bisa berjalan saat sem-,"
"KAPAN SEMBUHNYA?! dua bulan tiga bulan empat bulan? kamu pikir pinggang saya gak encok kalau harus tiap hari gendong dia ke kamar mandi kalau mau boker!"
Baron mengusap dadanya karena terkejut, pria itu terlihat berusaha sabar dan sabar lagi. Menghadapi pria yang sudah hampir uzur memang susah susah gampang, jadi bersabarlah.
"Saya akan membelikan dia-,"
Ucapan Baron kembali tertahan saat Davyn mengangkat satu tangannya, ekor mata pria itu melirik sinis padanya dan terlihat penuh perhitungan.
"Nikahi putriku! atau ku sunat lagi tangkai latto latto mu itu!" ucapnya ringan.
"PAPA!" seru Delila dan sang Mama secara bersamaan. Kedua mata mereka membulat hampir keluar dari tempatnya, begitu pula dengan Baron. Pria itu mendelik horor, tatapannya menajam dan terlihat tidak percaya.
'Apa apaan ini?! kenapa gue jadi harus nikahin? wah gila nih bapak bapak.' sungut Baron di dalam hati.
PASRAH ATAU MEMBATAH
CERITA MEREKA AKU LANJUT DI LAPAKNYA NANTI YA, JADI TUNGGU KELANJUTANNYA DISANA OKE😘😘😘😘
__ADS_1