Guardian Flower

Guardian Flower
Ukur Saja!


__ADS_3

"Kita mau kemana lagi, kaki aku udah capek, pegel, sakit, mana nih baju nyusahin lagi. Liat, aku susah jalan pake gamis kayak gini tuh!" Liara terus saja menggerutu sepanjang langkahnya, dia sudah terlihat kelelahan. Berkali kali menyembunyikan diri dari pada penjaga yang ada di kapal ini.


Kapal pesiar berlantai tiga ini lebih besar dari lapangan sepak bola, saat ini Liara dan Lionel sedang berada di lantai dua. Lionel berencana akan menuju lantai tiga, dia tahu kalau disana ada banyak perahu karet yang bisa di gunakan untuk pergi dari sini.


Pasti banyak juga mesin untuk menggerakkannya, atau bahkan sekoci moderen yang lebih dari dia inginkan sekarang.


"Simbaaaaa!" rengeknya lagi.


Liara sudah menghentakkan kedua kakinya kesal, wajahnya seakan hendak menangis. Terlihat sekali kalau gadis itu tengah memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadinya, bahkan Liara kembali memanggil pria yang sudah berjalan cukup jauh di depannya.


Pria berambut macam singa belum sisiran itu terlihat tak acuh, seakan tidak mendengar rengekan gadis yang sejak tadi membuntutinya bagaikan anak itik.


"Simbaaa, kaki aku-,"


"Kemarilah!" selanya cepat.


Lionel terlihat berbalik, pria itu merentangkan kedua tangannya, pandangannya terlihat malas tapi tidak dapat menolak rengekan gadis yang usianya sembilan tahun lebih muda darinya itu.


Tanpa menunggu lama Liara kembali melangkah, senyumannya mengembang dan segera melompat kedalam gendongan Lionel. Tapi sayang, lompatannya tidak dapat menjangkau tinggi tubuh pria yang mengaku sudah menikahinya sejak satu tahun yang lalu ini.


Apa iya?


"Bisa tidak?" tanya Lionel jahil.

__ADS_1


Sudut bibir Lionel berkedut, dia menatap jahil pada Liara yang sudah kembali terlihat kesal dan lelah.


"Kamu tinggi banget sih!" gerutunya.


Lionel kian geli dibuatnya, tanpa permisi pria itu mengangkat tubuh Liara dengan mudah dan menggendongnya di depan ala koala. Liara reflek memegang pundak kokoh Lionel, kedua kakinya pun sudah melingkar erat di pinggang ramping berotot milik si Singa Tua.


"Kau saja yang cebol," cetusnya tanpa hati.


Liara yang tadinya senang, gembira, merasa tenang, seketika mendelik. Kedua matanya menatap tajam pada pria yang saat ini tengah berpura pura menatap ke arah depan tanpa ingin melirik atau menoleh kepadanya.


Kurang ajar!


Apa katanya, cebol?


"Berapa tinggi kamu? dulukan cuma 175, jadi kita beda 10 cen-,"


"193 centi meter!" sela Lionel.


Pria itu terlihat menaikan dagunya angkuh saat mengatakan kalau tinggi tubuhnya begitu proposional. Ekor matanya melirik pada Liara yang terlihat shock sembari menganga lebar, dengan kedua mata melotot.


"Ish, aku gak percaya!" sahut Liara.


Kedua matanya terlihat memindai penampilan Lionel dari atas hingga bawah. Ada rasa ragu, tapi rasa yakin kembali menyelimutinya. Lionel menang sangat tinggi dibandingkan dirinya, bahkan sepertinya sedikit lebih tinggi dari Elvier sang Daddy dan Kakaknya.

__ADS_1


"Kalau kau tidak percaya, kau bisa mengukurnya nanti. Silahkan aku tidak akan melarang mu, bahkan kau bisa mengukur yang lainnya juga kalau kau mau, Princess." cetus Lionel, bahkan pria itu terlihat mengedipkan satu matanya pada Liara, membuat gadis itu kembali menganga lebar lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Dasar gila!" gumam Liara. Entah kenapa otak 21+ miliknya cepat terkoneksi saat mendengar ucapan ambigu pria yang tengah menggendongnya.


Gadis itu kian mengeratkan pelukannya di leher Lionel, terlihat sengaja hingga membuat pria itu sedikit kerepotan.


Liara yang hanya sebatas leher Lionel tidak dapat lagi menambah tingginya lagi, dia terlihat seperti bocah yang tengah digendong oleh Ayahnya.


"Aku tidak gila, Princess. Aku hanya menawarkan saja, siapa tahu kau penasaran. Tapi setelah kita keluar hidup hidup dari tempat ini, jadi tetaplah menjadi gadis baik dan penurut. Pejamkan kedua matamu, rileks dan bersandarlah dengan nyaman!"


Lionel menggumamkan kalimat di akhir katanya, pria itu berusaha membuat gadis yang ada didekapannya tenang dan tidak lagi ribut.


"HEI! ITU MEREKA!" seruan dari belakang tubuh Lionel kembali membuat kedua mata Liara terbuka, gadis itu menatap pada Lionel dengan cemas.


"Sialan! mereka pasti sudah melihat kita lewat kamera pengintai!" desis Lionel.



SURUH NGUKUR APE SI BINIK BANGπŸ˜‚πŸ˜‚



KIRA KIRA SEPANJANG INI KALI YA πŸƒπŸƒ

__ADS_1


__ADS_2