
Hujan masih mengguyur, mobil usang itu sudah berhenti tepat di dekat sepeda motor Delila yang mogok. Salah satu orang yang berada di dalam mobil itu keluar, tapi sepertinya sebelum keluar dia sempat beradu mulut dengan rekannya.
"Loh Neng, kenapa main hujan hujanan? mana malem lagi," suara orang itu sontak membuat Delila terkejut, gadis itu mengangkat wajahnya- sorot matanya terlihat waspada saat melihat seorang pria tengah memayunginya.
"Loh, Neng cewek yang di kampus waktu itu kan?" sang pria kembali bersuara. Dia mengembangkan senyumannya, berusaha bersikap ramah agar tidak membuat sang gadis ketakutan.
"Kenapa disini malem malem?" tanyanya lagi. Ekor matanya melirik ke arah motor yang tidak jauh dari mereka, pria itu menyadari sesuatu- dia yakin kalau benda itu tidak bernyawa saat ini.
"Motor aku mogok," cicit Delila.
Kedua matanya mengarah pada motor malang yang ikut hujan hujanan bersamanya. Sialnya motor itu adalah milik tukang kebunnya, terus apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Kenapa gak di dorong aja?" cetus pria itu ringan.
Bukannya menenangkan ucapan sang pria berkaos lusuh itu malah semakin membuat Delila ingin menangis, dan akhirnya dia menangis lagi setelah tidak tahan untuk membendungnya.
"Huuuaaaaa...!"
Delila menumpahkan semua kekesalan serta kesedihannya, dia berdiri melangkah mendekat pada motornya lalu memberikan banyak tendangan pada benda mati itu. Mulutnya terus saja mengoceh tidak jelas, namun tidak dapat di pungkiri kalau kekesalan bertumpah ruah di dalamnya.
Sementara pria yang tadi memayunginya terlihat ngeri sendiri melihat sikap bar bar sang gadis.
"Dasar gak berguna! udah tau ujan jauh dari rumah malah mogok. Orang aja gak ada yang peduli sama kita, malah nyuruh gue buat dorong elo motor sialan. Dimana hati nurani mereka?!" Delila terus saja mengoceh.
Dinginnya air hujan tidak mampu meredam panas di dada serta otaknya. Napasnya naik turun, emosinya kian memuncak kala pria yang memayunginya tadi tidak lagi bersuara untuk sekedar membantunya.
__ADS_1
"Man!" suara panggilan yang berasal dari dalam mobil usang itu berhasil menghentikan kegilaan Delila.
Ocehan gadis itu terhenti, bahkan pukulan dan tendangan yang dia lakukan pada motor tidak berdosa itu pun semakin memelan. Delila menoleh, kedua matanya menyipit saat melihat seorang pria menatap ke arahnya dari kaca mobil yang terbuka.
"Bentar dulu yaelah. Si Eneng masih mukulin motornya, udah biarin aja sampe dia puas. Dari pada kita yang kena pukul nanti!"
Pria yang ada didalam mobil itu berdecak kesal, dia kembali menatap lurus ke arah depan tanpa berminat untuk keluar dan membantu.
"Gimana Neng? udah puas ngehajar motornya, hehe. Kalo udah puas, nyok kita angkut nih motor ke atas mobil. Kayaknya ujan gak bakalan berhenti, dari pada nunggu disini apa dorong sampe rumah mending kita bawa ke bengkel. Bengkel gak jauh dari sini kok, ayo sebelum si Baron ngambek!"
Pria itu menutup payungnya, dia membiarkan tubuhnya kebasahan demi membantu gadis yang baru di kenalnya. Dengan susah payah keduanya menaikan benda itu keatas mobil, sebenarnya Delila ingin menolak tapi berhubung hujan makin deras, dia juga tidak membawa ponsel- ya mau bagaimana mana lagi terima saja, walaupun masih ada keraguan didalam hatinya.
Dan kalau sampai keraguan itu terbukti, jangan salahkan dirinya nanti. Delila akan menendang mereka dengan kekuatan supernya nanti.
"Neng duduk di depan aja biar gak kehujanan, biar aku yang di belakang." ucap pria itu lagi.
Delila yang mulai menggigil dan lelah hanya bisa mengangguk. Gadis itu segera turun dan berlari kecil menuju pintu mobil usang yang akan dia tumpangi.
Dengan tangan gemetar Delila mengetuk kaca mobil, wajahnya terlihat pucat dengan kulit tangan putihnya berkerut.
Sreek!
Kaca mobil terbuka, Delila yang sudah kedinginan berusaha menampilkan senyumannya walaupun terlihat kikuk.
"H-hai, aku disuruh naik di depan sama-,"
__ADS_1
Delila tidak melanjutkan ucapannya saat mendengar pria bertopi itu menghela napas kasar. Senyuman kikuknya masih tercipta, getaran tubuhnya kian menjadi dan semaki menusuk tulang.
"Apa aku boleh ma-,"
"Masuk! gue gak mau di tuduh bunuh orang malam ini!" cetusnya dengan nada datar dan terdengar tidak bersahabat di kedua telinga Delila.
Sang gadis masih menampilkan senyumannya, dia segera masuk. Walaupun canggung dan ragu, terlebih kondisinya yang basah kuyup tapi mau tidak mau Delila tetap harus duduk di kursi itu.
Tidak ada pembicaraan diantara keduanya, mobil usang itu mulai bergerak meninggalkan lokasi. Hujan semakin deras, Delila sesekali melirik ke arah belakang- dia khawatir pada pria yang tengah berteduh di bawah payung sembari memegangi motornya.
Rasa tidak enak mulai menggelayuti, terlebih pria yang ada di sisinya sekarang sama sekali tidak mengeluarkan suara, seakan memang tidak ikhlas saat menolongnya.
Ekor mata Delila melirik diam diam, dia mengamati sang pria yang diawal pertemuan memang sangat ketus dan datar.
'Lumayan ganteng,' ucapnya dalam hati.
Mata itu terus saja berkelana tidak sopan, memindai sang pria dari atas hingga bawah.
"Kulit coklat, tinggi, lumayan berotot, dan kaku amat tuh muka ya Tuhan kayak stik game,' imbuhnya lagi.
Delila mengerucut, dia mendekap tubuhnya sendiri kala angin malam menerpanya. Rasa dingin kembali menusuk tapi sekuat tenaga Delila menahannya, dia berharap di bengkel nanti bisa berdiam diri di dekat api agar bisa lebih hangat.
'Udah mah hujan, dingin, sekarang malah di cuekin, sempurna banget hidup gue.' ucap miris Delila dalam hati.
__ADS_1
DEK LILA
BELOM NEMUIN CAST YANG COCOK BUATA MAS BARON, KALO ADA REKOMENDASI KOMEN AJA, MAS BARON JUDES, CUEK, DINGIN, MASA BODO, TINGGI, KULITNYA COKLAT DAN LUMAYAN KEKAR 🏃🏃🏃