Guardian Flower

Guardian Flower
Serangan Dadakan


__ADS_3

Lionel terus mengumpat, tubuhnya sudah mulai kebas karena posisi yang dia ambil sekarang. Bahkan hidungnya terasa gatal karena rerumputan nakal terus saja menggodanya, Lionel hampir saja bersin kalau pria itu tidak menahannya sekuat tenaga.


Di tambah semut nakal mulai menggerayangi tubuhnya, masuk kedalam pakaiannya dan bergerak menuju setiap lekuk tubuhnya, termasuk sesuatu di antara kedua pahanya.


Lionel harap hewan kecil itu tidak sampai mengigit sesuatu di balik boxernya. Entah apa jadinya kalau itu sampai terjadi, mungkin persembunyiannya akan sia sia. Gentala dan orang orang di rumah ini akan menemukannya dengan mudah.


Sial!


Semut kecil itu mulai kurang ajar, Lionel semakin gelisah. Rahangnya mengetat, napasnya tertahan sebentar saat dia berusaha merogoh sesuatu di balik celana jeans yang di pakainya.


"Gimana ketemu?"


Gerakan tangan Lionel terhenti, dia semakin merapatkan tubuhnya ke rumput dan itu berhasil membuat si semut merah kecil kembali lepas.


Nyuuutttt!


"Bajingan-," umpat Lionel tertahan, bahkan wajahnya terlihat memerah saat semut merah kecil itu berhasil mengigit paha bagian dalamnya. Bersyukur area masa depannya yang limited edition itu tidak terkena imbasnya, kalau saja si semut salah server mungkin di area itu ukurannya akan bertambah.


"Tidak ada Tuan! saya sama Mang Usman sudah keliling rumah terus ke area jalan juga, tapi tidak ada yang mencurigakan!" seorang pria yang memakai seragam keamanan terlihat terengah, pria kurus tinggi itu terlihat lelah setelah berlari kesana kemari.


"Pasti tikus gondrong itu sembunyi di lobang! awas aja kalo ketemu, ku botakin dia." geramnya.

__ADS_1


Gentala berbalik, pria yang hanya memakai sarung cap gajah jongkok dan kaos putih polos kebesaran itu berjalan menjauhi area persembunyian Sang Tikus Gondrong.


Pria tua itu mengangkat sarungnya tinggi tinggi agar mempermudah langkahnya. Sesekali dia mendengus kesal, raket nyamuk yang ada di tangannya terlampir di pundak kokoh yang sudah tidak lagi segar. Gentala menghela napas kasar, dia menghentikan langkahnya dan menoleh pada pria yang masih setia mengikutinya.


"Pak Samsul jaga lagi aja! biarin tikus itu keluar sendiri. Kalo kita yang nyari dia pasti gak bakalan ketemu, apa lagi keluar!" cetusnya serius, matanya menatap tajam pada pria yang sudah lama mengabdi pada keluarganya itu.


"Siap Tuan! pokoknya Tuan jangan khawatir saya akan selalu siaga 86!"


Gentala mengangguk, dia tidak lagi mengeluarkan suara untuk memerintah. Pria bercucu tiga itu terlihat kembali melangkah masuk kedalam rumah, terlihat santai namun ekor matanya terus saja memindai ke setiap sudut. Tanpa di ketahui oleh siapa pun, salah satu sudut bibirnya terangkat- pandangannya kembali seperti biasa.


"Imel, buatin Mas kopi dong!" serunya dengan nada manja. Gentala yang sudah tua tidak mampu menghilangkan sikap manjanya pada Imelda Tiur sang Istri.


Disisi lain, Liara terlihat bolak balik tak karuan di kamarnya. Gadis itu menatap ke arah balkon dengan perasaan cemas. Lampu sorot masih menerangi kediaman Gentala Prayoga, yang artinya Lionel tidak akan mampu keluar dari rumah ini dengan mudah. Kecuali pria itu memiliki teleportasi yang mampu memindahkan raganya dalam sekejap ke tempat lain.


Karena sekarang si siluman laba laba itu tengah berperang dengan pasukan semut yang menyerang pertahannya.


🦁


🦁


🦁

__ADS_1


Di tepian jalan raya yang masih cukup ramai, seorang gadis terus saja mengoceh sendiri sembari mengotak atik motor matic merah yang dibawanya.


Motor milik tukang kebun di rumahnya itu tiba tiba saja mati, alhasil sang gadis panik setengah mati. Dia kabur dari rumah untuk membeli sesuatu, sebenarnya sang Papa tidak mengizinkannya tapi gadis itu cukup keras kepala dan akhirnya kabur membawa motor milik sang tukang kebun.


"Iihhh! pasti ini gara gara doa si Papa. Papa doain jelek terus motor Mang Yayan mogok, mana gue gak tau lagi cara benerinnya. Ya Tuhan, tolong berikan satu pangeran cakep buat bantu benerin nih motor. Delila ikhlas jadi pacarnya kalo sampai ada pangeran yang datang terus bisa ngidupin nih barang antik!"


Gadis itu terus saja mengoceh, entah sadar atau tidak ucapannya di sambut oleh geledek yang datang secara tiba tiba.


Bukan karena dikabulkan, tapi karena hujan yang tiba tiba saja turun tanpa aba aba membuat gadis yang akan menginjak usia delapan belas tahun itu memekik kaget.


Terlambat untuk berteduh, kepala hingga kakinya sudah basah kuyup. Sang langit tidak tanggung tanggung untuk menumpahkan tangisannya malam ini. Kedua mata indah Delila menatap nanar pada motor mati yang tidak bisa dia gunakan ini.


"AAAKKHHHHHH!" teriaknya penuh kekesalan, teredam oleh guyuran hujan.


"PAPAAAAAA!" lanjutnya.


Dengan pasrah Delila mendudukkan diri di aspal, kedua kakinya meronta melepaskan sandal jepit milik pembantunya yang dia pakai tanpa izin. Gadi itu terisak, dia menelungkup-kan wajahnya di antara lutut.


Guyuran air hujan membuat isakannya teredam. Tidak ada orang yang sudi menolongnya, dia kedinginan dan sendirian- hingga setelah lama menunggu sebuah mobil usang, lusuh dan berkarat mendekat. Lampu tua mobil itu menyorot tajam, namun itu tidak membuat Delila mengangkat wajahnya.


Gadis itu masih menangis, bahkan saat mobil usang itu berhenti- Delila sama sekali tidak menyadarinya.

__ADS_1



NAMBAH BERAPA CENTI BANG GARA GARA SI SEMUT 😭😭🏃🏃🏃🏃


__ADS_2