Guardian Flower

Guardian Flower
Pulau Cinta?


__ADS_3

Liara menyipitkan kedua matanya saat menatap lautan yang terbentang luas di hadapannya. Satu tangannya terangkat untuk menutupi wajahnya dari sinar matahari yang kian menyengat.


Setelah sarapan dengan ikan bakar seadanya ala Lionel, gadis itu kembali menyibukkan diri dengan bermain air di pinggir pantai. Sedangkan Lionel, pria itu terlihat tengah mencari sesuatu di sisi pulau. Tidak terlalu jauh dari Liara, pria itu masih bisa melihat gerak gerik gadis yang tadi terlihat begitu lahap saat menikmati ikan bakar buatannya.


Tidak ada bumbu apa pun, cukup air laut untuk membersihkannya tapi Liara sangat lahap menikmatinya. Entah karena memang enak atau karena terpaksa, Lionel tersenyum miris di buatnya.


Di tepi pantai Liara terlihat merentangkan kedua tangannya, dia memejamkan kedua matanya menghirup wanginya air laut. Nyanyian burung camar terdengar merdu di telinganya, kedua sudut bibit Liara terangkat saat hatinya merasakan ketenangan yang jarang dia dapatkan.


Terdampar di pulau tak berpenghuni dengan pria yang katanya sudah menikahinya satu tahun yang lalu, ternyata tidak buruk juga. Walaupun rasa tidak percaya dan curiga masih menggelayuti hatinya, tapi entah kenapa Liara juga menikmatinya.


Hembusan napasnya kembali terdengar, tapi tidak lama tubuhnya menegang saat merasakan ada seseorang merengkuh tubuhnya dari belakang.


Kedua mata Liara yang tadinya tertutup kini membulat, terbuka lebar- terlebih saat merasakan dekapan itu kian mengerat.


"Jangan terlalu dekat, kalau kau terseret ombak aku juga yang repot." bisiknya.


Liara menghembuskan napasnya kasar, gadis itu melepaskan kedua tangan besar bertato yang membelit tubuhnya- dia berbalik menatap pria yang saat ini tengah menatapnya juga.


"Udah dapat yang kamu cari?" tanyanya santai.


Liara menelisik raga pria yang tengah menatap lekat ke arahnya, kedua mata Liara meliar- dia menelusuri setiap jengkal kulit berukir yang dimiliki oleh Lionel. Sadar atau tidak Liara perlahan mengangkat satu tangannya, jari jemari itu mulai menyentuh ukiran yang ada di bawah leher Lionel.


"Setau aku, dulu gambar ini belum ada. Apa kamu nambahin lagi? ini juga gak ada, kenapa sekarang jadi banyak banget?" ucapnya lirih.

__ADS_1


Jari jemari lentik Liara terus saja menyusuri lukisan ular yang membelit leher bagian bawah Lionel. Gadis itu menelan salivanya saat melihat jakun Lionel naik turun, dia berusaha mengalihkan pandangannya dari sana dan turun ke arah dada.


"Apa ini gak sakit?" tanyanya lagi.


Kali ini Liara memberanikan diri menatap kedua mata Lionel, netra keduanya bertemu, saling terpaut, mengikat satu sama lain, bahkan sekarang Lionel sudah merengkuh pinggang kecil Liara dan meremasnya pelan.


"Tidak ada yang lebih menyakitkan saat kau pergi begitu saja tanpa alasan dan pamit," desis Lionel tepat di depan wajah Liara.


Wajah pria itu terlihat kaku, tapi tidak berlangsung lama karena pria itu dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya.


"Memangnya kenapa? apa bocah 11 tahun itu membuat kamu gak bisa kerja lagi? atau-,"


"Dia membuatku tidak lagi berguna disana, maka dari itu aku memutuskan untuk pergi. Bersyukurlah Tuan Besar mengizinkanku," selanya cepat.


Liara menghela napasnya, dia hanya mengangguk kecil. Kedua matanya kembali turun menatap lekukan otot dada dan perut yang terlihat melambai meminta untuk dibelai.


"Oke, aku mau berenang dulu. Mumpung ombaknya lagi surut, kamu bisa lanjutin kerjaan kamu yang- SIMBAAAA!"


Liara memekik keras saat Lionel tiba tiba membopong tubuhnya bagaikan karung beras. Pria itu membawa Liara menuju laut, keduanya basah kuyup saat deburan ombak menyapa.


"Baju aku basah, ih!" pekik Liara lagi.


Lionel tidak peduli, dia semakin membawa Liara ke arah laut. Setelah merasa cukup, pria itu menurunkan Liara membuat gadis itu reflek mengalungkan kedua tangannya pada leher Lionel.

__ADS_1


Gadis itu memekik, dia tidak dapat merasakan dasar laut dan reflek membelitkan kedua kakinya di pinggang kokoh Lionel. Liara memukul pundak kekar itu dengan kencang, jantungnya berdetak menggila, bukan karena terkejut tapi juga takut.


Saat ini Liara sudah membayangkan yang tidak tidak, bukan hal kotor atau mesum melainkan bagaimana kalau ada Hiu atau hewan ganas lainnya dilautan ini? lalu makhluk makhluk itu tiba tiba menyer-


"Jangan berpikir yang tidak tidak, Princess. Cukup pikirkan aku untuk saat ini, jangan pernah memikirkan apa pun."


Lionel mendongak menatap wajah Liara dengan lekat, dahi keduanya bertemu kala gadis itu menunduk membalas tatapan lekat yang Lionel tujukan padanya.


Hembusan napas mereka beradu, angin laut dan ombak kembali menyapa keduanya. Perlahan namun pasti mereka berdua semakin mendekat, bahkan saat ini ujung hidung Liara dan Lionel sudah saling bersentuhan.


Liara reflek memejamkan kedua matanya saat Lionel kian mendekat dan tidak lama dia merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya. Awalnya hanya menempel, tapi semakin lama kedua benda itu bergerak- Liara yang tidak tahu harus berbuat apa hanya mengikuti insting, sedangkan Lionel mulai mendominasi.


Pria itu memagut dan menyesap semua bagian bibir Liara tanpa ragu, bahkan saat ombak kembali menerjang keduanya tetap kokoh pada posisinya tanpa melepaskan tautan bibir itu. Lionel menekan punggung Liara agar pagutan mereka semakin dalam.


Hingga tanpa mereka sadari, dari kejauhan tampak sebuah kapal besar yang kian mendekat. Entah kapal siapa itu, yang pastinya benda yang mengapung diatas lautan itu begitu besar dan megah.



BAPAK SINGA MASIH VOLOS



BAPAK SINGA UDAH TERCEMARπŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1



PULAU CINTA 😘😘😘😘


__ADS_2