Guardian Flower

Guardian Flower
I Don't Know


__ADS_3

"Bagaimana?" pria berwajah campuran itu melirik pada salah satu kepercayaannya.


Menatap penuh selidik, mencari tahu apa yang tengah terjadi- kenapa sinyal yang di berikan oleh menantunya hilang begitu saja.


"Tuan Putri dan Lionel sudah tidak ada lagi di kapal itu. Lionel hanya mengirim sinyal saat dia berada disana, lalu apakah kita akan melanjutkannya atau-,"


"Lanjutkan saja! bebaskan semua orang yang ada disana dan seret semua manusia yang sudah berani menyentuh putriku!"


Pandangannya berubah menggelap, kedua tangannya terkepal erat- rahangnya mengetat, pria itu kembali emosi saat mengingat kejadian yang menimpa putri semata wayangnya. Walaupun saat ini putrinya sudah berada di tangan yang aman, tapi perasaan khawatir masih menghantuinya karena menantu sialannya itu malah memanfaatkan kejadian ini untuk membawa sang putri pergi.


"Cari Dahliara dan Lionel sampai ketemu! aku yakin kalau mereka sedang berada tidak jauh dari lokasi yang di kirimkan pada kita!" titahnya lagi.


"Baik, Tuan Besar!"


Pria kepercayaannya berbalik setelah menundukkan kepalanya, sedangkan dirinya masih berkutat dengan pemikirannya sendiri. Rasa kesal juga khawatir kian menghantui dan itu membuatnya semakin tidak nyaman.


"Kamu jangan nyalahin Lionel ya El! dia udah jadi suaminya Liara, ya biarin aja mereka berdua. Cukup cari dan bawa pulang, inget! aku gak mau ada keributan saat mereka pulang nanti!"


Suara seorang wanita yang sangat dia kenal kembali membawanya ke alam sadar, pria itu menoleh- kedua matanya menatap lekat pada orang yang tengah bersidekap dada dengan wajah masam.


"Mine, aku hanya akan-,"


"Enggak ada alasan apa pun! Lionel suaminya dan biarin dia yang jaga Liara. Suruh siapa nikahin anak tanpa persetujuan aku sama anaknya, rasain anak ceweknya di gondol orang!" cetusnya dengan nada mengejek.


Wanita itu berbalik, dia memalingkan wajahnya kesal dan meninggalkan pria yang sudah menjadi suaminya selama puluhan tahun.

__ADS_1


"Mine!" panggilnya lagi.


"Gak usah ngerengek, geli tau gak!"


"Mine, ayo kita buat la-,"


"SEKALI LAGI KAMU NGOMONG EL, AKU LEMPAR KAMU PAKE CENTONG!" pekik sang wanita dari arah dalam rumah, membuat pria yang tadinya akan terus menggoda mengatupkan bibirnya rapat.


Dia kembali menatap gelapnya malam, helaan napasnya kembali terdengar- kedua matanya menatap tajam ke arah depan.


"Awas saja kalau kau berani menghamili putriku sebelum menikahinya secara resmi!" desisnya.


🦁


🦁


🦁


Dia menghela napas kasar kala rintik hujan mulai turun dan memadamkan api. Hembusan angin kian kencang, bahkan pondok sederhana namun lumayan kokoh itu sedikit bergoyang diterpa angin malam.


Diremang malam, ekor mata Lionel melirik pada gadis yang sudah terlelap didekatnya. Pria itu perlahan mendekat dan merebahkan diri ditempat kosong yang ada disebelahnya.


Tidak ada pergerakan yang berarti, Lionel tetap diam ditempatnya tapi kedua matanya terus saja tertuju pada wajah sang gadis yang tenang dan damai.


Sudut bibirnya perlahan terangkat, tangan besarnya terulur untuk memberi usapan di salah satu pipi tirus milik sang gadis. Lionel kian berani kala gadis itu hanya menggeliat dan bergumam kecil, dia kian merapatkan tubuh mereka berdua saat angin kembali berhembus melewati celah celah dinding pondok yang terbuat dari daun dan batang pohon.

__ADS_1


Dengan erat Lionel mendekap tubuh kecil itu, kedua matanya terus saja tertuju pada wajah cantik yang sudah berada dekat dengannya. Hingga pada akhirnya pemilik wajah cantik itu perlahan membuka kedua matanya, suasana remang sedikit tidak jelas pertama kali menyambutnya.


Tapi dia dapat merasakan dekapan hangat yang berhasil membuatnya nyaman, dan tidak ingin menjauh sedikit pun.


"Simba?" bisiknya pelan.


Bahkan hembusan napas hangat keduanya dapat dirasakan sendiri kala menerpa wajah, bisa dipastikan seberapa dekat mereka berdua saat ini.


"Hm- kau terbangun? apa aku mengganggu tidurmu?" sahutnya dengan bisikan juga.


Gadis itu tidak menjawab, dia hanya menggeleng dan semakin menyerukan wajahnya ke dada bidang yang masih tidak memakai apa pun itu.


"Dingin," ujarnya pelan.


Pria yang tengah memeluknya itu menipiskan bibirnya, dia semakin membawa tubuh sang gadis merapat dan menempel padanya tanpa ragu.


"Kau ingin aku hangatkan dengan cara apa, hm?" bisiknya lagi.


Angin kian berhembus, malam kian larut dan obrolan mereka semakin tidak karuan saja.


"I don't know, yang penting jangan merawanin aku disini. Aku gak mau, kalo sampe berani jangan salahin aku kalo biji buah kuldi kamu ilang dua duanya!" ancamnya frontal dan sadis, tapi masih dengan mata tertutup dan dekapan yang semakin mengerat.



NOH DISONO ADA DUYUNG

__ADS_1



TERSERAH YANG PENTING JANGAN UN BOXING!


__ADS_2