
Liara terus saja mengaduk mie baksonya tanpa minat. Selera makannya hilang semenjak dia menginjakan kedua kakinya di tempat ini, ekor matanya terus saja melirik kesana kemari mencari sesuatu yang belum dia lihat hari ini.
'Kemana dia? apa dia masih jadi pengawal Hyena? Hyena juga gak masuk kayaknya. Jadi dia juga ikutan gak masuk kayak nona mudanya?' batin Liara terus saja menggerutu. Dia menyeruput es jeruknya dengan rakus, tenggorokan dan dadanya tiba tiba saja tidak nyaman dan panas kala membayangkan Singa Tua itu kembali pada majikan barunya.
"Del, Kakak mau ke toilet dulu ya. Kamu makan aja, nanti ada temen Kakak juga datang- tadi dia masih di perpus!"
Liara bangkit, tanpa menunggu jawaban Adik Sepupunya gadis itu segera bergegas keluar dari kantin kampus. Kedua kaki jenjangnya berjalan menuju toilet, Liara terlihat fokus menatap ke depan tanpa peduli dengan orang orang yang ada di sekitar.
Gadis itu sudah tidak tahan untuk menuntaskan hajat kecilnya. Kantung kemihnya terasa penuh, bahkan Liara sedikit menggerutu kala pintu toilet tertutup semua.
Cukup lama Liara menunggu, hingga akhirnya salah satu pintu toilet perempuan itu terbuka. Tidak lama keluarlah seorang pria yang mampu membuat gerakan tubuh Sang Princess terhenti, dahi Liara berkerut dia menatap tidak percaya pada pria yang berjalan tenang dengan wajah senangnya.
Helaan napas kasar Liara terdengar, ekor matanya melirik tanda yang tergantung di pintu toilet. Tidak ada yang salah, tanda itu berbentuk gambar wanita memakai rok, tapi kenapa yang keluar dari sana seorang pria?
"Eh?" Liara kembali terperangah kala melihat seorang pria lain keluar dari ruangan itu, tidak lama seorang wanita cantik juga membuntutinya.
Liara semakin tidak mengerti, bola mengikuti pergerakan dua anak manusia yang melewatinya begitu saja tanpa peduli dan seakan menganggapnya makhluk tak kasat mata.
Tapi saat Sang Princess mengingat sesuatu, dia kembali menoleh dan menatap lekat pada punggung wanita ber-make up tebal yang baru saja melewatinya.
"Kayaknya aku pernah liat dia? kalo gak salah itu kan dosen yang panitia yang ada di perkemahan. Jadi, dia beneran ngajar di kampus ini? tapi bagian kelas mana? terus kenapa dia keluar dari toilet sama dua cowok, habis ngapain mereka didalam?"
Liara malah mengernyit jijik, dia enggan masuk kedalam. Bahkan rasanya air seninya kembali masuk kedalam lambung saat membayangkan apa yang sudah terjadi dengan orang orang itu.
__ADS_1
Dengan kesal Liara menjauh dari tempat itu, dia berjalan menuju kesebuah tempat- ekor matanya terus saja menatap sekitar. Rasa bosan mulai menghampiri, Liara terus saja melangkah pelan menuju kursi panjang yang ada di bawah sebuah pohon.
Gadis itu mendudukkan dirinya di sana, kedua matanya menatap lurus pada para mahasiswa dan siswi yang tengah asik berbincang sembari duduk diatas rerumputan hijau.
"Tidak baik berada sendirian disini,"
Suara yang tiba tiba hadir berhasil membuat Liara melonjak kaget. Gadis itu menoleh cepat, kedua matanya menatap pada orang yang sudah berdiri tegap dibelakangnya.
'Simba? sejak kapan dia disini? perasaan tadi enggak ada, terus dia datang dari mana coba?'
Liara terus saja bergumam dalam hati, kedua matanya menatap penuh intimidasi pada pria berambut pirang panjang yang sudah diikat rapih.
"Ngapain kamu disini?" tanya Liara ketus.
"Gak usah deket deket! nanti Nona Muda kamu marah marah sama aku, sana! ngapain kamu disi-,"
"Kau merindukan ku, Princess?" cetus Lionel.
Pria itu menatap gadis yang ada di sisinya dengan lekat, bahkan sudut bibirnya sedikit terangkat saat melihat wajah terkejut dan mulut terbuka Sang Bunga Albarack yang tidak pernah dilakukan oleh para putri bangsawan lainnya.
"Apaan sih, gak jelas. Ngapain kamu duduk disini, udah sana pergi!" usirnya secara terang terangan.
"Aku juga merindukan mu. Kau baik baik saja bukan setelah aku pergi tadi subuh?"
__ADS_1
Ucapan Lionel semakin tidak jelas, Liara berhasil speechless dibuatnya. Wajahnya memerah karena kesal dan malu tentunya, jujur didalam hatinya ada rasa lega saat melihat Lionel sekarang, tapi rasa ego dan gengsinya mengalahkan perasaan manis itu.
"Ihhh apaan sih! kamu datang datang ngomong gak jelas."
Liara memukul lengan Lionel cukup keras, lengan terluka yang pria itu sembunyikan dibalik kaos hitamnya. Lionel sedikit meringis, namun dia tahan- hingga akhirnya tanpa sadar cairan merah mengalir melewati kaosnya, menetes di siku kekar Lionel.
Pria itu belum menyadari, sampai akhirnya pekikan Liara terdengar kala kedua matanya melihat cairan merah menetes di kursi yang mereka duduki saat ini.
Gadis itu terlihat panik, kedua matanya menatap lekat pada mantan ajudannya penuh dengan kecemasan.
"Kamu berdarah?! habis ngapain sih, bisa berdarah kayak gini? bukannya kamu langsung pulang. Ngelayap kemana kamu sebelum pulang, huh?!"
Liara terus saja mengoceh, bahkan sampai tidak sadar dia merobek sisi kemeja yang dipakainya untuk menyeka lelehan darah dari lengan Lionel.
Pria itu membiarkannya, bahkan omelan Liara yang sudah panjang lebar tanpa jeda itu, terlihat dia nikmati tanpa ingin membalasnya.
SENENG KAN LU BANG ππππ
**NGOPI DULU BRAY, CAPE ABIS BACA MASA DEPANπππ
__ADS_1
SEE YOU MUUUAAACCCHHHππππ**