Guardian Flower

Guardian Flower
Ke Hotel?


__ADS_3

"MAS!"


Pekikan keras Delila berhasil menghentikan langkah pria yang sudah hampir menaiki mobil usangnya. Pria itu menghela napas pelan, kedua matanya terpejam sejenak, lalu tidak lama kembali terbuka dan menoleh pada gadis tengil yang beberapa kali bertemu dengannya.


Tanpa sengaja! ingat tanpa sengaja!


"MAS SAM- MAS BARON MAU BANTUIN AKU KAN? INI DEMI MASA DEPAN DAN KELANJUTAN HIDUP AKU!" pekiknya lagi, kini diiringi dengan sedikit drama.


Delila menyeka air hidungnya kasar, kedua matanya yang sedikit sembab menatap penuh harap. Bahkan sekarang atensi orang orang yang ada disana sudah mengarah pada keduanya, terlebih pada Baron.


Pria itu seakan jadi terdakwa disini, banyak mata menatap tidak suka melihat perlakukan yang Baron lakukan pada Delila. Padahal Baron tidak tahu apa pun, dan menjadi korban disini. Terlebih orang orang disana terlihat tidak tahu asal mula masalah keduanya, dan mengambil spekulasi sendiri.


"Mas! jadi cowok harus gentle dong. Masa ceweknya di tinggal gitu aja, gak bersyukur amat sih jadi cowok, punya cewek cantik, imut kayak gitu kalo udah di colong cowok lain baru kejet kejet!" cetus salah satu ibu ibu yang baru saja lewat disana.


Pria itu semakin di buat tidak karuan, Baron terdiam namun dalam diamnya ada sesuatu yang siap meledak kapan saja.


Gadis tengil itu!


"Masuk!" titahnya dengan nada datar.


Bukan hanya wajahnya yang sedatar telenan di dapur rumah Delila, tapi juga suaranya. Pria itu paling tidak suka memiliki urusan panjang dengan orang asing, maka dari itu Baron lebih suka berdiam diri atau menghindar.


Masalah hidupnya sudah cukup banyak, dia tidak ingin lagi menambah beban di otak serta di pundaknya. Tapi gadis asing ini malah membuat beban hidupnya malah naik drastis.


"Ajak yang bener dong, Mas. Ceweknya takut tuh lihat muka Mas yang datar kayak papan tulis!" cetus ibu ibu itu lagi.


Delila yang sedari tadi menyimak terlihat menipiskan bibirnya. Makhluk terkuat di muka bumi ini memang selalu bisa diandalkan dalam mengalahkan ego pria galak dan judes seperti Si Samson.

__ADS_1


"Masuklah, gue bakalan nganter lo kemana pun." suara Baron memang terdengar lembut, tapi Delila tahu di balik ucapan lembut itu ada makna yang tersirat.


'Jangan jangan dia mau buang gue di tempat sepi? atau-' batin Delila.


"Ayo masuk!" ajak Baron lagi, kedua matanya sudah menyorot Delila agar menurut. Dan akhirnya gadis itu menurut walaupun dia masih ragu dengan ajakan itu.


'Awas aja kalo dia macem macem, aku bakalan teriak biar di keroyok sama warga!' ancamnya.


🦁


🦁


🦁


Liara hanya menurut saat Lionel membawanya ke tempat lain. Dia sudah berjalan sendiri sekarang, ekor matanya terus saja melirik pada pria yang masih memegangi lengannya erat.


Dia terlihat seperti seorang bocah yang tengah dikawal oleh Ayahnya, begitu sangat ketat bagaikan boxer baru.


Dia menggoyang goyakan tangannya yang Lionel genggam, Liara berharap kalau cekalan pria itu akan terlepas dan dirinya bisa bebas. Jujur saat ini sebenarnya Liara belum mau bertemu dengan pria yang tiba tiba datang dan pergi begitu saja tanpa pamit ini.


Selama hampir satu minggu Lionel menghilang tanpa kabar, dan kini pria itu datang secara tiba tiba bagaikan jaelangkung, maunya apa sih?


"Kau akan tahu nanti," sahut Lionel ringan.


Pria itu terus saja menyusuri jalanan, tanpa berniat menaiki taksi atau pun kendaraan umum lainnya. Satu tangannya menggenggam lengan Sang Princess, sedangkan satunya membawa tas milik Liara.


"Kamu gak nyulik aku kan?" tuduhnya.

__ADS_1


Kedua mata Liara memicing, jari telunjuknya menuding ke arah wajah Lionel. Tatapan penuh kewaspadaan berfungsi cepat, gadis itu terlihat mencari celah saat Lionel terdiam dan tidak berniat menyangkal tuduhannya.


"Jadi tebakan aku benar, kamu mau nyulik a- Aakkhhh!"


Liara sedikit memekik kala Lionel menarik kasar tubuhnya, hidung serta kepala gadis itu terbentur kerasnya dada si Singa Tua. Lionel mengukung tubuh Liara di tembok, seakan tengah melindungi dari pandangan seseorang. sementara kedua mata tajamnya terus saja memindai keseluruh tempat, bahkan jejeran gedung pencakar langit yang tidak jauh darinya tidak lepas dari kedua matanya.


"Kamu kenapa sih?! hidung aku sakit tau. Ini udah kesekian kalinya kamu bikin hidung aku pes-," Liara kembali menelan kata katanya saat Lionel mengecup ujung hidungnya tanpa izin.


Kedua matanya mendelik, napasnya tersangkut di tenggorokan, bahkan Liara seakan kesulitan untuk mengambil napas.


"Berhentilah bertanya My Flower. Sekarang menurutlah padaku, tetap di dekatku jangan pernah berpikir untuk menjauh. Hidung mu yang mungil ini tidak lecet sedikit pun, kau bisa mengeceknya saat kita sampai di gedung itu!"


Lionel mengarahkan bola matanya ke satu titik, sebuah bangunan mewah yang tidak jauh dari mereka berdua tapi berada di seberang jalan.


Liara yang tadinya shock, kini semakin dibuat terkejut kala melihat bangunan yang di maksud oleh Lionel.


Hotel?


'Astaga dragon Ball, Simba mau ngajak aku ke hotel? jangan bilang kalo dia mau ngajak tanam saham sebelum-,' ringisan di dalam hatinya terhenti saat merasakan tangannya kembali di tarik seseorang.


"Tetaplah di dekatku!" titahnya lagi.


Lionel terlihat waspada, kedua matanya bergerak liar- sementara gadis yang ada di dalam kuasanya masih belum paham kenapa pria ini mengajaknya masuk ke hotel bintang lima.



MODE SINGA

__ADS_1



MODE NGAJAK BOBO 🏃🏃🏃


__ADS_2