Guardian Flower

Guardian Flower
Menurutlah


__ADS_3

Liara berjalan pincang keluar dari tenda, kedua matanya terus saja menatap Hyena dan rekannya yang di bawa menuju tenda kemah milik mereka. Dahi Liara mengernyit, dia tidak tahu kenapa gadis yang sering mengganggunya itu pingsan bahkan salah satu rekannya pun ikut semaput.


"Kayaknya dia kaget denger omongan Kak Ara. Kan selama ini yang mereka tau Kak Ara cuma gadis aneh, padahal nih ya aku sering ngasih kode sama mereka, tapi otaknya aja yang gak pada nyampe." cetus Delila tepat di dekat Liara.


Gadis remaja itu melipat kedua tangannya di dada, matanya menatap puas pada gerombolan Hyena yang sudah tidak terlihat lagi.


"Apa yang bakalan mereka lakuin setelah tau jati diri Kakak yang sebenarnya?" Liara malah balik bertanya. Gadis itu menoleh pada Delila, kedua matanya menuntut jawaban dari sang adik sepupu.


"Ya gagu lah apa lagi. Princess Dubai yang tersembunyi, sawan kagak tuh. Udah ah aku mau ke tenda dulu," Delila bergeser menjauh dari Liara, namun sebelum dia keluar dari tenda Delila kembali menoleh dan melirik pada pria yang masih berada di dalam tenda.


"Kak Ara, cowok itu siapa sih? kok dia peduli banget sama Kak Ara. Kayaknya tuh cowok sering aku lihat di kampus, terus jalan di belakang si bangkai. Jangan jangan-,"


"Udah sana, nanti temen kamu nyariin. Inget kemah ini juga ada nilainya jangan sampai nanti kamu dapat nilai E."

__ADS_1


Liara mendorong bahu Delila agar adiknya segera keluar. Dia tahu pasti Delila tidak akan puas dengan jawaban yang diberikannya nanti, apa lagi kalau kurang meyakinkan dan berbelit belit.


Walaupun dia menjelaskan panjang lebar, Delila pasti hanya akan menyahutnya dengan kalimat, huh? apa? Liara sudah menduganya.


"Hati hati, kata orang kalo ada dua orang cewek dan cowok berduaan di tempat yang sama apa lagi sepi, ketiganya setan. Jadi dari pada aku jadi setan mending balik aja deh, bye Kak Ara jangan nakal ya nanti Om Sultan tau, hihi."


Delila segera berlari meninggalkan Liara dan Lionel. Selepas kepergian adik sepupunya, Liara kembali masuk kedalam tenda. Kedua matanya tertuju pada Lionel yang sudah beranjak dari duduknya dan mendekat pada Liara.


Keduanya saling berhadapan, Liara bahkan harus mendongak saat Lionel sudah berada didepannya. Tinggi Liara yang hanya sebatas bahu mantan ajudannya, diharuskan melakukan hal yang pasti akan membuat lehernya pegal.


Kedua matanya menatap lekat pada wajah pria yang sudah dia kenal sejak kecil. Bahkan mereka tidak pernah terpisahkan kemana pun dan dimana pun, tapi karena kejadian waktu itu- Liara memutuskan untuk pergi dan hidup mandiri di negara asal Mommynya- Yasmine.


Liara pun sempat berpikir kembali, kenap dirinya harus marah saat itu pada ajudannya saat Lionel mengatakan kalau dia tidak mungkin menyukainya, dan mengatakan dengan lantang perbedaan besar diantara mereka berdua.

__ADS_1


Usianya yang masih belia dan pikirannya yang belum dewasa, apa itu penyebabnya? Liara pun tidak tahu dengan pasti. Yang jelas dulu dia sangat marah pada Lionel, bahkan mungkin hingga saat ini.


"Tidak semua hal bisa diketahui oleh Tuan Besar, Yang Mulia Princess. Aku sudah memperkirakan kemampuan Tuan Besar, jadi dia tidak akan semudah itu mengetahuinya." sahut Lionel dengan santai.


Liara yang tidak mengerti hanya mengernyit, gadis itu perlahan mundur kala melihat Lionel semakin mengikis jarak padanya.


"Apa yang sudah kamu lakuin?" tanyanya.


Lionel tersenyum, ekor matanya melirik ke arah luar tenda sebelum dia membawa Liara menjauh dari pintu tenda dan memojokkannya didinding.


"Kau tidak perlu tahu apa yang sudah aku lakukan. Yang jelas, mulai sekarang menurutlah- aku tidak tahu dari kapan mereka mengincar mu. Mereka bisa ada dimana mana, dan itu bisa membahayakan hidup mu yang berharga ini, jadi tolong jangan persulit hidup mu menurutlah padaku, My Flower." bisiknya dengan suara rendah dan penuh perhitungan.


__ADS_1


**PINGIN NEMPLOK 😍😍😍😍😍


SEE YOU TOMORROW MUUUAACCHH**


__ADS_2