Guardian Flower

Guardian Flower
Liara Yang Penasaran


__ADS_3

Fajar mulai menyingsing, kilauan jingga kekuningan mulai memenuhi cakrawala. Rimbunan pepohonan yang masih basah oleh embun pagi bersinar kala sang surna menerpanya.


Kicauan burung menjadi alarm untuk penghuni perkemahan. Suasana pagi ini begitu ramai, para peserta lomba terlihat berbondong bondong menuju ke air terjun.


Waktu masih menunjukan pukul enam pagi tapi antusias para peserta kemah terlihat begitu bersemangat. Bahkan ada yang langsung menceburkan diri kedalam sungai tanpa ragu.


Air yang sedingin es itu tidak membuat mereka ingin segera beranjak. Hari terakhir dilokasi perkemahan tidak akan mereka sia siakan, terlebih selama di perkemahan mereka belum bersenang senang seperti sekarang.


Delila terlihat berbinar saat melihat rekannya sudah menceburkan diri ke air. Gadis remaja itu segera menarik lengan Liara, kedua kaki telanjangnya bergidik kala air yang berasal dari atas bukit itu menyentuh kulitnya.


"Dingin," giginya gemerutuk menahan dingin.


Namun Delila sepertinya tidak mau menyerah begitu saja. Dia kembali berlari kecil menyusul para rekannya, bahkan Delila sampai meninggalkan Liara di tepian sungai karena sudah tidak sabaran.


Liara menghela napas pelan, salah satu sudut bibirnya terangkat kala melihat wajah ceria adik sepupunya. Kedua mata Liara tidak lepas dari Delila, dia harus memastikan kalau gadis remaja itu tetap berada di pinggir.


"Kamu enggak mau berenang kayak yang lain?"


Liara yang tengah tersenyum tipis perlahan menyurutkan senyumannya. Gadis itu menoleh, dahinya mengernyit saat melihat seorang wanita dewasa sudah berdiri di sisinya.


Wanita yang Liara ketahui sebagai dosen itu terlihat menipiskan bibirnya. Matanya terus saja tertuju padanya, seakan memindai dan mencari sesuatu dari dirinya.

__ADS_1


"Enggak Mam. Saya gak kuat dingin, kalau Mam mau berenang silahkan, kayaknya banyak dosen juga yang ikut berenang," Liara menggeser tubuhnya, memberi jalan pada wanita itu agar bisa masuk kedalam sungai.


Liara tidak lagi berbicara, kedua matanya terus saja tertuju pada Delila yang terlihat berenang kesana kemari.


"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu." wanita berkaos hitam itu melangkah kembali, namun ekor matanya masih tertuju pada Liara yang sama sekali tidak menggubrisnya.


Tatapannya berubah datar saat menatap orang orang yang tengah asik berenang pagi ini di sungai. Dosen wanita itu membuka sepatunya, kedua kaki telanjangnya perlahan menyentuh air- namun entah terpeleset atau memang disengaja tubuh wanita itu goyah dan menimpa Liara hingga gadis itu terhuyung ke samping.


Liara hampir saja tercebur ke sungai kalau saja tidak ada orang yang menahannya. Kakinya yang baru saja membaik kembali berdenyut karena tidak siap menerima serangan itu.


"Aduh, maaf saya tidak sengaja. Tadi saya menginjak batu, jadi kaki saya agak li-,"


Orang yang tengah memegangi tubuh Liara itu terlihat kaku, dingin dan datar. Kedua mata Elangnya menatap tajam pada wanita yang juga tengah menatap lekat dan tersenyum tipis padanya.


"Maaf, saya tidak sengaja Tuan Pengawal," cetusnya ringan.


Setelah mengatakan itu sang wanita kembali melanjutkan langkahnya. Ekspresinya sedikit membuat Liara heran, wanita itu terkesan santai dan rasa khawatirnya terlihat sengaja di buat buat tidak alami.


"Menjauhlah dari sungai Princess. Kau tidak tahu kan kalau bahaya bisa datang kapan saja!" bisiknya pelan.


Liara yang mendengar bisikan itu hanya menatap heran. Dia tidak bisa mengatakan apa pun sekarang, otaknya sama sekali tidak dapat berpikir dan membalas ucapan orang yang saat ini masih berdiri dibelakangnya, seakan tengah memberikan perlindungan dari hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


Ting!


Suara ponsel berbunyi, Liara kembali menoleh dan menatap ke arah belakang. Dahinya mengernyit saat melihat orang yang ada di dekatnya itu terlihat begitu khusyuk dan serius kala menatap layar ponselnya.


"Siapa?" entah kenapa Liara terlihat penasaran, bahkan gadis itu semakin mendekatkan diri pada mantan ajudannya itu saking penasarannya.


"Siapa sih?" tanyanya lagi.


Lionel menghela napas pelan, ekor matanya menatap lekat pada gadis yang tengah memicing tajam padanya.


"Tidak ada! tetaplah di dekatku Princess. Setelah kita pulang, aku ingin berbicara empat mata dengan mu tanpa gangguan siapa pun!"



KEPOAN IH😂😂



**SOSOR BANG SOSOR


SEE YOU TOMORROW MUUAACHH😘😘**

__ADS_1


__ADS_2