
"Kita mau kemana?"
Klik!
Helm full face terpasang sempurna di kepala Liara, kini gadis itu sudah seperti pembalap yang akan menaklukan jalanan.
"Pakai ini Tuan Putri!"
Lionel tidak menyahut, dia malah memberikan jaket yang di pakainya. Saat ini pria itu sudah kembali memakai kaos putih ketat yang Liara tidak tahu dapat dari mana. Sang Bunga terlihat menurut kali ini, bahkan saat Lionel menuntunnya ke sebuah motor besar yang tidak jauh dari mereka, Liara sama sekali tidak melihat jalanan- kedua matanya terus saja tertuju pada wajah mantan ajudannya.
Perlahan pandangan turun menuju tangannya yang tengah di genggam erat oleh Lionel. Tangan besar dan berotot yang sedari dirinya kecil selalu menjadi tameng di kala dia terluka, dan kini tangan itu kembali menggenggamnya erat seperti dulu.
Namun tidak lama Liara terhenyak kala pria yang membawanya ini tiba tiba saja berhenti, Liara bahkan hampir saja menabrak punggung kekar Lionel kalau saja gadis itu tidak memiliki reflek bagus.
Kedua mata Liara mengerjab, pandangannya mengikuti pergerakan Lionel. Pria itu mendekat ke arah motor sport yang tidak jauh dari mereka, motor yang memiliki warna seperti lukisan anak TK.
Liara sempat mengernyit geli, tapi tiba tiba ingatannya yang sudah hilang entah di telan apa kembali dengan cepat. Kedua matanya membulat, dia dengan cepat menyusul Lionel yang sudah mengendarai motor mejikuhibiniu.
"Ini?" Liara terlihat masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
"Naiklah, kita tidak bisa lama!" Lionel mengulurkan tangannya pada Liara, tapi sang Princess masih tidak bergeming sedikit pun. Kedua matanya masih menatap lekat dan menelisik body motor besar yang tengah di tunggangi oleh mantan ajudannya.
"Jadi ini motor kamu? kamu yang-,"
__ADS_1
"Nanti saja ngomelnya, sekarang kita harus segera pergi!" sela Lionel cepat.
Dia tahu kalau Liara pasti akan mengoceh panjang lebar, dan itu akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Liara mengoceh saja akan memakan waktu lama, belum lagi dirinya merayunya setengah mati agar Sang Princess tidak lagi merajuk.
Semua itu pasti membutuhkan waktu yang cukup banyak, dua atau tiga jam bahkan lebih.
"Kamu harus jelasin semuanya!"
Lionel kembali menghela napas pelan mendengar ucapan Liara, Sang Bunga sedang dalam masa merajuk tapi belum parah, tapi dia yakin kalau sebentar lagi Liara akan sulit untuk di bujuk.
Tanpa berbicara lagi Lionel turun dari motornya, dengan cepat dan mudah dia meraih tubuh Liara dengan satu tangannya. Pria itu menaikan Liara diatas motor layaknya anak anak, sang gadis sempat memberontak tapi Lionel dengan cepat kembali menyalakan motornya dengan kencang sebelum Liara memaksa turun.
Gadis yang ada di belakang tubuhnya reflek menjerit dan memeluk erat tubuhnya, bahkan jeritan Liara tidak mampu terdengar oleh siapa pun saking kencangnya motor yang Lionel tunggangi. Pria itu yakin kalau Liara akan semakin murka saat mereka sampai di tujuan nanti.
🌼
🌸
"Kau sudah mendapatkan informasinya?"
Pria bertopi koboy itu menghirup cerutunya, asap tebal keluar dari mulut serta hidungnya. Tidak lupa tegukan minuman berwarna merah yang tengah dia nikmati semakin menambah kepuasannya.
"Gadis itu ternyata bukan dari keluarga sembarangan. Informasi yang aku dapatkan sangat valid, dia berasal dari salah satu keluarga bangsawan di Dubai. Bagaimana menurut mu, bukankah ini menarik? pantas saja Singa Gurun itu sangat melindungi dan selalu ada dimana pun gadis itu berada. Bahkan orang orang suruhan kita tidak dapat mendekat, apa lagi melukainya."
__ADS_1
Sang rekan menjawab dengan tenang, kedua matanya tertuju pada pria bertopi koboy yang tengah menampilkan seringai kecil.
"Sepertinya buruan kita kali ini cukup menguntungkan. Dari keluarga bangsawan, hm- pasti keluarga itu sangat kaya bukan? menurut mu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
Seringai di bibir pria bertopi koboy itu semakin lebar, bahkan tawa kecilnya terbit kala otaknya dapat mencerna ide brilian dengan baik.
"Aku tahu apa yang ada di dalam otak mu itu. Kita lakukan dengan cantik dan jangan sampai melukai sang berlian, batalkan pemburuan untuk melenyapkannya. Saat ini kita butuh dia secara hidup hidup!"
"Baiklah!" sang rekan bangkit, dia berlalu pergi meninggalkan pria bertopi koboy yang masih menikmati minuman dan cerutunya.
Setelah sang rekan pergi, pria itu menatap dingin ke arah jendela. Rahangnya mengetat, urat urat di tangannya terlihat, dia seperti tengah menahan amarahnya.
"Kau akan tahu bagaimana rasanya kehilangan, Lee!" desisnya tajam.
ITU PUNDAK YANG DI GIGIT LIARA, AKU JUGA PINGIN GIGIT BANG SIMBAAAAAAA
**POSE DULU MUMPUNG MOMMY GAK TAU
SEE YOU MUUUAAACCHH😘😘**
__ADS_1