Guardian Flower

Guardian Flower
Lari Sejauh Mungkin


__ADS_3

Liara berusaha melepaskan belitan tali di pinggangnya saat jarak antara kaki dan sekoci hanya beberapa meter lagi, Liara sudah tidak tahan menahan sakit di bagian tubuh bawahnya. Dia akan lebih memilih melompat ke atas sekoci walaupun rasa takut kian menyelimuti hatinya, dari pada menggelantung di atas udara seperti ini.


Sementara Lionel, dia tengah berusaha mempertahankan posisinya agar tetap di sisi kapal. Dirinya tidak akan membiarkan tali yang ada di pinggangnya terlepas begitu saja dan membiarkan Dahliara terluka di bawah sana.


Tangannya sibuk menangkis beberapa serangan yang di layangkan oleh Scar serta anak buahnya, cukup merepotkan tapi Lionel tidak akan mudah dikalahkan walaupun lawannya tidak seimbang.


'Kemana Tuan Besar? bukannya aku sudah memberi sinyal lewat gelang kaki Liara!' Lionel terus saja mengerutuki mertuanya.


Bukan tanpa alasan saat pria itu menumbalkan Elvier pada Scar, itu karena dia kesal sang mertua tidak kunjung datang membantunya. Setidaknya kalau memang tidak ingin membantunya, tolong pikirkan gadis yang tengah bergelantungan di bawah sana.


"Aku akan membawa Liara pergi kalau sampai Tuan Besar tidak datang juga!" gumamnya pelan.


Lionel mengomel sendiri, tapi kedua tangannya terus bergerak menghalau serangan orang orang yang ingin mencelakainya.


DOR!


Satu tembakan terdengar, Lionel reflek menghentikan tangkisannya dan menatap ke arah Scar yang tengah menodongkan senjata api ke padanya.


"Sudahlah kau menyerah saja. Apa kau akan terus menghindar dari serangan anak buahku, hm? dan membiarkan gadis mu terombang abing di udara-,"


"SIMBAAAAAA AKU UDAH DISINI!"


Ucapan Scar terputus saat teriakan Liara terdengar sayup sayup tapi kedua telinga Lionel masih mampu mendengar dengan jelas.


Pria itu menoleh kebawah, dahinya mengernyit saat melihat Liara tengah melambai ke arahnya diatas sekoci. Gadis itu sudah berhasil turun, dan kini adalah gilirannya.


"TANGKAP GADIS ITU!" raung Scar pada bawahannya saat menyadari kalau Liara sudah berada diatas sekoci dan siap untuk kabur.


Sekoci yang cukup besar membuat gadis itu tidak terlalu sulit untuk menyeimbangkan diri, lima sampai enam orang dewasa bisa menempatinya, maka dari itu saat dia melompat posisi benda itu tidak berubah.

__ADS_1


Lionel yang mendengar teriakan Scar mengumpat kasar, dia segera melepaskan tali yang membelit pinggangnya dan segera melompati besi pembatas, terlebih saat Lionel melihat beberapa bawah Scar sudah bersiap menceburkan diri ke laut untuk menangkap Liara.


Tubuh Lionel meluncur cepat ke bawah, diatas lantai tiga Scar kembali meraung saat dia kehilangan orang yang sudah membuatnya kehilangan segalanya. Pria itu berulang kali melepaskan tembakan ke arah Lionel yang masih meluncur bebas, tapi sayangnya tidak ada satu peluru pun yang mengenainya.


BYUUURRR!


Lionel menghantam lautan, pria itu berusaha naik ke permukaan. Napasnya terengah, kedua kaki serta tangannya bergerak cepat saat kedua matanya melihat sekoci yang tengah Liara naiki mulai dikerumuni oleh para anak buah Scar.


Dia dapat melihat kalau Liara berusaha memukul kepala orang orang itu dengan dayung yang ada di tangannya, tapi sepertinya mereka tidak mau menyerah begitu saja.


"IHHH JANGAN DI PEGANGIN, NANTI KAPALNYA TUMPAH!" Liara memekik kencang saat salah satu dari orang orang yang memburunya sudah berhasil menggapai sisi sekoci.


Gadis itu panik, bahkan saat Lionel melompat ke laut dan sudah mendekat ke arahnya Liara masih belum menyadarinya, dia sibuk dengan para perusuh yang kian membuatnya kerepotan.


BRUUK!


"Simba!" panggilnya.


Liara mendekat ke arah Lionel dan melupakan orang orang yang saat ini kembali datang, sekarang mereka menggunakan kapal yang sama dengan Liara. Lionel segera naik ke atas sekoci, tubuhnya yang basah kuyup tidak membuatnya lemah, dia bergegas menyalakan mesin yang memang sudah tersedia disana.


"Seharusnya kamu nyalakan mesinnya, bukan malah berteriak memanggilku, Princess!"


Lionel sedikit kesal, tadinya dia berharap Liara sudah menjauh dari area ini saat berhasil turun tapi ternyata gadisnya masih berada di sekoci dan malah berteriak memanggilnya.


"Kamu nyuruh aku ninggalin kamu, gitu?" sungut Liara, dia tidak sedang bertanya melainkan memastikan pendengarannya.


Mesin menyala, Lionel segera mengambil alih kemudi dan mengabaikan ucapan Liara yang terdengar kesal setengah mati.


"Simba! jawab, kamu nyuruh aku ka-,"

__ADS_1


"Duduklah, sekarang itu tidak penting lagi." Lionel menyela cepat, pria itu membuka kaosnya yang basah dan menempatkan diri dikemudi.


Deru mesin kian terdengar, sekoci besar atau kapal itu semakin melaju cepat. Lionel memacunya dengan kecepatan penuh, terlebih saat melihat beberapa kapal lain menyusulnya. Dia membawa Liara entah ke arah jalur yang mana, yang jelas sekarang mereka harus bisa kabur dari orang orang itu dan menanti bantuan datang.


Lionel tidak peduli kalau pun harus terombang ambing ditengah lautan, atau terdampar di pulau tak berpenghuni, asalkan dia masih bersama Liara.


"Kamarilah!"


Lionel merentangkan satu tangannya, tapi kedua matanya terus saja tertuju kedepan dan sangat fokus. Ekor matanya melirik pada Liara yang terlihat mulai mabok laut, gadis itu berulang kali menungging kesisi kapal untuk mengeluarkan isi perutnya.


Melihat Lionel merentangkan tangan dan memanggilnya, dia tidak menghilangkan kesempatan itu. Liara bergerak maju dan segera memeluk tubuh atas Lionel yang tak berbusana, memejamkan kedua matanya berusaha menahan gejolak yang mengocok perutnya.


"Kita mau kemana?" tanya Liara pelan.


Disaat mabok lautan saja bibirnya masih cerewet, matanya terpejam tapi suaranya masih bisa terdengar.


"Bulan madu." sahut Lionel ringan.


Sudah tahu mereka sedang kabur, kenapa gadis cantik tapi cerewet ini masih bertanya' kita mau kemana?'


Astaga Lionel gemas dibuatnya.



EKSPRESI BANG SIMBA



GAK APA APA CEREWET JUGA YANG PENTING CANTIK

__ADS_1


__ADS_2