
"Kita dimana?"
Kedua mata Liara mengedar liar saat melihat pemandangan asing didepannya. Sekoci yang dia dan Lionel naiki berhenti secara tiba tiba, masih cukup jauh dari daratan dan tidak tahu mereka sedang ada dimana sekarang.
Byuurr!
Liara terperanjat kaget saat mendengar suara dentuman air, gadis itu reflek menoleh, kedua matanya membesar kala melihat Lionel menceburkan diri ke lautan. Liara bangkit, dia bergerak cepat menuju ke arah belakang sekoci dengan wajah panik, bukan hanya panik tapi juga khawatir.
"SIMBA KAMU DIMA-,"
Pekikan Liara terhenti saat dia melihat pria yang di cemaskannya tengah berpegangan di belakang sekoci. Raut wajah panik yang Liara tunjukan seketika lenyap, berganti dengan ekspresi datar dan kesal.
Jantungnya hampir saja mau lepas dari rongga dadanya karena khawatir, ternyata orang yang dia khawatirkan tengah berenang di belakang sekoci.
"Kenapa selalu berteriak, suami mu ini tidak tuli,bPrincess. Diamlah di atas sana, sekoci ini kehabisan bahan bakar aku harus mendorongnya ketepi pantai, kalau tidak kita akan terus terombang ambing di lautan."
Lionel mulai menggerakan kedua kakinya, sekuat tenaga dia mendorong sekoci ke arah pantai yang masih lumayan cukup jauh. Bersyukurlah gelombang ombak tidak terlalu besar hingga Lionel tidak terlalu kesulitan di buatnya.
Pria itu mengerahkan semua tenaganya demi bisa memindahkan sekoci secepatnya, urat di leher serta lengannya terlihat bermunculan dan itu tidak lepas dari mata Liara. Gadis yang sudah kembali mendudukkan diri di atas sekoci memindai Lionel tanpa henti.
"Aku belum percaya kalo kamu udah nikahin aku setahun yang lalu, kenapa ngomong kayak gitu?" cetus Liara.
Jujur dirinya memang belum percaya, tapi hatinya terus saja mengatakan ' percayalah'. Kembali lagi, bagaimana bisa dirinya percaya kalau Lionel atau siapa pun bahkan kedua orang tuanya tidak memberitahukan apa pun selama ini. Bersyukurlah dia tidak pingsan saat Lionel mengatakan hal itu beberapa waktu yang lalu.
"Kau akan percaya sebentar lagi. Tapi untuk sekarang aku tidak bisa memberikan bukti apa pun, kita harus bermalam disini. Sepertinya badai juga akan segera datang."
__ADS_1
Lionel mempercepat dorongannya, dia sudah menggapai dasar pasir yang artinya pantai tidak jauh lagi dari mereka. Liara yang tadinya terlihat tenang kini mulai kembali panik, kedua matanya menatap ke arah langit.
Awan mulai bergerak tertiup angin, belum terlihat tanda tanda badai atau pun hujan akan datang. Matahari masih menyinari keduanya, cukup terik dan itu berhasil membuat kulitnya sedikit terbakar.
"Gak kelihatan mau ujan." cetusnya tidak percaya.
Liara bangkit, dia mengangkat gamis yang dipakainya agar mempermudah langkahnya. Matanya menatap sisi sekoci, pasir putih kian terlihat- tanpa permisi Liara melompat dari sekoci dan menceburkan diri ke dalam air.
Lionel yang masih berusaha mendorong sedikit terkejut, pria itu mendongak- helaan napasnya terdengar saat melihat Liara sudah turun dan berjalan menuju tepian pantai. Gadis itu mengangkat gamisnya tinggi tinggi, paha putih mulusnya terlihat berkilau di terpa matahari dan air laut.
"Kita mau tidur dimana? diatas pohon?" suara Liara terdengar resah, kedua matanya menatap tempat asing yang terlihat sama sekali belum terjamah.
Apakah tempat ini ada penghuninya? jangan jangan ada satu suku pedalaman yang menghuni tempat ini dan mereka semua pemakan manusia? atau lebih parahnya tidak suka dengan wanita cantik dan lebih menyukai pria tampan seperti orang yang ada di belakangnya sekarang?
Liara menggeleng keras, dia mengigit bibirnya saat otak cantiknya membayangkan banyak wanita suku pedalaman menatap liar penuh hasrat pada Lionel.
Gadis itu kembali berbalik, dia berlari menuju Lionel yang tengah menyandarkan sekoci di sebuah batu karang cukup besar, mengikat benda itu agar tidak hanyut terbawa ombak. Teriakan Liara tidak hanya berhasil membuat Lionel terkejut, tapi juga beberapa burung yang bertengger diatas pohon ikut berterbangan.
"KITA PULANG AJA YA, AKU GAK MAU DISINI!" Liara berucap heboh, dia menarik saku celana Lionel tanpa ampun dari arah belakang.
Matanya memerah, sesekali dia melirik ke arah belakang tubuhnya seperti tengah memindai sesuatu.
"SIMBAAA AKU MAU PULANG!" pekiknya lagi. Pekikan yang terdengar seperti rengekan penuh permohonan, kedua matanya sudah basah dan siap menumpahkan cairan.
Lionel yang tadinya bersikap santai dan tidak ingin menggubris, saat ini terlihat panik. Pria itu berbalik setelah menyelesaaikan pekerjaannya, kedua tangannya menyentuh pipi Liara.
__ADS_1
"Hei, tenanglah! kenapa kau berteriak? apa ada yang melukai kaki mu atau-,"
"Aku mau pulang, aku gak mau disini. Lihat, disana ada banyak cewek pedalaman pulau yang lagi natap ke arah kamu. Mereka suka sama kamu tapi gak suka sama aku! pokoknya aku mau pulang, titik!"
Dahi Lionel berkerut, dia menatap aneh pada Liara yang tiba tiba meracau tidak jelas. Bahkan Liara terlihat seperti orang ketakutan, gadis itu tiba tiba memeluknya dan menangis.
"Tidak ada apa pun disa-,"
"Ada! aku lihat tadi?" selanya cepat.
Lionel tidak bisa berkata apa pun lagi, pria itu menatap sekeliling- tidak ada yang aneh, tapi kenapa Liara bersikap aneh?
"Kau kelelahan, Princess. Sepertinya kau butuh tidur agar aku bisa membuat tempat untuk malam nanti." gumamnya.
Bugh!
Dengan sekali pukul Lionel berhasil membuat Liara tidak sadarkan diri di dalam dekapannya, gadis yang masih menangis itu kehilangan kesadarannya dan akan terlelap beberapa waktu. Cukup untuk Lionel meninggalkannya sejenak, karena dia harus mencari beberapa bahan disekitar pulau untuk membuat tenda dan alas tidur mereka nanti.
"Imajinasi mu terlalu tinggi, Sayang." gumamnya lagi saat dia melihat Liara terlelap didalam gendongannya.
SILUMAN LABA LABAππ
__ADS_1
MOHON MAAP BANG EYKE NGAKAK ππ