Guardian Flower

Guardian Flower
Tegang


__ADS_3

Hujan masih mengguyur deras, suasana perkemahan hening tidak ada satu orang pun yang keluar dari tenda mereka. Para dosen panitia memerintahkan semua peserta untuk beristirahat setelah mengetahui keadaan Liara.


Dan kini hanya ada Delila juga Lionel didalam tenda medis. Delila sudah terlelap disisi Liara, satu tangannya memeluk tubuh sang kakak seolah dia tidak ingin gadis itu beranjak dari sana.


Sementara Lionel, pria berkaos abu abu itu masih belum memejamkan kedua matanya sejak tadi. Dia terus menatap ke arah luar, hembusan asap rokok yang keluar dari mulutnya seakan menandakan kalau pria itu masih belum tenang walaupun dokter mengatakan Liara baik baik saja saat ini.


Sang Bunga terlelap karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter. Jarum infus masih terpasang di punggung tangannya, Liara hanya membutuhkan satu kantung cairan itu lagi sebelum dokter melepasnya.


Helaan napas kasar Lionel terdengar, pria itu beranjak dari kursi lipat yang dia duduki saat ini. Kedua mata Elangnya tertuju pada Liara yang masih enggan tersadar, perlahan dia menyeret kursi itu dan mendekat pada sang gadis.


Lionel menempatkan dirinya di tepian ranjang, kedua matanya masih enggan menjauh dari wajah pucat Liara. Perlahan tangan besar bertatonya itu terulur, membelai lembut wajah cantik sang gadis yang sudah berhasil membuatnya seperti orang gila.


"Kau tetap ceroboh. Aku kira semakin kau dewasa, kau akan menghilangkan sikap bodoh mu itu. Kau tahu, bagaimana nasib mu kalau sampai aku terlambat menemukan mu di tepian sungai, hm?" Lionel menjeda, jari jemari besarnya terus saja meraba permukaan wajah Liara yang memiliki goresan. Mungkin ada ranting atau bebatuan sungai yang berhasil melukai wajah cantik itu.


Bahkan di area lengan dan lututnya, ada luka robek juga lebam merah kebiruan. Liara sepertinya terbentur pada batu atau pepohonan saat terpeleset dan akhirnya jatuh kedalam sungai.


"Kau akan menjadi Putri Duyung di lautan sana. Apa kau tahu kalau sungai itu mengalir langsung ke muara? kau tidak tahu kan. Mungkin nanti julukan mu bukan lagi Princess Dubai, tapi Putri Duyung yang terbawa air bah."


Lionel terus saja mengoceh, dia juga sepertinya tidak menyadari apa yang sedang diucapkannya. Sejak kapan pula dia banyak bicara seperti ini, karena selama ini Lionel jarang berbicara dengan orang lain, terlebih lagi mereka tidak mengenal.


Dahi Liara mengernyit, alisnya mengerut seakan hendak bersatu. Gadis itu seakan merespon ucapan Lionel dari alam bawah sadarnya. Entah apa yang sedang dia rasakan saat ini, yang pasti Liara terlihat tidak senang dengan ucapan yang dilontarkan mantan ajudannya itu.


🌺


🌺

__ADS_1


🌺


Matahari pagi belum menampakan sinarnya, tapi sepasang mata sudah terbuka sejak beberapa menit yang lalu. Tubuhnya masih membatu, rasa pening dan sakit tengah menghantamnya ketika dirinya membuka mata.


Bahkan untuk bergerak saja rasanya tidak mampu. Ditambah lagi dengan adanya tangan yang melingkar di perutnya, tangan kecil yang belum dia ketahui siapa pemiliknya.


"Ssstttt," ringisnya saat dia kembali merasakan denyutan di kepalanya.


Tangannya yang terasa berat itu bergeser pelan, gerakan yang dia lakukan berhasil membuat pria yang tertidur tidak jauh darinya tersadar. Pria itu terlihat menoleh ke arah tempat tidur yang berada didekatnya, dahi serta kedua alisnya mengernyit kala melihat Liara sudah terbangun.


Dengan cepat dia beranjak, kedua kaki kokohnya menghampiri sang gadis yang masih belum menyadari keberadaannya.


"Apa kepala mu pusing?" tanyanya setengah berbisik.


Lionel sama sekali tidak membangunkan atau pun meminta bantuan pada siapa pun. Ekor mata pria itu menatap lekat pada sapu tangan berwarna putih berukiran Bunga Dahlia yang tergolek di dekat kepala Liara.


Dengan cepat dia meraihnya dan memasukan benda itu kedalam saku celana jeansnya.


"Aku kenapa?" lirihnya.


Liara belum membuka kedua matanya, rasa pening di kepalanya membuat dia enggan melakukannya.


"Tidurlah lagi, ini masih pagi. Aku akan meminta sarapan pada rekan mu nanti, aku harus-,"


"Simba," panggilnya pelan.

__ADS_1


Gerakan Lionel terhenti mendengar rintihan itu. Tubuhnya membatu, tangannya mengepal kala ujung kaos yang dia pakai di remas seseorang.


"Aku haus," lirihnya lagi.


Gadis itu berusaha bangkit, dan sedikit meringis saat merasakan denyutan di seluruh tubuhnya. Kedua matanya perlahan terbuka, menatap sayu pada raga besar tinggi yang ada didekatnya.


"Aku akan mengambilkannya!" Lionel segera beranjak, tapi lagi lagi langkahnya terhenti saat tangan Liara masih memegangi kaosnya.


"Muka kamu kenapa tegang kayak gitu, punya salah ya?" cetus Liara dengan raut wajah tidak berdaya.


Sementara Lionel tidak tahu harus berbuat apa. Yang dikatakan gadis itu ada benarnya dia memang punya salah, yaitu sudah menciumnya tanpa izin.


Apa yang akan dilakukan oleh Liara nanti padanya kalau tahu dia sudah- Lionel bahkan tidak bisa membayangkannya. Kedua anak manusia itu sibuk sendiri, hingga tidak menyadari kalau Delila sudah terbangun dan mengintip dari balik tubuh Liara.


'Hm, kayaknya mereka ada something nih? perlu di curigai.' bisiknya dalam hati.



CIIEEEE YANG TEGANG πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚



**TEGANG DIA MUUEEHHHEEHEE


SEE YOU TOMORROW MUUUAAACCHH😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2