Guardian Flower

Guardian Flower
Serangan Dadakan


__ADS_3

Liara berjalan gontai menuruni anak tangga, bukan hanya gontai tapi benar benar gontai dan terlihat tidak bersemangat pagi ini.


Selepas Lionel keluar dari kamarnya dia sama sekali tidak memejamkan kedua matanya, gadis itu terjaga hingga matahari terbit menunggu orang yang katanya akan kembali, tapi nyatanya orang itu sama sekali tidak menunjukan batang lehernya.


Tapi sepertinya Lionel tidak mengatakan hal apa pun sebelum dia pergi? Lalu kenapa Liara merasa pria itu sudah berbuat salah? apa ini hanya akal akalan sang Bunga yang memang tidak rela di tinggalkan oleh mantan ajudannya tadi pagi?


"Pagi Grandpa, Grandma." sapa Liara saat dirinya sampai di ruang makan.


Gentala dan Tiur sudah berada di meja makan. Sepasang suami istri yang sudah tidak lagi muda itu menipiskan bibirnya, tersenyum lembut pada cucunya.


"Gimana tidur kamu? gak ada yang aneh aneh lagi kan? tadi malam balkon udah dikuncikan sebelum tidur, Grandpa gak mau kalo angin sama kucing garong masuk, nanti kamu bisa sakit."


Celetukan Gentala membuat Liara sedikit tersedak susu yang tengah diminumnya, tapi dia berusaha tenang. Ekor matanya melirik Gentala yang terlihat tenang dan santai menikmati sarapannya.


Sedangkan Tiur, wanita sepuh itu hanya tersenyum kala Liara mengarahkan tatapan ke arahnya.


'Apa Grandpa tau sesuatu ya?' batin Liara.


"Aku udah ngunci sebelum tidur kok, Grandpa jangan khawatir, ya udah Ara berangkat dulu ya. Hari ini ada kelas pagi, Delila juga kayaknya gak bisa jemput, katanya dia buru buru ada kelas pagi juga. Dah Grandpa Grandma, Ara berangkat!"


Gadis itu bangkit meraih roti isinya, dia segera memberikan kecupan di pipi kakek serta neneknya dan berjalan cepat menjauh dari ruang makan. Liara tidak lagi menoleh kebelakang saat Tiur kembali memanggilnya untuk sarapan di rumah, tapi gadis itu hanya melambaikan tangan lalu menghilang di telan daun pintu.


Sementara di sebuah apartemen kecil, seorang pria tengah berusaha mengeluarkan proyektil peluru dari bahu kanannya. Helaan napas panjangnya terdengar, saat pisau kecil nan tajam mulai menyayat kulit serta dagingnya.

__ADS_1


Dia mengigit handuk yang sengaja di letakan pada mulutnya sebelum pisau itu mengoyak lengan bertatonya.


Tuk!


Setelah rasa sakit yang amat luar biasa, lalu banyak darah mengalir di lantai kamar mandinya akhirnya peluru itu berhasil dia keluarkan tanpa bantuan siapa pun. Dengan cepat dia membasuh lukanya, menyiramnya dengan alkohol dan membalutnya dengan kasa.


"Haah!" napas kasarnya kembali terdengar, butiran keringat mengalir di dahinya menunjukan betapa tersiksanya dia kala melakukan hal itu.


"Dia benar benar mengincar Liara. Kalau saja aku tidak menghalangi orang itu, mungkin peluru tadi-


FLASHBACK


Lionel segera berlari setelah berhasil menuruni pagar rumah kediaman Gentala. Pria berhoodie hitam itu menggulirkan kedua bola matanya ke setiap penjuru dan akhirnya tertuju pada satu titik.


Sebuah pohon


"Aku menemukan mu, turunlah!"


Suara berat Lionel berhasil membuat orang yang ada di atas pohon itu menunduk. Wajahnya yang tertutup tidak mampu Lionel lihat dengan jelas, terlebih penerangan di dekat pohon itu terlalu minim membuatnya semakin kesulitan.


"Kau salah, aku yang menemukan mu Singa Gurun!" balasnya.


Bibir merah yang ada dibalik penutup wajah itu menyeringai, tanpa peduli dengan Lionel- dia kembali mengarahkan senjatanya ke lokasi yang sama, yaitu kamar Liara.

__ADS_1


Lionel yang ada di bawah hanya bisa mengumpat, dia tidak menyangka kalau orang misterius itu masih berada di area perumahan ini hingga pagi.


Slup!


Bukan tembakan tanpa suara sang penembak jitu yang melutup terlebih dahulu, melainkan sebuah pisau kecil yang Lionel lemparkan tepat di lengan orang misterius itu, hingga membuat pegangannya mengendur.


Sakit yang dia alami semakin menjadi membuatnya terpaksa turun dengan cepat dari atas pohon. Lionel yang melihat itu tersenyum tipis, dia hendak mendekat- namun belum sempat dia mendekat lebih dekat lagi, ada sesuatu yang sudah menembus lengannya.


Langkah Lionel terhenti, pria itu meringis kala merasakan sakit dan panas secara bersamaan di lengannya.


Pria itu menatap lurus, dari jarak yang cukup jauh dia bisa melihat seseorang tengah mengarahkan pistol padanya. Lionel tidak bisa melihat wajah serta bagaimana postur tubuh yang sebenarnya, bahkan sampai kedua orang itu menghilang setelah masuk kedalam mobil.


Lionel mengeratkan rahangnya, kedua matanya menatap mobil yang sudah semakin jauh dari pandangannya.


Dan sekarang Lionel tengah berjuang sendiri menahan rasa sakit yang sudah biasa baginya. Bahkan hampir diseluruh tubuhnya ada bekas luka yang dapat dia tutupi dengan baik, tato tato itulah yang menutupinya.


Pria itu menghadap balkon apartemennya, pikirannya melayang jauh menuju pada seorang gadis yang tengah jauh dari pengawasanya.


"Aku harus menemui seseorang dan memutuskan kontrak kerja yang terlanjur dibuat. Dan sepertinya satu butir berlian ini cukup untuk membayar pinaltinya nanti," Lionel mengeluarkan sebuah benda berkilau yang mampu membuat mata para konglomerat melotot. Sebuah batu berlian indah yang ada ditangannya mampu untuk membeli satu perusahaan besar dan mungkin harga diri seseorang.


"Mari kita lihat, seberapa besar harga diri anak dan Ayah itu!" cetusnya lagi.


__ADS_1


**DEPAN BOSEN KASIH BELAKANGNYA DULU😂😂😂


SEE YOU MUUUAACHH😘😘**


__ADS_2