Guardian Flower

Guardian Flower
Tetap Menjadi Pemenangnya


__ADS_3

Elvier meringis sendiri tidak tahu harus berbuat apa saat melihat Liara meraung, menangisi pria yang saat ini tengah ditangani oleh tim medis yang dibawanya.


Sang Sultan Dubai memijat kepalanya pelan, sudah berulang kali dia membujuk anak gadisnya agar keluar dari ruang tindakan yang tersedia di kapal besar dan mewah yang dia bawa, tapi Liara tetap tidak ingin menjauh satu jengkal pun dari pria itu.


"Kenapa Daddy biarin Simba kayak gini?! kalo dia gak bangun lagi gimana?" raungnya lagi.


Elvier menghela napas kasar, Sang Sultan berbalik- dia menatap Murad dengan tatapan tidak tahu harus bagaimana lagi. Dan Murad pun hanya menggeleng pelan, kedua pria tua itu tidak tahu lagi harus melakukan apa.


"Tenanglah Princess, Tuan Lionel tidak apa apa- aku bisa men-,"


"Apanya yang enggak apa apa! kamu gak liat dadanya bolong kayak gitu!" sentaknya.


Sang Dokter terjengkit kaget, dia menghela napasnya pelan dan berkedip cepat saat mendengar pekikan gadis muda yang tidak jauh darinya. Dokter itu melirik Elvier lewat ekor matanya, dia kembali menghela napas saat melihat Sang Sultan menggeleng dan mengisyaratkan untuk tetap diam.


'Diamlah! kalau kau tidak ingin kena amukannya!' begitulah kira kira.


Dan pada akhirnya mereka yang ada diruang tindakan sepakat untuk menutup mulut rapat rapat. Bahkan disaat Liara terus saja meracau, mengumpat dan menyumpahi orang yang sudah berani membuat Lionel seperti ini, semua orang diam tak bersuara termasuk Elvier.


Mereka membiarkan Liara mengeluarkan semua kekesalan, kecemasan, kekhawatiran yang tengah menyelimuti hatinya lewat ocehan dan tangisan. Anggap saja ocehan yang Sang Princess Albarack gaungkan itu adalah alunan melodi indah sebagai penyemangat para tim medis dalam memberikan pertolongan terbaiknya untuk Sang Singa Tua.


Walaupun pada akhirnya kedua telinga mereka nantinya akan sedikit terganggu dan mungkin tuli untuk beberapa waktu kedepan. Lihatkan betapa dahsyatnya suara Liara hingga mampu membuat mereka tuna rungu sementara.


Operasi pengangkatan benda tajam yang menusuk dada kiri Lionel cukup memakan waktu, para tim medis berusaha mengeluarkan benda tajam dan sedikit bergerigi itu dengan hati hati. Mereka berusaha tidak membuat luka yang dialami pria itu tidak melebar karena gesekan, termasuk pendarahan secara tiba tiba. Karena ini saja Lionel sudah kehilangan banyak darah, mereka berusaha menyumbat aliran darah yang berasal dari luka itu agar berhenti.


Lionel masih belum sadarkan diri, selain obat bius yang dokter berikan- dia juga tidak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah. Dokter berupaya memberi transfusi dan bersyukurlah semua peralatan medis dan penyedia darah tersedia di kapal mewah ini.


Tentu saja karena Elvier sudah sedia payung sebelum hujan. Dia menyiapkan semuanya dari tim medis, ruangan hingga kebutuhan dokter dan pasiennya. Awalnya hanya untuk melengkapi kapal pesiar mewah miliknya agar saat ada kejadian genting semuanya bisa terkendali dengan cepat.


Jam mulai berganti, bukan hanya tim medis yang terlihat lelah tapi juga Elvier dan Murad. Kedua pria itu sudah mendudukkan diri di hospital bad, begitu pula dengan Liara.

__ADS_1


Berjam jam dia menangisi Lionel akhirnya gadis itu kelelahan, Liara tertidur diatas bad hospital yang tidak jauh dari Lionel. Napas gadis itu begitu teratur, wajah sembabnya masih terlihat, kedua kelopak matanya pun juga sembab sedikit membengkak karena terlalu lama menangis.


"Kita keluar! aku akan memindahkannya ke kamar!"


Elvier bangkit, dia mendekat pada Liara setelah memastikan gadis itu tertidur lelap. Tim medis pun terlihat sudah mulai menyelesaikan tugasnya, mereka tengah menjahit luka dibagian luar dan dalam ditubuh Lionel.


Maka dari itu Elvier berinisiatif untuk memindahkan Liara agar tidurnya lebih nyaman dan tidak terganggu.


🦁


🦁


🦁


Semilir angin laut menerpa wajah Liara yang masih terlelap dalam tidurnya, gorden yang menutup balkon di kamar itu bergoyang saat angin laut kian berhembus.


Gadis itu menggeliat, dahinya mengernyit- kelopak matanya berkedut, tidak lama kedua netra itu terbuka dan menatap kesetiap sudut ruangan yang dia tempati saat ini.


Tapi Liara reflek tersentak, kedua matanya terbuka lebar saat dirinya mengingat sesuatu.


"Simba?" gumamnya.


Liara menghempaskan selimutnya, dia segera turun dari tempat tidur dan berlari keluar. Kedua matanya mengedar liar, napasnya terengah dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"SIMBAAA!" panggilnya.


Liara berteriak memanggil Lionel karena dia tidak tahu pria itu ada di ruangan mana sekarang. Baju tidur yang dia gunakan sedikit kebesaran membuat langkah Liara tidak sebebas biasanya.


"DADYYY!" kali ini Liara memanggil Sang Sultan Dubai saat merasa dirinya tidak mendapat sahutan.

__ADS_1


Liara berjalan menyusuri lorong kapal dengan tergesa, kedua matanya terus saja bergerak liar, hingga langkahnya tiba tiba saja memelan saat melihat sebuah ruangan yang hendak dilewatinya.


Liara mendekat, dia mengintip ruangan itu lewat kaca kecil yang terdapat di pintu. Kedua bola matanya membulat saat melihat seseorang yang dikenalnya tengah berbaring diatas tempat tidur.


"Simba!" panggilnya.


Tanpa permisi Liara bergegas membuka pintu. Kedua matanya berkaca kaca saat melihat pria berambut pirang ikal itu sudah membuka kedua matanya, Liara melangkah cepat mendekat ke arah tempat tidur.


Bahkan saking antusias dan tidak sabarannya, Liara tidak menyadari kalau di ruangan itu bukan hanya ada Lionel saja.


"Kamu udah sadar? aku nyariin kamu tau gak. Aku udah manggil kamu, teriak teriak tapi gak ada yang menyahut, Daddy juga aku panggil gak datang datang. Gimana, kamu baik baik aja kan? dada kamu gak apa apa kan? masih sakit ya?" Liara terus saja mengoceh tanpa jeda, bahkan dia tidak memberikan kesempatan untuk pria itu menjawab semua pertanyaannya.


"Simba, kamu gak apa apa kan? kenapa kamu diam aja? ngomong dong, jangan bikin aku khawatir!"


Liara semakin menjadi, dia bahkan hampir menangis saat melihat Lionel terdiam dan hanya menatap kearahnya.


Apa jangan jangan pria ini lupa ingatan gara gara tusukan itu? tapi mana mungkin, kan yang di tusuk dadanya bukan kepalanya.


"Simba, kamu kenapa diam a-,"


"Dadaku sakit, Princess. Bisakah kau memelukku agar sakit itu segera berkurang," lirihnya. Lionel memasang raut wajah lemah dan tak berdayanya. Tanpa diminta dua kali dia segera memeluk tubuh besar Lionel, mendekapnya seakan tidak mau melepaskannya lagi.


Sedangkan Lionel terlihat menyunggingkan senyuman tipis, ekor matanya melirik ke arah seseorang yang tengah duduk di sofa dengan wajah kesal dan jengkel.


'Aku tetap akan menjadi pemenangnya, Ayah mertua.' begitulah kira kira arti tatapan Lionel yang tengah dia tunjukan saat ini.


'Sialan!' decak pria yang tengah menatap kemesraan sepasang sejoli dihadapannya saat ini.


Bisa bisanya Singa Tua itu memanfaatkan kepolosan putrinya, awas saja nanti.

__ADS_1



JAN MACEM MACEM ENTAR KENA TONJOK LO BANGπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2