
Liara tidak dapat berkutik saat dia dan para gadis lainnya di paksa berjalan menyusuri area kapal, mereka dikawal oleh beberapa penjaga. Ekor mata Liara terus saja melirik pada seorang penjaga yang ada didekatnya.
Orang itu memakai masker yang menutupi separuh wajahnya, bukan masker sih sebenarnya tapi sejenis sapu tangan berwarna putih dengan ukiran yang tidak bisa Liara lihat dengan jelas.
"JALAN CEPAT!"
Tubuh Liara sedikit terdorong ke depan, saat salah seorang penjaga yang ada dibelakangnya mendorong seorang gadis yang terlihat kelelahan. Wajah gadis itu sedikit pucat, sepertinya dia sakit atau bahkan mungkin kelaparan.
Liara menghela napas pelan, berbicara soal lapar dirinya juga sudah kelaparan. Pantas saja tubuhnya terasa lemas, ingin rasanya dia memakan sesuatu saat ini.
Kruuukkk!
Tanpa sopan dan memikirkan harga diri pemiliknya, perut sialan milik Liara berbunyi cukup keras. Kedua mata gadis itu mendelik, bola matanya segera beredar liar menatap ke arah orang orang yang tidak jauh darinya.
Liara terlihat menahan napas, dia bersyukur para manusia yang ada disana tidak menoleh atau pun menatap ke arahnya. Mungkin ini hal biasa bagi mereka, karena jatah makan yang dibagikan tidak layak dan sangat memprihatinkan. Liara yang terlihat kembali tenang hanya mengusap perut ratanya dramatis, wajahnya memelas- bahkan dia sampai tidak menyadari kalau ada seseorang yang terus saja menatap ke arahnya setelah perutnya berbunyi tadi.
"Jaga mereka! aku akan segera kembali." salah satu penjaga mendekat pada pria yang berdiri tidak jauh dari Liara. Penjaga itu menepuk pundak rekannya, setelah itu berlalu untuk mengecek sesuatu.
Saat ini hanya tertinggal beberapa penjaga saja, mereka terlihat sedikit berbincang sembari membiarkan para gadis tawanan beristirahat.
Liara yang merasa perutnya lapar berkali kali menghela napasnya, dia terlihat tidak memiliki semangat. Sudah kedua tangannya terikat, perutnya lapar, lalu sekarang entah mau dibawa kemana dirinya.
"Tenanglah, kau akan mendapatkan makananmu nanti,"
Kedua mata sayu Liara sontak membulat saat mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal. Gadis itu reflek menoleh, Liara menatap pada salah satu penjaga yang ternyata sudah berada dibelakang tubuhnya.
Liara hampir saja berteriak saat merasakan tubuhnya ditarik pelan, kata kata yang hendak terlontar kembali tertelan saat kedua telinganya mendengar bisikan orang yang saat ini tengah menahan tubuhnya.
"Jangan lakukan apa pun, bersikaplah seperti biasa. Jangan membuat mereka curiga dan selalu mengawasimu, Princess."
__ADS_1
Kedua mata Liara kian membulat, dia kembali menoleh tapi orang yang ada dibelakang tubuhnya kembali menahannya hingga dirinya tidak berkutik.
"Menurutlah padaku kali ini saja, lakukan!"
"Simba?" bisiknya.
Orang yang ada dibelakangnya itu sama sekali tidak menyahut, tapi gerakan tubuhnya mengiyakan tebakan Liara. Pria itu kembali menatap lurus dan memantau para tawanan yang ada di kapal ini.
Sementara Liara, gadis itu terlihat diam diam melirik pada pria yang masih berada di belakang tubuhnya. Kedua matanya berkaca kaca, ingin rasanya dia memeluk tubuh itu dan menangis sekencang mungkin. Atau bahkan memberikan pukulan dan jambakan kuat demi bisa menyalurkan rasa yang terpendam dalam hatinya.
Rasa kesal, marah, takut serta khawatir kian beradu menjadi satu kesatuan.
"BAWA MASUK MEREKA SEMUA!"
Suara instruksi itu kembali terdengar, Liara yang masih saja enggan mengalihkan pandangannya hanya pasrah saat pria yang dinantikannya dari kemarin menggiringnya.
"Selamat datang diacara pelelangan terbesar tahun ini, aku harap Tuan Tuan bisa mendapatkan sesuatu yang memuaskan kali ini!"
Liara yang tadinya masih belum sadar, kini kembali terkejut. Dia mengerjap pelan saat melihat ruangan yang tengah dia pijak saat ini, ruangan yang di penuhi oleh banyak orang terkhusus para pria.
"I-ini, ini perdagangan-,"
"Manusia, organ dalam dan perbudakan. Mereka ingin menjual kalian pada para cukong kaya raya, bahkan sebelum sampai di tempat tujuan." sela pria yang masih berdiri kokoh di belakang Liara.
Gadis itu menelan salivanya susah payah, tanpa sadar dia semakin mendekat pada pria yang akan menjadi penyelamat hidupnya sekarang. Tangannya meremas seragam ABK yang dipakai oleh pria itu.
"Tenanglah, aku tidak akan membiarkan siapa pun mendapatkanmu. Tetaplah disini, jangan kemana pun karena aku akan segera kembali. Jangan buat dirimu mencolok, bila perlu sembunyi diantara gadis yang bertubuh tinggi, itu gunanya memiliki tubuh kerdil!"
Liara yang tadinya terharu, hampir menangis seketika terjungkal saat mendengar kalimat terakhir yang pria itu lontarkan.
__ADS_1
Apa katanya tadi, kerdil?
Kurang aj-
"Simpan tenagamu untuk nanti, kau boleh memukulku, mencubit, atau bahkan menciumku saat aku berhasil mendapatkan mu. Tunggu aku disalah satu kamar di kapal ini, aku akan segera kembali." bisiknya lagi.
Belum sempat Liara membalas ucapannya, pria yang terlihat tenang dan sama sekali tidak mencurigakan itu sudah menjauh membuat Liara kembali dilanda khawatir.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, ekor matanya terus saja menatap kesetiap sudut. Dan perlahan dia mundur, bola matanya bergulir mencari orang orang yang tubuhnya lebih tinggi darinya.
Sementara di salah satu kursi, pria yang bernama Scar terlihat mengernyit tidak suka kala mendengar laporan salah satu anak buahnya.
"Kau yakin?" tanyanya.
"Yakin Boss, aku yakin dia sudah masuk tapi kami belum mengetahui dimana dia berada sekarang. Bahkan kamera pengintai tidak dapat menemukannya."
Rahang Scar mengeras, pria itu mengepalkan kedua tangannya. Matanya menajam seolah dia adalah predator yang kehilangan mangsanya.
"Cari dia dan bawa kehadapanku segera!" titahnya.
Sang bawahan mengangguk, pria itu bergegas pergi untuk menjalankan perintah. Scar masih terlihat murka walaupun dia berusaha menahannya, disaat pria berwajah sangar itu tidak dalam keadaan baik, justru pria yang dia cari saat ini tengah bersiap memukul pundak seseorang yang baru saja keluar dari toilet, tanpa aba aba dan sangat cepat.
"Tidurlah sebentar, aku akan meminjam semua yang kau miliki untuk bisa mendapatkan gadisku kembali. Hanya sedikit, aku berjanji akan menggantinya kalau kita bertemu lagi, itu pun kalau kau masih terbebas dari hukuman." gumamnya pelan, kedua tangannya begitu lihai melepaskan pakaian yang melekat di tubuh pria yang baru saja dia lumpuhkan.
"Ayo kita bermain, Princess."
BAYANGIN JADI LIARA 🏃🏃🏃🏃
__ADS_1