
Liara semakin dibuat tidak karuan, gadis itu kembali menatap tajam pada Lionel yang sudah merebahkan tubuhnya di atas pembaringan. Kedua mata Lionel terpejam, salah satu tangannya bertumpu di bawah kepala. Liara berdecak dalam hati, dia ingin mengatakan kalau yang ada di dalam kamarnya saat ini bukan lagi kucing garong, melainkan Singa jantan yang nakal.
"Iya, nanti Ara kunci. Selamat malam Grandpa, Ara tidur dulu."
Liara menghela napas pelan setelah tidak lagi mendengar suara Gentala dari luar kamarnya. Gadis itu berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan segera menarik tangan Lionel.
"Bangun! ngapain kamu tidur disini? pulang sana, kalo Grandpa sampai tau kamu bisa-,"
"Tuan Gentala tidak akan tahu kalau kau tidak memberitahunya. Tidurlah Princess, ayo! ini sudah malam. Bukankah kau kuliah besok pagi, jangan sampai kau terlam-,"
"Kamu kenapa sih? kenapa tiba tiba bersikap sok peduli setelah ngilang gitu aja. Kamu tiba tiba datang, terus berlagak sok gak kenal sama aku pas di kampus- sekarang kamu malah bersikap kayak seorang pengawal yang sedang ngelindungin Tuan Putri lemahnya dari sesuatu yang-,"
"Kau masih marah karena aku keluar dari kediaman Albarack? bukankah kau yang terlebih dahulu meninggalkan pengawal mu ini? aku pergi karena aku merasa kau tidak membutuhkanku lagi. Untuk apa aku disana? tidak ada lagi hal yang harus aku lindungi." Lionel bangkit, kedua matanya menatap lekat pada gadis yang juga tengah menatap dalam ke arahnya.
Tatapan kecewa, sedih, rindu, kesal, amarah, semuanya bisa Lionel lihat dari kedua matanya.
"Kau tidak bisa menjawab ku, Tuan Putri? apa ada sesuatu yang kau simpan selama ini? kau menyimpannya hingga sekarang tanpa ingin membaginya dengan-,"
__ADS_1
"Aku mau tidur! kalo kamu mau tetap di sini terserah aku gak peduli!"
Liara menghindar, dia tidak tahu harus menjawab apa sekarang. Dia memang tidak tahu kenapa sampai semarah ini pada Lionel saat mengetahui pria itu malah pergi, bukan menyusulnya ke negara ini.
"Kau masih salah paham dengan perkataan ku dulu, bukan?"
Langkah Liara terhenti, gadis itu menahan napasnya kala Lionel kembali mengungkit hal yang entah kenapa bisa membuat gadis kecil sepertinya dulu tidak menerima ucapan Lionel dengan mantan pelayan rumah Albarack.
"Perkataan yang mana? bukannya kita baru ketemu seka-,"
"Aku memang tidak bisa menyukai mu Princess, karena kita berbeda."
Liara menelan salivanya susah payah, dadanya sesak, napasnya sedikit berat saat Lionel mengatakan hal yang berusaha dia lupakan selama bertahun tahun.
Mereka berbeda
Liara benci perbedaan itu! kenapa harus ada perbedaan?
__ADS_1
"Tapi itu dulu saat aku menjadi pengawal mu. Sekarang aku tidak ada hubungan pekerjaan dengan keluarga Bangsawan Albarack, jadi- bisakah kalau aku menyukai mu, My Flower?"
Tubuh Liara semakin menegang, gadis itu berbalik- kedua matanya menatap tidak percaya pada pria yang tengah mendekat ke arahnya. Lionel terlihat serius, tatapannya dalam dan tidak berekspresi.
Apa seperti ini cara mengungkapkan rasa suka pada seorang gadis? datar sekali.
"Kamu habis minum apa sebelum masuk ke kamar aku? kamu pasti lagi ma-,"
"Apakah aku tidak diperbolehkan untuk menyukai putri bangsawan seperti mu, karena aku hanya seorang mantan pengawal rendahan yang tidak memiliki siapa pun dan nama besar di belakang namanya."
Netra keduanya bertemu, Liara masih membisu dan menatap lekat pada Lionel tanpa berniat untuk menjawab. Tapi tidak lama gadis itu menghela napasnya, tatapannya terlihat serius dan begitu dalam.
"Cuma suka aja? maaf aku gak mau kalo cuma di sukai, karena aku juga kayak gitu sama sesuatu- contohnya kucing, aku suka tapi aku enggak cinta sama dia. Apa kamu paham, Simba?"
**SORRY AKU GAK MAU, SUKA DOANG? SAMA KUCING JUGA AKU SUKA SIMBA, PAHAM!
__ADS_1
SEE YOU TOMORROW MUUAACHH😘😘😘**