
Liara masih panik setengah mati, dia menatap gemas pada pria yang dengan tenangnya duduk diatas tempat tidur. Bahkan sekarang dia bisa melihat pria bertato ular itu merebahkan dirinya di sana.
Astaga!
"Simba!" geramnya.
Kedua kakinya menghentak, raut wajahnya sudah tidak karuan, ingin rasanya Liara mencakar tembok sekarang atau mengigit sesuatu untuk melampiaskan rasa kesal dan paniknya.
"ARA!"
Gentala kembali memanggil, kedua mata Liara teralih- dadanya naik turun, panic attack yang dia alami membuat kedua lututnya melemas. Kalau saja dia tidak kuat mungkin saat ini tubuhnya sudah menabrak ubin akibat tersungkur.
"Simba please jangan gini. Grandpa lagi nekat mau masuk, kalo sampai dia tau kita bisa-,"
"Dinikahkan!" sela Lionel cepat.
Kedua mata pria itu terbuka, Lionel kembali menatap pada Liara yang terlihat semakin panik dan kesal. Pria itu menghela napas pelan, dia bangkit melangkahkan kedua kaki kokohnya pada Liara.
"Lebih parah dari itu. Bisa aja Grandpa mukulin kamu, nyeret kamu ke kantor lurah atau polisi. Bisa jadi di arak keliling komplek, rambut singa kamu di botakin, badan kekar kamu di-,"
"Sstttt- tarik napas, keluarkan perlahan. Kau terlalu panik Princess, sekarang pejamkan kedua matamu. Rileks kan pikiran serta hatimu, tidak akan ada hal buruk apa pun yang terjadi padaku atau pun padamu,"
Lionel dengan lembut menangkub kedua pipi Liara, mata Elangnya menatap tajam pada gadis yang masih terengah karena panik. Bahkan Lionel dapat merasakan tubuh Liara begitu dingin, ini adalah salah satu kebiasaan Sang Princess ketika panik.
__ADS_1
"Pejamkan kedua matamu, ayo!" titah Lionel lagi.
Pria itu semakin mendekatkan wajahnya pada Liara. Dan itu bukan malah membuat Sang Bunga Albarack memejamkan kedua matanya, tapi semakin melebarkan kedua biji matanya.
Terlebih saat ujung hidung mereka berdua bersentuhan, napas hangat Lionel dapat Liara rasakan dengan jelas. Bahkan saat pria itu memiringkan kepalanya Liara tetap diam, dia seakan membiarkan Sang Singa Tua mengambil semua kesadarannya sebelum-
BRAAKK!
Suara dobrakan pintu membuat Liara menoleh, jantungnya semakin berdegub kencang saat melihat pintu kamarnya semakin bisa dibuka oleh Gentala dari luar.
"Simba kamu harus per- Simba!" Liara terkejut setengah mati saat tidak mendapati pria yang hendak menciumnya tadi.
Kamarnya kosong, mata gadis itu tertuju ke arah balkon yang terbuka sedikit. Liara mende**sah pelan, lututnya semakin lemas, keringat dingin kian mengalir dari pelipis dan punggungnya.
Kenapa mantan ajudannya itu bisa bergerak secepat kilat? bahkan dirinya saja tidak menyadari kalau Lionel sudah tidak ada di dekatnya. Apa mungkin selama pria itu menghilang dan berkelana di alam liar, Lionel mengikuti perguruan ninja hatori?
Brak!
Pintu berhasil dibuka, Liara terkejut bukan main. Kedua matanya terbuka lebar, mulutnya semakin menganga saat melihat Gentala masuk membawa sebuah raket nyamuk ditangannya, jangan lupa Mang Usman satpam kediaman Gentala Prayoga yang membawa papan catur dan raket badminton.
"Mana tikusnya?! cari Mang jangan sampe ilang. Biar kita umpanin buat si Kojek!" pria tua itu kembali bersuara, Gentala menyisir setiap sudut kamar cucunya tanpa terlewat sedikit pun.
Kedua matanya mengedar liar, sesekali Gentala menyalakan raket nyamuknya saat merasa ada hewan itu di dekatnya. Kedua pria tua itu terlihat sibuk sendiri, bahkan Mang Usman sudah merangkak di bawah ranjang untuk melihat kolongnya.
__ADS_1
"Kosong Tuan! tikusnya udah gak ada kayaknya dia-,"
"Kampret! tuh tikus pasti udah kabur. TUTUP PINTU GERBANG, NYALAIN LAMPU SOROT. POKOKNYA JANGAN SAMPE LEPAS APA LAGI KABUR, dia harus aku tabok dulu pake raket nyamuk!"
"SIAP!" sahut Mang Usman.
Pria itu segera bangkit dan keluar dari kamar cucu majikannya setelah Gentala berteriak kencang, dan kini pria itu terlihat bertolak pinggang dengan raut wajah kesal. Kedua matanya teralih pada balkon kamar.
Dahinya mengernyit, matanya menyipit saat melihat gerakan gorden. Salah satu sudut bibirnya terangkat kala mendapatkan bukti kuat diarea itu.
"Oh jadi sekarang si tikus mau berubah jadi siluman cicak." gumamnya.
Gentala berbalik, dia melewati Liara yang sudah duduk bersila diatas tempat tidurnya begitu saja. Namun saat Gentala hendak sampai di ambang pintu, pria itu menoleh pada sang cucu.
"Udah Grandpa bilang kunci balkonnya! besok Grandpa gembok biar aman!" cetusnya lagi.
Setelah mengatakan hal itu sang Grandpa berlalu pergi sembari membawa raket nyamuk, meninggalkan Liara yang semakin melemas. Entah apa yang di ketahui oleh Grandpanya Liara pun tidak tahu, pria tua itu selalu aneh dan ambigu.
Sementara di bawah sana, seorang pria bertudung tengah bersembunyi di antara pot pot besar dan tanaman semak. Dia mengumpat kesal dalam hati saat melihat kediaman Gentala Prayoga terang benderang bagaikan siang, hingga membuat langkahnya terbatas bahkan tidak dapat kemana pun.
"CARI SAMPE DAPAT! KALO DAPAT KITA BOTAKIN SAMPE GAK PUNYA BULU!" suara teriakan sang Tuan rumah kian mendekat, dan itu membuat si pria berciuman dengan rumput dan tanah.
Kalau saja dia ingin melihat Liara panik, mungkin tidak akan pergi. Dirinya akan membiarkan Gentala Prayoga memergokinya di dalam kamar Sang Princess. Tapi itu bukan sikap gentleman seorang pria, dia ingin hubungan baik karena hati bukan karena gerebekan.
__ADS_1
SANTAI AJE BRAY